Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 26


__ADS_3

Malam ini Aku samasekali tidak dapat memejamkan mataku barang sedikitpun. Pertemuan tadi membuatku menjadi cemas dan takut.


Aku takut jika dia sampai mengetahui tentang Shaki. Walaupun dia sudah bahagia dengan keluarganya yang baru, tetap saja rasa takut jika dia akan merebut Shaki ku tersus saja menggelitik hatiku.


Bagaimana tiba-tiba dia bisa berada di negara ini? Mungkinkah Dia sedang mengajak keluarganya untuk liburan ke negara ini? Ya, pasti itu jawabannya.


Aku tidak boleh lengah. Dia tak boleh bertemu dengan putriku. Dia sudah membuang kami sejak beberapa tahun yang lalu. Pasti dia sudah bahagia sekarang. Shaki hanya milikku!


Ku paksakan mata ini untuk terpejam barang sebentar saja. Aku harus melepaskan rasa lelah ku. Hingga perlahan Aku mulai terbawa dalam arus mimpi.


***


Pagi ini seperti hari-hari biasanya.


Aku menyiapkan keperluan putriku ke sekolahnya. Aku sudah tidak lagi tinggal di apartemen Karin sejak beberapa bulan lalu. Bukan karena apa-apa.


Mana mungkin Aku terus tinggal di sana sementara dia akan menikah dengan kekasihnya. Aku cukup tahu diri. Walaupun Karin terus memaksaku untuk terus tinggal bersamanya, namun Aku tetap menolak.


Sebentar lagi mereka akan menikah. Dan bukankah mereka butuh sebuah privasi untuk hubungan mereka?


Jadi ku putuskan untuk membeli sebuah rumah untuk ku tinggal bersama putriku. Walaupun tak terlalu besar, yang penting kami merasa nyaman. Karin juga sering sekali mengunjungi kami. Dia sangat suka mengajak Shaki untuk bermain.


Setelah selesai mengurus keperluan putriku, Aku mulai beranjak dan menyiapkan sarapan.


Walaupun sudah lama di negara ini, Aku selalu memasakkan putriku masakan khas Indonesia. Aku ingin putriku mengenal tanah airnya.


"Mama, Chaki cudah celecai. Chaki hebat kan Mam? Chaki cudah bica pakai baju cendili."


Aku tersenyum menatap putriku yang memang sudah ku ajarkan untuk mandiri sejak dini. Aku segera menghampirinya dan menguncir rambut panjang Shaki.


Dia sangat suka jika Aku mengepang rambutnya itu.


"Sudah selesai. Sekarang Shaki sudah cantik. Eumm... Shaki mau Mama ambilkan nasi goreng? Atau mau pakai sosis juga?" tawar ku.


"Iya Mam, Chaki mau itu."


Shaki memakan sarapannya dengan lahap. Aku pun juga mulai menyantap sarapan pagi ku.

__ADS_1


Setelah selesai dengan semuanya. Aku mengantarkan putriku ke sekolahnya. Aku sedikit santai karena hari ini tidak ada jadwal operasi. Aku hanya harus mengecek kondisi pasien yang ku operasi kemarin.


Aku menggandeng tangan Shaki menuju ke kelasnya. Di depan kelas sudah ada William selaku guru Shaki yang baru. Itu yang di katakan putriku kemarin.


"Selamat pagi, Shaki," sapa William dengan ramah.


"Pagi Mr. Will. Chaki mau ke kelas dulu ya Mam." pamit putriku. Aku menciumnya sebelum putriku memasuki kelasnya.


Ketika Aku hendak pergi dari tempat ku. Tiba-tiba suara William memanggilku.


"Tunggu Nona."


Aku membalikkan tubuh ku menatapnya dengan mengerutkan kening ku. "Ya Mr, Apa ada masalah tentang putriku?" tanyaku.


"Tidak, Nona. Saya hanya ingin mengundang Anda ke pesta perjamuan perusahaan Saya."


Aku masih terdiam dan mencerna tentang permintaannya. Bukankah dia guru baru di kelas Shaki?


