
Anggi masih setia menunggu Marcell walaupun jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Beberapa pesannya tak Marcell balas. Membuat Anggi semakin memiliki pikiran buruk saat ini.
Hati wanita itu menjadi begitu was-was. Takut gadis yang ia lihat tempo hari bukanlah saudara dari suaminya.
Cklek... Suara pintu terbuka. Anggi yang mendengarnya pun langsung beranjak dari sofa menuju ke arah pintu.
"Sudah pulang?"
Marcell mengangguk.
"Ada yang ingin Aku tanyakan padamu Cell," ucap Anggi.
"Besok saja ya, Aku capek banget nih Yang," ucap Marcell lesu.
Anggi mengerutkan keningnya. Ini sudah larut malam. Kuliah Marcell juga siang sudah selesai. Kalaupun langsung ke bengkel, itu tidak mungkin karena Anggi tahu bengkel tutup pukul berapa.
"Kamu dari mana pulang sampai larut seperti ini?" Pertanyaan itu langsung Anggi lontarkan untuk mendapat jawaban dari rasa penasarannya.
Marcell sejenak terdiam. "Please, Aku capek banget. Besok saja Aku ceritanya ya?" Marcell berusaha menghindari pertanyaan sang istri.
"Tinggal jawab apa susahnya sih. Oh iya, Aku juga ingin menanyakan perihal gadis di kampus yang begitu dekat denganmu. Bahkan dia berani memeluk mu yang sudah jelas-jelas suami orang lain."
Perkataan Anggi menimbulkan keterkejutan dari dalam diri Marcell. Dia heran bagaimana istrinya itu bisa tahu? Dia tak berani menatap mata Anggi. Pria itu langsung pergi meninggalkan Anggi menuju ke kamar.
Anggi yang tak puas karena Marcel tak menjawabnya, akhirnya berjalan mengikuti suaminya. Dia harus mendapatkan penjelasan dari suaminya saat ini juga.
"Cell, kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Anggi terus saja bertanya.
"Bisa tidak jangan bertanya terus! Aku tuh pusing, capek. Seharusnya Kamu sebagai istri mengerti itu!"
Hati Anggi mencelos mendengar Marcell yang berkata dengan nada tinggi padanya. Baru kali ini Marcell bersikap seperti ini.
Anggi langsung terdiam. Sementara Marcell langsung membaringkan tubuhnya memunggungi tempat Anggi biasanya tidur.
'Kamu berubah Cell,' batin Anggi. Air mata Anggi sudah berada di pelupuk matanya. Ketika dia menunduk, air mata itu seketika terjatuh.
Akhirnya Anggi pun ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia menatap punggung Marcell dengan lelehan air mata yang mengalir di pipinya. Gadis itu menangis dalam diam. Suaminya telah berubah.
***
Keesokan harinya, Anggi terbangun dan sudah tak mendapati suaminya di sampingnya. Sungguh, saat ini Anggi merasa begitu kecewa kepada Marcell.
Dengan sikap Marcel yang seperti ini, semakin menambah keyakinan Anggi, jika suaminya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan ia harus segera mengetahuinya.
Anggi segera keluar dari kamarnya mencari di mana suaminya berada. Namun dia tak mendapati Marcell di kamar mandi maupun di meja makan tempat biasanya Marcel akan menunggunya untuk sarapan.
__ADS_1
Anggi memutuskan untuk kembali ke kampus dan mencari tahu kebenarannya tentang suaminya.
Setelah taksi online yang dia pesan sampai di rumahnya, Anggi segera pergi menuju kampus dan kembali melihat apa yang suaminya lakukan hari ini.
Namun sayangnya ketika dia sampai di kampus, Anggi tak mendapati suaminya di manapun. Bahkan ketika ia bertemu dengan dosen yang dulu mengajarnya. Dosen itu mengatakan jika Marcel hari ini tidak masuk kuliah.
Anggi semakin heran, sebenarnya ke mana suaminya pergi pagi-pagi sekali hari ini.
Namun ketika Anggi ndak pergi, dosen itu kembali memanggilnya. Iya teringat sesuatu mengenai Marcel.
"Anggi."
"Iya Pak." Anggi kembali menoleh.
"Maaf aku lupa mengatakannya tadi. Sepertinya Marcel hari ini tidak masuk karena dia akan menikah hari ini."
Anggi terdekat. Bagaimana mungkin Marcel akan menikah hari ini sementara dia dan Marcel sudah menikah?
"M-maksud pak Harto apa ya?" Anggi seolah linglung.
"Hari ini Marcel akan melangsungkan pernikahan dengan Putri perusahaan tertinggi nomor 3 di dunia. Jadi yang menghadirinya pun orang-orang kelas atas. Itu yang bapak dengar kemarin dari orang tua mempelai wanita. Karena calon istri Marcel juga kuliah di kampus ini."
Bagaikan ditusuk seribu pisau, Anggi merasa hatinya begitu sakit. Apakah ini yang Marcel sembunyikan beberapa hari ini darinya hingga sikapnya menjadi berubah padanya?
Lutut Anggi rasanya begitu lemah. Tapi untuk membuktikan perkataan Pak Harto, Anggi harus melihat sendiri.
"Pernikahan itu berlangsung di tempat tertutup. Yang tidak mempunyai undangan tidak boleh memasuki gedung itu. Pernikahan itu berlangsung di jalan A, di gedung termegah."
