
Malam harinya...
Anggi dan Marcell saat ini tidur dalam satu tempat tidur yang sama. Mereka memutuskan untuk memberi jarak guling di tengah-tengah mereka.
Keduanya masih membuka mata. Entah mengapa mata mereka sulit untuk terpejam.
Mungkin saja itu terjadi karena mereka belum terbiasa tidur dalam satu ranjang yang sama. Karena biasanya keduanya selalu tidur sendirian.
"Kak Anggi," panggil Marcell.
"Kenapa Cell?"
"Kukira Kakak sudah tidur."
"Aku tidak bisa tidur Cell. Kau sendiri kenapa juga belum tidur?" tanya balik Anggi.
"Alasanku sama dengan Kak Anggi. Oh iya Kak, nanti kalau Marcell khilaf gimana Kak?" Marcell sedikit melirik ke arah Anggi. Keduanya saat ini sama-sama tidur dengan menatap langit-langit kamar kontrakan yang tak lebar itu.
Mendengar ucapan Marcell, Anggi langsung bergegas menyelimuti tubuhnya hingga kepalanya saja yang terlihat.
"Ya jangan sampai khilaf dong Cell. Kamu tahu sendiri kan, kalau kita tidak saling mencintai?"
"Tapi buktinya waktu dulu kita melakukannya, kita tidak perlu menggunakan cinta. Dan bukankah akhirnya kita juga melakukannya hal itu Kak?"
Anggi mulai tak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Dia takut jika mereka sampai melakukan hubungan intim lagi.
Anggi tidak ingin melakukannya karena tak ada cinta di antara mereka. Dan untuk kejadian lalu, Itu adalah sebuah pengecualian.
"Sudahlah Cell, jangan bahas itu lagi. Anggaplah itu adalah sebuah kekhilafan kita."
Marcell sedikit kecewa. Sejujurnya dia tak pernah bisa melupakan malam panas yang mereka lalui kala itu.
"Oh, baiklah."
Keduanya kini terdiam. Hening kembali untuk beberapa saat sebelum Anggi melontarkan pertanyaannya kepada Marcell.
"Boleh Aku bertanya Cell?"
Marcell memejamkan matanya. Namun dia tak tidur dan masih menjawab Anggi.
"Apa yang ingin Kak Anggi tanyakan?"
__ADS_1
"Apa Kamu punya seseorang yang Kamu cintai?"
Pertanyaan Anggi sontak membuat Marcell membuka matanya. Dia memiringkan tubuhnya menatap gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Apa jawaban dari ku begitu penting, Kak?"
"Tentu saja. Aku hanya ingin tahu siapa gadis yang Kau cintai."
Marcell menatap wajah cantik yang masih menatap ke langit-langit. Lalu dia pun menyunggingkan senyumnya.
"Dulu Marcell pernah mencintai seorang gadis. Tapi itu dulu ketika Marcell masih kecil. Bisa di bilang cinta monyet. Kami bahkan sempat menjalin hubungan yang orang-orang sebut dengan nama pacaran. Tapi pacaran yang kami lakukan hanya sekedar berpegangan tangan. Dan itu saja sudah membuat kami senang. Bahkan dulu Aku pernah mengatakan jika Aku akan menikahinya. Namun jodoh siapa yang tahu. Buktinya sekarang Marcell malah menikahi kakak." Marcell terkekeh kecil.
Namun berbeda dengan Anggi. Gadis itu malah merasa sudah merusak rencana masa depan Marcell yang akan menikahi gadis itu.
"Lalu dimana dia Cell? Maafkan Aku ya Cell. Aku sudah merusak rencana masa depan mu yang hendak menikahinya."
Anggi langsung menatap ke arah Marcell yang saat ini juga menatapnya. Marcell begitu gemas melihat ekspresi wajah Anggi saat ini. Sungguh begitu menggemaskan menurutnya.
Walaupun usia Anggi lebih tua dari Marcell, tapi wajah cantik dan imut Anggi membuat orang-orang mengira jika mereka seumuran.
"Kenapa Kakak malah minta maaf? Bukankah kakak adalah istri sah ku? Lagipula dia juga sudah pergi kok kak. Orang tuanya membawanya pindah ke luar negeri. Jadi yaudah, kita berpisah." ucap Marcell dengan biasa saja.
"Kalau Kak Anggi sendiri, Apa kakak juga sudah punya seseorang yang Kak Anggi cintai?" tanya Marcell.
