Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 24


__ADS_3

Tak lama kedatangan Karin dan Sena membuatku merasa sedikit tenang. Aku menceritakan semuanya pada mereka.


Mereka terlihat sangat marah. Dan semua kemarahan itu di tujukan pada Marcell.


"Jadi selama ini Marcell bukan sepupu kamu? Dia suamimu?" Sena bertanya dengan tatapan tak percaya.


Aku seperti ingin menghilang saja. Aku malu. Aku sudah bersalah membohongi mereka selama ini. Mereka pasti sangat ilfil padaku.


Namun ternyata dugaan ku salah. Mereka memeluk ku dengan erat. Air mataku tak dapat ku bendung lagi. Beruntungnya Aku memiliki sahabat seperti mereka.


Dia saat Aku terpuruk seperti ini, mereka merangkul ku.


Ku tumpahkan semua perasaan hatiku pada kedua sahabat ku ini. Setidaknya beban berat yang membelenggu ku sedikit berkurang dengan menceritakan semuanya kepada mereka.


"Kalau begitu Aku akan membawamu ke London, Nggie. Papa menyuruh ku untuk melanjutkan perusahaan yang ada di sana. Kita bisa memulai hidup baru di sana."


Aku melepaskan pelukan ku dan menatap ke arah Karin. Aku pun mengangguk menyetujuinya. Aku memang ingin menjauh sejauh-jauhnya dari Marcell. Aku ingin memulai semuanya hanya dengan calon anakku.


Sepertinya Tuhan mudahkan jalanku kali ini. Aku pun segera pergi bersama Karin dan Sena. Meninggalkan rumah kontrakan yang begitu banyak kenangan antara Aku dan Marcell.

__ADS_1


'Selamat tinggal Marcell. Semoga Kamu bahagia dengan istri barumu, dan semoga kita tak pernah bertemu lagi.'


***


Kini Aku tengah berada di dalam pesawat menuju London. Setelah tadi Sena mengantar Aku dan Karin ke bandara, kami saling berpelukan. Sena menangis. Karena mungkin Aku tidak akan lagi menginjakkan kakiku di kota ini.


Kota dengan sejuta kenangan manis, namun juga begitu pahit dan menyakitkan di ujungnya. Pun begitu, Sena mengatakan akan mengunjungi kami nanti.


Sekarang yang ku pikirkan adalah masa depan calon anakku nanti. Aku juga sudah mempersiapkan lamaran kerja di Royal Victoria Hospital. Aku ingin mengembangkan profesi ku yang sempat tertunda.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Aku dan Karin sampai. Karin mengajakku tinggal di apartemennya. Untuk sementara sebelum mengajukan lamaranku di Royal Victoria Hospital, Aku memutuskan untuk membantu Karin mengembangkan perusahaan milik keluarganya. Aku juga sedikit bisa dalam bidang bisnis.


Aku hanya tersenyum menanggapi Karin yang setiap hari selalu cerewet menasihati ku. Sebenarnya dia melarang ku untuk membantunya karena takut berimbas pada janinku. Namun Aku harus tahu diri. Karin sudah menolong ku dari keterpurukan ku. Dan bantuan ku ini hanya sebagai bentuk kecil saja.


"Aku tidak capek kok Rin. Jangan khawatir, baby Aku sangat kuat. Dia seolah tahu bagaimana yang di lalui Mamanya." Aku kembali murung kembali teringat pada sosok Papa dari janinku.


Seolah tahu yang ku rasakan, Karin memelukku. "Jangan pernah merasa jika Kamu hanya sendiri. Ada Aku yang akan selalu menjaga kalian." Karin berusaha menenangkan ku.


"Eh iya. Tentang lamaran kerjamu tempo hari di salah satu rumah sakit, apa sudah ada hasil?" tanya Karin.

__ADS_1


Aku hanya mengedikkan bahu ku. "Kalau pun Aku tak di terima. Aku masih bisa mengirimkan lamaran ke rumah sakit lainnya. Dan tentunya Aku masih akan menemani mu di kantor mu, Rin."


"Aku akan sangat senang jika kamu bisa terus menemani dan membantuku di kantor Nggie. Tapi Aku tahu jika dari dulu impian mu adalah menjadi seorang dokter. Dan Aku tidak ingin menghilangkan impian mu dengan membuatmu terus bekerja di kantor ku."


Aku hanya tersenyum. Ku langkahkan kaki ku untuk mengambil beberapa surat dari kantor pos yang belum ku lihat tadi.


Siapa tahu Surat lamaran ku di terima.


Dan benar saja. Ada sebuah amplop berlabel dari Royal Victoria Hospital. Dengan terburu-buru Aku membukanya. Yes! Akhirnya lamaran ku di terima. Aku langsung memperlihatkan surat itu pada Karin. Tatapannya berbinar ikut merasa senang.


"Selamat ya, Nggie." Karin memelukku.


"Tapi masih ada test yang Aku jalani nanti. Ku harap Aku bisa melewatinya," ucapku. Karin terus memberikan ku semangat.


Kini Aku semakin bersemangat. Akan ku lewati tahap demi tahap kehidupan ini bersama calon anakku. Akan ku pastikan kehidupan ku dan anakku nanti akan bahagia, walaupun itu tanpamu. Marcell.


***


Mohon maaf semuanya. Kalau jadi, karya ini tidak akan othor lanjut lg. Karena rencana karya ini mau othor pindah. Jadi jika tiba-tiba karya ini menghilang, jangan kaget yak 😁

__ADS_1


__ADS_2