Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 16


__ADS_3

Sejak kedatangan Anggi dan juga Marcell ke rumah Papa Gibran. Anggi merasa aneh dengan sikap suaminya.


Marcell sering berada di rumah dan jarang keluar rumah. Bahkan ketika Anggi mengajaknya keluar hanya untuk sekedar membeli camilan, Marcell tak mengizinkannya dan lebih memilih membeli online.


Keanehan lainnya Anggi dapati ketika Marcell seringkali melamun.


"Sayang. Kamu ini sebenarnya kenapa sih?" tanya Anggi akhirnya.


"Aku? Memangnya Aku kenapa?"


"Kamu sering berada di rumah dan jarang keluar. Bertemu dengan teman-teman mu pun Kau juga jarang," ucap Anggi seraya memeluk suaminya dari belakang.


"Sekolah ku kan sudah selesai. Dan bukannya dengan Aku selalu di rumah, Kau bisa puas menghabiskan waktu bersama ku, Sayang? Atau Kau mulai bosan dengan ku?" Marcell mengerutkan keningnya.


"Tentu saja tidak. Mana mungkin Aku bosan dengan suamiku ini." Anggi memeluk hangat suaminya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama saja, Sayang." Marcell menarik sang istri kedalam pelukannya dan mengecup keningnya.


***


Beberapa berlalu, Marcell sudah sedikit tenang. Pasalnya Papa Gibran mengabarinya jika orang-orangnya mampu mengecoh mereka dan menganggap Marcell dan Anggi berada di luar negeri.


Sekarang Marcell mulai kembali melakukan aktivitasnya. Hari ini adalah hari pertama dia memasuki kampus. Tentunya dia akan menjalani ospek untuk beberapa hari.


"Sudah siap?" tanya Marcell.


Anggi menatap Marcell tersenyum. Sejujurnya dia merasa lucu dengan yang suaminya kenakan. Namun ini sudah peraturannya. Dulu pun Anggi juga sudah mengalaminya.


"Sudah." Anggi menghampiri suaminya.


"Kenapa? Aku aneh ya?" tanya Marcell.


Tentu saja Marcell saat ini terlihat aneh. Sekarang dia mengenakan topi yang terbuat dari potongan bola dan mengenakan papan nama kardus yang di tali depan rafia. Sungguh lucu menurut Anggi. Namun semua itu tak mengurangi ketampanan dari suaminya. Justru Anggi menjadi gemas di buatnya.


"Tidak ada. Memangnya apa yang aneh. Suamiku selalu tampan. Awas saja jika nanti kepincut dengan maba lainnya."


"Istriku lebih cantik dan menarik," untuk Marcell singkat. Kemudian menggandeng tangan Anggi dan mereka berangkat bersama menggunakan motor sport Marcell.


Pagi-pagi sekali mereka sudah sampai. Karena memang para ketua gugus sudah memberikan peraturan seperti itu.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya berpisah di parkiran kampus. Anggi melambaikan tangannya kepada suaminya dan masuk terlebih dahulu. Sementara Marcell bergabung dengan maba lainnya yang saat ini sudah mulai berkumpul di lapangan kampus.


Tak banyak para maba putri yang begitu caper saat kedatangan Marcell. Bahkan salah satu ketua gugus wanita juga menatap Marcell dengan begitu genit. Siapa lagi kalau bukan Karin dan Sena.


"Selamat datang para maba! Selama tiga hari ke depan kalian harus mengikuti peraturan ospek dari kami. Jadi yang harus kalian persiapkan adalah mental. Jika kalian merasa tidak sanggup, maka kalian boleh keluar dari kampus ini!" ucap Gavin. Saat ini dia yang menjadi ketua BEM.


Dan di mulailah acara yang begitu melelahkan bagi para maba baru. Namun itu tidak untuk Marcell. Sedari tadi pandangannya menatap kearah sang istri yang bertugas mengawasi para maba.


Ketua BEM menugaskan kepada para maba untuk membersihkan semua sudut kampus dan menggambar beberapa hal yang sudah di tugaskan.


Banyak maba putri yang mengeluh capek dan sebagainya. Bahkan mereka ada yang cari perhatian dengan berpura-pura mau pingsan.


