Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 8


__ADS_3

Marcell tak membiarkan Anggi menyetir mobilnya. Dia tak ingin membahayakan istri dan calon anaknya.


Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat yang Anggi inginkan. Untungnya, kedai itu belum tutup. Karena memang jam bukanya terbilang malam. Pukul 22.00 malam.


Mereka turun dari mobil. Anggi yang sudah tak sabar ingin mencicipi martabak tersebut pun berjalan cepat mendahului Marcell. Sementara Marcel yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.


"Pelan-pelan Kak." Marcell memperingatkan.


"Bang, mau martabaknya yang jumbo satu ya? Jangan lupa kejunya yang banyak," ucap Anggi yang langsung duduk di meja pembeli.


Marcell langsung duduk menghampiri Anggi yang saat ini terlihat begitu sumringah. Sepertinya ngidamnya akan terwujud sebentar lagi.


"Kamu mau nggak Cell? Biar Aku pesankan buat kamu." tawar Anggi.


"Tidak Kak. Kakak saja yang pesan. Marcell Mau teh panas saja kalau ada."


"Oh, oke."


"Bang, sama teh panasnya dua ya?"


"Siap Neng," jawab sang penjual.


"Kak Anggi sering kesini?" tanya Marcell.


"Ya, dulu Aku selalu ikut Papa ke luar kota untuk pekerjaannya. Dan pulangnya, Papa selalu mengajakku mampir kesini."


Marcell mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Tak lama pesanan Anggi pun siap di hidangkan di depannya. Bau harum semerbak martabak favoritnya membuat Anggi cepat-cepat mencicipinya.


"Neng Anggi datang sama siapa, adiknya ya?" tanya penjual martabak yang sudah hapal betul dengan Anggi.


"Saya sua--"


"Saudara Anggi, Bang." jawab Anggi cepat memotong ucapan Marcell.


"Oh, pantesan. Neng Anggi cantik dan saudaranya tampan. Bang Asep kira pacarnya," ucap Bang Asep terkekeh.


Setelah menaruh pesanan Anggi, Bang Asep langsung kembali.

__ADS_1


"Loh Kak, kenapa malah bilang kalau Marcell saudara Kak Anggi sih?"


"Maaf Cell, masa iya Aku bilang kamu suamiku, pasti nanti langsung bocor ke teman-teman kakak. Aku belum siap mengatakan kepada mereka kalau Aku sudah menikah, apalagi dengan anak SMA."


Marcell terdiam mendengar ucapan Anggi.


Marcell tahu ini tak mudah untuk mereka kedepannya. Tapi pria itu akan mencoba untuk mengerti.


"Kamu mau Cell?" tanya Anggi saat melihat Marcell terdiam.


Marcell menggeleng dan tersenyum. "Kakak aja yang makan. Sepertinya calon debay sudah sangat menginginkannya. Lihat itu Kak Anggi sampai ileran," goda Marcell.


Mendengarnya, Anggi mengelap sekitar bibirnya. Dan kini dia tahu, jika Marcell hanya menggodanya saja.


"Ih, Kamu bohongin Aku ya Cell? Awas kamu nanti ya. Nanti Aku kerjain juga," ucap Anggi sebelum melahap martabak keju yang begitu menggoda lidahnya.


Sementara Marcell hanya terkekeh. Melihat Anggi yang makan begitu lahapnya, membuatnya tersenyum kecil. Sesekali Marcell juga mengelap bibir Anggi yang belepotan.


"Uhh... Kenyangnya...." Anggi merasa benar-benar kenyang saat ini.


Pesanan martabak jumbonya habis sendiri oleh Anggi.


"Kak Anggi mau apa lagi? Mumpung sekarang kita masih di luar," tanya Marcell.


"Yasudah, kalau begitu Marcell bayar dulu." Marcell hendak beranjak.


"Biar Aku saja Cell. Kan Aku yang pengen makan martabak."


Marcell menggeleng. "Kak Anggi sudah menjadi tanggung jawab Marcell. Jadi untuk semua keperluan Kak Anggi, itu sudah menjadi tanggung jawab Marcell."


Setelah mengatakan hal itu, Marcel langsung bergegas menuju ke Bang Asep untuk membayar pesanan Anggi.


Sementara Anggi tersenyum menatap suami remajanya itu yang berpikir begitu dewasa.


"Siapapun wanita yang mendapatkanmu, pasti akan sangat bahagia Cell." gumam Anggi.


***


Sesampainya di rumah, mereka kembali tidur di kamar mereka.

__ADS_1


Mungkin karena sudah mengantuk, Marcell langsung tertidur.


Sementara Anggi masih belum juga bisa memejamkan matanya. Dia menatap wajah tampan Marcell saat tidur.


Bibirnya menyunggingkan senyum. Tiba-tiba saja dia ingin tidur di peluk oleh Marcell.


"Aihh... Apa-apaan sih Aku ini. Bagaimana bisa Aku berpikir seperti itu? Tadi kan Aku sendiri yang mengatakan jika tidak boleh saling menyentuh.


Anggi pun membelakangi Marcell. Namun setelah beberapa menit, dia masih belum bisa tidur juga.


Anggi memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Namun rasa ingin di peluk Marcell semakin menyeruak. Rasanya dia ingin menangis saja saat ini.


Merasakan tempat tidurnya terus bergerak-gerak, Marcell jadi terbangun kembali. Dia melihat Anggi yang masih belum tertidur.


"Kakak kenapa?" tanya Marcell.


Anggi mendongak. Dia malu jika mengatakan ingin sekali Marcell peluk.


"Eumm...itu...anu... Itu Cell."


"Apa Kak? Kakak menginginkan sesuatu lagi?"


Anggi mengangguk.


"Kakak mau apa, biar Marcell belikan buat Kak Anggi." Marcell mulai duduk dari tempat tidurnya.


Anggi menggeleng, membuat Marcell jadi kebingungan.


"Aku mau Marcell peluk kakak," ucap Anggi begitu lirih, namun masih terdengar oleh telinga Marcell.


Marcell tersenyum, lalu dia pun kembali berbaring dan menarik Anggi masuk kedalam pelukannya.


Anggi terkejut. Jantungnya berdetak begitu cepat. Hangat, itu yang dia rasakan. Dan itu sangat membuatnya nyaman.


Marcell membalikkan tubuh Anggi menghadapnya. "Kak, jangan pernah ragu mengatakan apa yang kak Anggi inginkan."


Anggi tercekat. Wajah mereka begitu dekat. Namun tatapan mata Anggi terus saja mengarah pada bibir Marcell. Berbagai pikiran liar menari-nari di benaknya. Dia tak mengerti mengapa dia menjadi sebinal ini.


Tiba-tiba, Marcell mencium bibir Anggi dengan begitu lembut. Membuat Anggi terdiam sejenak.

__ADS_1


Bak berjalan di Padang pasir dan menemukan sebuah oase, Anggi menerima setiap pagutan bibir yang Marcell berikan. Jujur, Anggi sangat menikmatinya.


***


__ADS_2