Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 39


__ADS_3

Keesokan harinya


Hari ini Aku sudah menantikan istriku di rumah sakit. Biasanya dia akan datang dan memeriksa kondisi ibu. Namun sejak pagi hingga siang Aku tak melihatnya datang ke ruangan ibu.


Aku mulai gelisah, takut dan begitu cemas. Aku takut dia lari lagi dariku. Belum sempat ku jelaskan semuanya kepadanya.


Bodohnya Aku sempat bertanya di mana dia tinggal sekarang.


Perawat datang untuk mengecek kondisi ibuku. Aku lega karena semakin hari kondisinya semakin membaik. Ketika perawat hendak keluar dari ruangan ibu, Aku menghentikannya. Aku ingin menanyakan perihal istriku yang biasanya menangani ibu, kenapa sampai sekarang belum datang.


Jawaban perawat membuatku begitu terkejut. Dia mengatakan jika Dokter Anggi sedang mengambil cuti tahunannya. Benar dugaanku. Sepertinya istriku masih salah paham padaku. Ku coba bertanya di mana tempat tinggal istriku. Akhirnya Aku mendapatkan alamatnya.


Aku menitipkan ibu kepada beberapa perawat di sana sebelum Gerad datang. Aku sudah menghubungi asisten ku itu.


Ku putuskan untuk ke alamat yang perawat tadi berikan padaku. Rasanya Aku sudah tidak sabar lagi untuk menjelaskan segalanya agar istriku tak menghindariku lagi.


Sesampainya di alamat tersebut, Aku langsung berlari kecil, tak sabar lagi untuk bertemu dengan istriku. Aku pun juga ingin bertemu dengan anakku.

__ADS_1


Ku ketuk pintu rumah itu. Namun beberapa kali Aku mengetuknya, tak ada sahutan maupun tanda-tanda ada seseorang di rumah ini. Ku lihat mobil yang biasanya di kendarai istriku juga tak ada. Sepertinya hari ini memang bukan hari keberuntungan ku.


Aku pun kembali ke dalam mobilku. Ku putuskan untuk ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah untuk anakku. Aku akan datang lagi nanti.


Sesampainya di sebuah mall, Aku langsung pergi ke toko mainan. Karena Aku tidak tahu apakah anakku perempuan atau laki-laki, Aku akan membeli mainan untuk keduanya.


Di sela langkahku, Aku melewati sebuah tempat bermain anak-anak. Ku lihat beberapa anak bermain dengan tertawa. Aku pun ikut mengulum senyum. Membayangkan jika anakku bermain di sana pasti dia akan sangat senang.


Namun tak sengaja ku melihat seorang gadis kecil yang sedang terjatuh dan menangis. Ku lihat dia sendirian, tak ada yang menolong gadis kecil itu. Sungguh kasihan sekali dia.


Aku berjalan mendekatinya. Ku gendong tubuh mungilnya dan ku usap air matanya. Ku coba untuk memenangkannya agar tak menangis lagi.


Gadis kecil itu sudah berhenti menangis. Kini dia menatapku dengan begitu lucunya. Aku langsung teringat dengan istriku ketika menatap gadis kecil itu. Sama-sama menggemaskan. Jika saja Aku memiliki putri selucu dia ....


Ah, rupanya Aku terlalu mengandai-andai.


"Tidak apa-apa, Paman. Chaki mau Mama," ucapnya.

__ADS_1


Aku tidak tahu siapa Mamanya. Aku pun bertanya padanya apakah Mamanya ada di sini, namun dia menggeleng.


"Mama tadi ke cana, Chaki halus nungguin Mama," ucapnya lagi.


Aku pun mengangguk mengerti. Mungkin mamanya sedang berbelanja. Lalu ku tawarkan untuk membeli ice cream padanya. Dan dia terlihat begitu antusias.


Kami pun akhirnya membeli ice cream. Dia memakannya dengan begitu lucu. Bibir yang belepotan. Kenapa setiap kali Aku menatap gadis kecil ini, Aku selalu teringat dengan istriku?


Setelah menghabiskan ice cream, Aku kembali mengajaknya ke tempat bermain tadi. Dadaku berdesir ketika menggendongnya. Rasanya Aku seperti Papanya saja.


Di sela langkahku, gadis kecil dalam gendongan ku. Berteriak memanggil Mamanya. Sepertinya Mamanya ada di di depan sana. Aku pun melangkah cepat.


Ku lihat dari kejauhan sosok gadis yang begitu familiar. Jantungku kembali terpompa cepat. Pikiranku menerka-nerka tentang apa yang ku lihat saat ini.


Gadis di depan sana adalah istriku. Dia berjalan cepat menghampiri ku. Aku bahkan sampai terbengong ketika tiba-tiba dia merebut gadis kecil yang ku gendong.


Otakku seperti berhenti bekerja. Mungkinkah praduga ku benar?

__ADS_1


"Darimana saja kamu, Nak? Mama hampir gila mencari mu." Istriku mengecupi wajah gadis kecil itu. Sementara Aku masih terpaku. Hingga ku dengar dia berseru kepadaku.


__ADS_2