"Baiklah, kalau begitu terimakasih, pak." ucap Anggi langsung pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat yang di katakan oleh Pak Harto tadi, Anggi terus berdoa jika Marcell yang di maksud pak Harto bukan Marcell suaminya. Dia berharap jika itu Marcell lain yang kuliah di kampusnya dulu.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Anggi akhirnya sampai. Dia menyuruh sopir taksi itu untuk menunggunya. Kemudian dia mulai turun dan melangkahkan kakinya ke gedung yang sudah di dekorasi dengan begitu indahnya ketika nampak dari luar gedung.
Jantungnya berdegup kencang ketika langkah demi selangkah dia menapaki jalan menuju gedung tersebut.
Langkahnya semakin dekat dengan gedung tersebut. Sebuah foto seorang pria sedang memeluk gadis cantik terpampang begitu besar di depan gedung tersebut.
Sialnya foto itu memang foto Marcell, suaminya. Kakinya semakin berat untuk melangkah. Tubuhnya terpaku, bahkan hatinya terus menyangkal jika itu bukan suaminya.
Jika di tanya bagaimana hatinya saat ini. Hatinya sudah hancur tak berbentuk saat ini.
"Maaf Nona, bisa tunjukkan undangan Anda," ucap seorang penjaga gedung tersebut.
Anggi tak dapat menjawabnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan air matanya yang sudah mengalir deras di pipinya.
__ADS_1
"Maaf, kalau begitu Anda tidak bisa masuk. Silahkan pergi dari tempat ini!" usir penjaga itu.
Tidak! Anggi masih butuh penjelasan dari suaminya. Dia ingin menemui Marcell dan menanyakan apa maksud dari semua ini. Mengapa Marcell menikahi gadis lain tanpa persetujuan darinya? Dia harus tahu apa alasannya.
Anggi menghapus air matanya. Ketika dia melihat penjaga itu lengah, Anggi langsung berlari memasuki gedung tersebut. Dia bahkan lupa jika dirinya tengah mengandung saat ini.
Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bertemu dengan suaminya.
Tepat ketika dia sampai di dalam gedung, banyak sekali mata yang menatapnya dari para tamu undangan yang ada di sana. Mereka semua saling berbisik.
Jelas saja. Saat ini Anggi hanya memakai kaos panjang dan celana jeans saja. Karena memang usia kandungan tiga bulan belum terlihat di perut Anggi.
Tepat saat itu juga kedua mempelai datang untuk memasuki altar. Melihat hal itu, Anggi pun memanggil nama suaminya dengan begitu kencangnya.
"Marcell...!"
Marcell yang sedang menggandeng tangan pengantinnya pun menghentikan langkahnya kala mendengar suara yang tak asing baginya. Jantungnya berdegup kencang. Dia pun akhirnya membalikkan badannya dan tatapannya langsung tertuju pada sosok gadis yang ia sangka sedang berada di rumah saat ini.
"Siapa dia, Kak Marcell?" tanya gadis dalam genggamannya.
Marcell tak menjawabnya. Tubuhnya tercekat. Jantungnya seolah mau lepas dari tempatnya. Melihat gadis yang berdiri tak jauh darinya menitihkan air mata yang begitu deras.
Anggi tak menghiraukan lagi semua orang yang menatapnya dan berbisik tentangnya. Dia langsung berjalan mendekati sang pengantin.
"Apa maksud semua ini, Cell?" tanya Anggi dengan suara serak ketika sudah berdiri tepat di depan pasangan pengantin itu.
"Aku...." Marcell tak bisa berkata apapun. Rasanya hatinya sakit melihat air mata Anggi. Tak terpikir sedikitpun Anggi akan ada di sana.
"Jadi selama ini kamu membohongi ku? Perubahan sikap mu juga di karenakan ini? Kamu sudah mengkhianati ku, Cell. Kamu jahat!" Anggi berteriak di depan Marcell mengeluarkan seluruh isi hatinya.
Marcell hendak berjalan untuk mendekati Anggi. Namun tangan yang menggenggamnya menariknya kembali. Marcell juga ingat dengan ancaman-ancaman dari ayahnya.
Seketika Marcell menjadi bersikap begitu dingin menatap Anggi. "Seperti yang Kamu lihat. Aku mencintainya. Jadi sudah sangat jelas bukan? Aku tak perlu menjelaskannya padamu seharusnya kamu sudah tahu. Aku sudah bosan denganmu, jadi lupakan semua tentang kita, Dan pergi dari sini!" ucap Marcell dan langsung membalikkan badannya.
Rasanya saat ini dia ingin membunuh dirinya sendiri karena sudah menyakiti hati gadis yang sangat di cintainya. Satu tangannya mengepal kuat merasa dirinya yang tak berdaya dengan semua ancaman ayahnya.
Hancur sudah perasaan dan hati seorang Anggi. Perkataan Marcell seolah membunuhnya. Ternyata impian yang sudah mereka rangkai beberapa bulan lalu hanya sebuah harapan semu saja.
Ternyata Anggi telah salah karena sudah melabuhkan cintanya pada seorang Marcell. Pria yang lebih muda darinya.
Sementara pengantin wanita tersenyum sinis menatap Anggi. Dia telah merasa di atas angin karena sudah memiliki Marcell seutuhnya. Marcell telah menikahinya hari ini.
Pasangan pengantin itu kemudian kembali berjalan meninggalkan Anggi menuju ke kursi pengantin di depan sana.
Sementara Anggi, dia langsung berlari keluar gedung. Ketika sampai di luar, penjaga terkejut melihat Anggi keluar dari dalam. Seketika penjaga itu hendak menegur Anggi. Namun Anggi tak mengindahkannya. Gadis itu terus berlari hingga sampai kedalam taksi yang dia suruh untuk menunggunya tadi.
__ADS_1
Anggi menumpahkan tangisannya dalam taksi tersebut.
***