
Dalam perjalanan, Aku teringat jika Shaki belum di jemput di sekolahnya. Namun ku lihat Marcell malah terlihat begitu tenang. Apa dia lupa?
"Cell, kita jemput Shaki dulu. Dia pasti sudah menunggu kita," ucapku. Marcell menatapku tersenyum.
"Jangan khawatir, Sayang. Orang ku sudah menjemput Shaki. Kita akan bertemu di sana nanti."
Aku langsung tak bertanya lagi. Masih penasaran Aku dengan kemana Marcell akan membawaku.
Hingga sampailah kita di sebuah butik ternama. Marcell turun dan membukakan pintu untukku.
"Loh, kenapa ke sini, sih Cell?" protes ku.
Marcell hanya diam sembari tersenyum. Dia benar-benar membuatku begitu penasaran.
Ketika kami masuk kedalam butik. Suara Shaki langsung terdengar melengking memanggil kami.
"Mama... Papa...." Gadis kecilku berlari dan memelukku kemudian memeluk Marcell.
"Tadi Paman itu yang menjemput Chaki. Paman itu baik cekali, Ma, Pa. Tadi Chaki di belikan es clim." jelas Shaki dengan begitu menggemaskan.
Ku tatap sosok pria berjas hitam yang kini berdiri di belakang putriku. Wajahnya tampan, namun tak setampan Marcell. Eh, kenapa Aku malah memuji Dia?
Pria itu tersenyum kemudian sedikit membungkukkan badannya ke arahku.
__ADS_1
"Jangan menatapnya terus. Kamu hanya boleh menatapku saja!" Marcell langsung menutup mataku dengan tangannya.
Segera saja ku lepaskan tangan yang menutupi mataku itu. "Apa sih Cell!" ucap ku kesal.
"Kamu itu milik Aku. Jadi jangan lihat pria lain lagi walaupun itu asistenku sendiri."
Dasar Marcell! Bicara sesukanya saja. Dia saja menikahi wanita lain ketika masih berstatus suamiku. Sekarang kita sudah tak ada hubungan apa-apa, dia beraninya mengaturku. Sungguh menyebalkan!
Aku hanya menatap pria yang pernah menjadi Suamiku itu dengan tatapan glare yang ku miliki. Namun sepertinya pria itu tak perduli sedikitpun.
"Dia adalah asisten ku, Gerad." ucap Marcell kemudian.
"Saya asisten Tuan Marcell, Nyonya. Ternyata Tuan Marcell benar, Anda memang sangat cantik," ucap Gerad membuatku tersipu.
Marcell langsung menatap tajam kearah Gerad. Namun Gerad seperti tak takut sedikitpun kepada Marcell. Pria itu malah tertawa kecil melihat kami. Entah apa yang dia tertawakan.
"Kalau begitu Saya permisi, Tuan, Nyonya dan Nona kecil," ucapnya sebelum pergi.
Aku pun tersenyum mengangguk. Sementara Marcell malah terlihat kesal.
"Lain kali Aku tidak mengizinkanmu menatap pria lain selain Aku!" ucap Marcell penuh penekanan.
Aku menatapnya jengah. "Atas dasar apa Kamu melarang ku?"
__ADS_1
"Atas dasar Kamu milikku. Hanya milikku!"
Aku hendak memprotes sebelum suara Shaki menghentikan ku.
"Papa! Mama juga punya Chaki!" Gadis kecilku bersedekap sembari mengerucutkan bibirnya menatap Marcell. Aku hampir saja tertawa melihatnya. Sungguh sangat menggemaskan.
Marcell tersenyum lembut. Kemudian dia pun menggendong Shaki dan menciumi pipinya.
"Mama milik kita berdua, Sayang."
"Itu balu benal," ucap Shaki. Mereka menatap ku tertawa.
Haihh... Sekarang mereka bersekongkol. Aku hanya membalas tatapan mereka dengan memutar bola malas.
Marcell menurunkan Shaki, kemudian menepukkan tangannya memanggil karyawan butik tersebut.
Seluruh karyawan butik langsung datang.
"Kalian carikan gaun yang serasi dengan pakaian yang ku pesan beberapa hari lalu," ucap Marcell.
Para karyawan butik tersebut langsung mengangguk mengerti. Mereka semua mendekatiku dan juga Shaki. Beberapa gaun dalam butik tersebut hampir ku coba semuanya. Aku sampai pusing di buatnya.
Sebenarnya untuk apa Marcell melakukan hal ini? Aku masih tak mengerti dengan maksud dari semua ini?
__ADS_1
***
lanjut nnti malam yakš„°