Seperti misalnya saat ini. Nindy berpura-pura kelelahan dan membuat dirinya seperti mau pingsan.


"Kak, apa Aku boleh istirahat?" tanyanya pada ketua BEM.


Gavin berjalan ke arah Nindy. "Silahkan. Kau boleh pulang untuk istirahat. Selanjutnya jangan lagi datang ke kampus ini lagi," ucap Gavin datar.


Seketika Nindy langsung bugar kembali. Niatnya masuk kuliah di sini adalah mengikuti sang pujaan hati.


"Tidak usah Kak. Aku sudah sehat lagi kok." Nindy kemudian kembali melakukan tugasnya.


***


"Ya nyariin istri Aku lah. Mau ngajakin makan siang bersama," ucap Marcell menunjukkan bekal makanan yang sudah Anggi buat tadi.


Anggi menoleh ke kanan dan kiri berharap tidak ada yang melihat mereka. Kemudian dia menarik Marcell ke taman belakang kampus.


"Seharusnya kamu jangan menemui ku selama ospek dulu deh Yang," ucap Anggi ketika mereka duduk di kursi panjang.


Marcell sudah membuka bekal makanannya dan mulai menyuapkan makanan ke mulut sang istri.


"Kenapa? Aku hanya ingin makan dengan istriku, apa itu salah?"


"Bukan begitu. Aku takut jika maba lain akan melihatnya. Dan melayangkan protes karena merasa Aku pilih kasih."


"Pilih kasih sama suami sendiri gak apalah, Sayang." Marcell mengedipkan matanya. Dan di balas dengan cubitan pelan oleh Anggi.


"Auww... Sakit, Sayang...."

__ADS_1


"Makanan jangan nakal."


"Oww... Jadi kalian di sini rupanya. Kenapa kita ngerasa kalian romantis banget ya? Bukannya kalian ini sepupuan?" tanya Sena dan Karin yang mengetahui keberadaan mereka.


Anggi terkejut dengan kehadiran Karin dan Sena yang tiba-tiba. Sementara Marcell malah terkekeh.


"Memangnya tidak boleh ya Kak, kalau kita perhatian dengan kakak sendiri?" ucap Marcell.


"Ya nggak apa-apa sih. Tapi kenapa hanya Anggi saja yang di ajak makan siang, Cell? Di suapi lagi. Kami mau juga dong Cell."


"Maaf para Kakak cantik. Tapi ini hanya untuk Marcell dan Kak Anggi saja." ucap Marcell.


"Tuh kan, kalian itu seperti bukan saudara. Malah seperti pacar."


"Ya nggak lah. Kalian ini ada-ada saja," jawab Anggi menggaruk tengkuknya.


"Sudah 10 menit Cell. Sebaiknya kamu kembali ke lapangan. Nanti ketua BEM nya marah-marah sama kamu."


"Loh, Kakak-kakak ini bukannya salah satu panitia. Jadi Aku minta perlindungan Kalian saja," canda Marcell. Pria itu bergegas berdiri dan Kembali ke lapangan.


"Sepupumu gemesin banget sih Nggie." Karin menatap kepergian Marcell.


"Apa sih Rin, gak jelas." Anggi meninggalkan kedua sahabatnya dan kembali juga ke lapangan.


Ketika sampai, Anggi melihat beberapa maba putri yang mengerumuni Marcell. Seketika rasa kesal membuat Anggi dengan keras meniup peluit tepat di samping maba putri itu dan suaminya.


Priiiiiiiiiittttt...!


Semua orang terkejut dan menatap ke arah Anggi.


"Kalian bertiga! Berdiri di depan dengan kaki ke atas dan tangan menjewer telinga. Cepat! Atau mau ku suruh yang lebih berat lagi!" Aura singa keluar dari diri Anggi.


Ketiga maba putri itu terlihat begitu ketakutan. Sedari tadi Anggi tak pernah berkata apapun. Dia hanya mengawasi saja.


Namun sekarang. Sekali berkata, perkataan itu membuat para maba putri begitu ketakutan.


"I-iya Kak...."


Bahkan Gavin terkejut Anggi menjadi segarang itu.

__ADS_1


***


🥴🥴🥴


__ADS_2