Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 35


__ADS_3

Setelah mendapatkan gaun untukku dan juga Shaki, Marcell mengajak kami makan siang di restoran. Kebetulan Aku sangat kelaparan juga, jadi Aku mengiyakannya.


Bisa di bayangkan. Sejak tadi pagi Aku belum makan sedikitpun. Apalagi semalam Marcell menggempur tubuh ku hingga lelah. Sementara di rumah sakit Aku juga lupa untuk sekedar mengisi perut ku.


Ketika sampai di restoran, Aku memesan banyak menu makanan. Aku tidak perduli jika Marcell menganggap ku rakus atau apa. Yang penting perutku ini segera terisi.


Ketika pelayan menghidangkan makanan itu di meja kami, Marcell dengan cepat menyuapi Shaki. Melihat hal itu membuat ku semakin leluasa untuk segera menyantap makanan yang sudah ku pesan.


Aku mengunyah dengan haru makan dalam mulutku. Rasanya Aku ingin menangis karena makanan ini terasa sangat nikmat. Bahkan tanpa terasa satu porsi sudah hampir habis.


"Mama makan banyak cekali." Suara Shaki menyadarkan ku. Namun Aku hanya membalasnya dengan senyum dan kembali menghabiskan 1 porsi lagi makan yang sudah ku pesan tadi.


"Kenyangnya...." ucapku setelah menghabiskan porsi ke dua.


Aku melihat Marcell yang kini menatap ku dengan pandangan yang sulit di artikan. Mungkin saja dia ilfill melihat ku makan sebanyak itu. Namun biarlah! Toh dirinya juga yang membuatku kelaparan seperti ini. Walaupun tidak sepenuhnya salahnya. Karena ketika dia pergi dari rumah sakit tadi, seharusnya Aku langsung ke kantin mengisi perut ku. Tapi penyakit lupa ku ini telah mengalahkan rasa laparku.


"Maaf...," ucap Marcell. Aku terkejut mendengarnya.


"Kenapa Kamu meminta maaf padaku?" tanyaku heran.

__ADS_1


"Karena gara-gara menolong ibu ku, Aku jadi melupakan sarapan pagimu." Marcell tertunduk lesu.


Melihatnya seperti itu membuat ku tak tega. Terkadang Aku membenci diriku yang selalu luluh padanya.


"Sudahlah, ini bukan salahmu. Aku saja tadi yang lupa sarapan di kantin rumah sakit."


"Tetap saja Aku yang harus di salahkan karena sudah melupakan sarapan pagi ist...."


"Kak Marcell...." Suara seseorang menghentikan ucapan Marcell. Aku pun menoleh ke sumber suara tak terkecuali Marcell dan juga Shaki.


Aku terkejut melihat siapa seseorang tersebut. Wajahnya masih tercetak begitu jelas dalam ingatanku. Dia... Dia adalah istri Marcell. Gadis yang Marcell nikahi waktu itu.


Tiba-tiba hatiku menjadi tak baik-baik saja. Kilasan ketika Marcell menyuruhku pergi dan memilih gadis itu membuat dadaku kembali sesak.


"Kenapa Kamu kemari?" ucap Marcell datar.


"Kak, sejak kemarin kakak tidak pulang. Aku kangen sama Kak Marcell. Kak Marcell pulang ya, Skay juga sangat merindukan Papanya." Wanita itu merengek.


Marcell menatapku sejenak. Aku segera mengalihkan pandanganku ketika dia menatapku.

__ADS_1


"Nanti malam Aku akan pulang, Sya. Sekarang pulanglah, Aku masih ada urusan lain." Marcell masih terlihat begitu datar. Mungkinkah mereka sedang bertengkar hingga Marcell terlihat cuek pada istrinya sendiri? Entahlah. Aku tidak mau ikut campur dalam hubungan mereka. Namun sekarang Marcell membuat posisiku menjadi terdesak. Kami sudah berselingkuh semalam.


Wanita itu langsung menatap ke arah ku. Lalu dia pun menjadi sangat marah. Tentu saja. Wanita mana yang rela suaminya bersama selingkuhannya?


"Oh... jadi Kak Marcell tidak mau pulang karena Dia?!" Istri Marcell menunjukku. Aku hanya bisa menundukkan kepala ku. Ini sungguh memalukan memang. Aku... Aku sekarang menjadi wanita perusak rumah tangga orang.


Marcell berdiri. Dia terlihat marah dengan ucapan istrinya.


"Cukup, Asya! Seharusnya Kau tahu betul siapa dia!"


Terlihat sekali guratan kemarahan dari diri Marcell. Yang jelas, Aku menjadi posisi yang tertuduh saat ini.


"Kak. Aku ini istri Kak Marcell. Dan apa Kak Marcell lupa jika kita sudah memiliki seorang anak? Skay sangat butuh Kak Marcell, Papanya." Wanita itu hampir menangis. Jika Aku di posisinya, Aku pasti akan sangat hancur seperti perasaan ku waktu itu. Betapa jahatnya Aku saat ini.


Ku raih putriku dan mendekapnya. Ku tutup telinganya agar tak mendengar perdebatan yang seharusnya tak dia dengar.


"Sejak awal sudah ku jelaskan padamu. Kenapa Kamu tidak pernah bisa mengerti, Sya?!"


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengerti, Kak Marcell! Kamu hanya milikku, Kak. Hanya milikku!"

__ADS_1


Perdebatan di antara mereka semakin menjadi. Aku jadi merasa tak enak berada dalam posisi sekarang ini. Ku putuskan untuk membawa putriku pergi dari restoran ini.


***


__ADS_2