"Kalau begitu kenapa waktu itu Kak Anggi mau dekat-dekat dengan Marcell. Kak Anggi juga tidak menolak saat Marcell menyentuh Kak Anggi," ucap Marcell membuat Anggi terdiam.
"Ah sudahlah Cell. Sebaiknya kita tidur. Bukankah besok Kau ada pertandingan basket?" Anggi memberi alasan agar pertanyaan Marcell tak kembali menjalar kemana-mana.
Marcell tahu jika Anggi hanya mencari alasan saja. Tapi Marcell tersenyum melihat tingkah lucu Anggi.
"Kak, besok bisa datang ke pertandingan ku kan? Aku sangat butuh dukungan dari kakak."
"Baiklah, nanti Aku akan datang."
Marcell tersenyum lebar. Membayangkan Anggi datang akan menjadi penyemangat tersendiri baginya.
***
Pukul dua dini hari, Anggi terbangun dari tidurnya. Gadis itu tiba-tiba ingin makan sesuatu. Namun yang diinginkannya adalah martabak yang ada di dekat kampusnya.
"Kenapa tiba-tiba Aku ingin makan itu?" gumamnya. Bahkan kini air liurnya hampir menetes hanya dengan membayangkannya.
__ADS_1
Anggi menoleh ke arah Marcell yang tertidur sangat pulas. Lalu dia melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
"Masih ada satu jam sebelum kedai itu tutup. Tapi...."
Anggi kembali menatap Marcell yang masih tertidur pulas. Rasanya dia sudah sangat menginginkan makanan itu.
Anggi mengambil guling pembatas mereka dan langsung menggoyangkan tubuh Marcell agar terbangun.
"Cell... Bangun... Marcell...!"
Samar-samar mendengar seseorang memanggilnya, Marcell sedikit membuka matanya.
"Hemm...." Hanya itu yang keluar dari bibir Marcell. Kemudian matanya kembali terpejam.
"Cell... Ayo bangun... Aku ingin makan martabak sekarang juga... Cell...." Anggi terus menggoyangkan lengan Marcell. Namun pria itu sulit sekali membuka matanya.
"Hemmm...." Lagi-lagi suara itu yang keluar dari bibir Marcell.
Karena merasa kesal, Anggi keluar dari kamar tersebut dengan menutup pintu sedikit keras. Gadis itu memutuskan untuk membeli sendiri apa yang dia inginkan.
Dia mengesampingkan rasa takutnya demi bisa mendapatkan yang dia inginkan.
Anggi sudah memakai jaketnya dan mencepol rambutnya. Ketika ia memegang gagang pintu, sebuah tangan menghentikannya.
Anggi menoleh ke arah tubuh seorang pria yang kini menjadi suaminya. Marcell berdiri tepat di sampingnya.
"Mau kemana? Biar Aku yang mengantarmu," ucap Marcell lembut.
Namun Anggi malah mengerucutkan bibirnya. Dia masih kesal karena tadi Marcell tak bangun ketika dia membangunkannya. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari tatapan Marcell.
Perlahan Marcell pun meraih tangan Anggi menggenggamnya erat.
"Kak, maafin Marcell ya? Ini adalah pertama kalinya Marcell menjadi seorang Suami dan calon ayah. Jadi Marcell belum terbiasa. Jadi di sini kita sama-sama belajar ya Kak? Marcell akan berusaha lebih keras lagi menjadi seorang suami dan calon ayah yang baik." ucap Marcell.
Pria itu menatap Anggi dengan tatapan begitu dalam. Membuat Anggi jadi merasa bersalah. Dia sadar di sini dia yang selalu bertingkah seperti anak-anak.
Sementara Marcell, pria itu malah bersikap lebih dewasa darinya. Anggi pun memberanikan diri menatap Marcell yang kini tengah menatapnya.
"Maafin aku Cell, seharusnya aku tak bersikap kekanak-kanakan seperti ini," ucap Anggi dan dibalas senyum manis pria yang berdiri di depannya.
Entah mengapa senyuman Marcell membuat Anggi tersipu dibuatnya. Entah itu karena dirinya yang sedang mengidam atau karena kekagumannya dengan ketampanan pria yang menjadi suaminya itu. Yang jelas saat ini pria muda di depannya itu terlihat begitu tampan di benak Anggi.
__ADS_1
***