William berjalan mendekat hingga kini dirinya berdiri tepat di depan ku. Pria itu tersenyum.


"Maaf. Anda pasti bingung kenapa tiba-tiba saya mengundang Anda. Sebenarnya Saya adalah pemilik perusahaan The Orion Corp. Dan ini adalah sekolah yang Saya dirikan beberapa tahun lalu. Jadi terkadang Saya juga ikut mengajar anak-anak di sini jika ada waktu senggang."


"Oh, maaf. Saya sungguh tidak menyangka jika Anda adalah pemilik perusahaan yang terkenal di negara ini, Tuan." Aku sedikit membungkuk.


"Tolong jangan sungkan, Nona. Saya lebih suka jika Nona bersikap biasa kepada Saya. Tujuan Saya mengundang Anda karena Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Anda."


"Berterima kasih padaku. Memangnya Aku melakukan apa, Tuan? Bukankah kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya?" tanyaku.


"Ya, kita memang belum mengenal sebelumnya. Tapi Anda sudah berjasa besar karena sudah menyelamatkan nyawa putri Saya. Apakah Nona ingat, pasien yang beberapa bulan lalu Anda operasi? Dia bernama Clara."


Tak perlu lama Aku mengingat-ingat tentang Clara. Gadis kecil itu, dia adalah gadis yang kuat. Dia juga sering memanggil ku dengan panggilan Mama.


"Jadi Clara putri Anda?"


"Ya, Nona. Putriku ingin bertemu dengan Anda. Jadi Saya mengundang Anda ke pesta perjamuan di perusahaan Saya lusa."


"Baiklah, Tuan. Akan Saya usahakan untuk datang. Titipkan salam Saya untuk Clara. Kalau begitu Saya permisi, Tuan. Saya harus segera ke rumah sakit."

__ADS_1


"Baiklah, Nona."


Aku segera pergi menuju mobil ku. Aku masih tak menyangka jika William adalah Papa Clara. Semoga saja jadwal ku nanti kosong agar bisa bertemu dengan gadis kecil itu lagi. Lagipula Shaki juga sering bermain dengan Clara waktu itu. Jadi jika Aku mengajak Shaki nanti, dia tidak akan bosan.


Ku lajukan mobil ku menuju rumah sakit. Setelah sampai, langsung ku langkahkan kakiku menuju ke ruangan ku. Ku lihat sudah ada Elsa yang memberikan ku jadwal untuk mengecek beberapa pasien.


Aku segera melakukan pekerjaan ku. Beberapa pasien sudah berangsur membaik. Mungkin beberapa hari mereka sudah dapat kembali pulang.


Aku pun segera pergi ke ruangan pasien yang kemarin ku operasi. Aku berharap pasien ku itu juga semakin membaik.


Ku lihat dari kaca pintu terlihat ada seseorang di sana. Sepertinya itu adalah keluarga pasien. Aku pun segera masuk dan menampilkan senyum ramah ku.


"Selamat pagi, Saya akan mengecek kondisi pasien." ucap ku kemudian berjalan ke samping pasien.


Seseorang yang duduk di samping pasien yang ku pikir keluarga pasien pun menatap ke arah ku.


Aku terbelalak ketika mengetahui siapa orang tersebut. Tubuhku seolah terpaku. Aku tercekat. Marcell.


Namun dia hanya diam dan hanya menatap ku dengan pandangan yang sulit di artikan.


Seketika itu Aku menjadi begitu gugup. Pandangan matanya terus tertuju ke arahku. Namun sekuat tenaga Aku berusaha untuk tidak terpengaruh oleh tatapannya. Terus saja ku lakukan tugasku seperti biasanya.


Aku berusaha tersenyum ketika selesai memeriksa pasien ku.


"Apakah Anda keluarganya, Tuan?" tanyaku. Jantung berdebar tak karuan ketika Aku berbicara dengannya.


"Dia adalah ibuku," ucapnya datar.


Aku kembali tersenyum menutupi kegugupanku. "Kalau begitu Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Kondisi ibu Anda semakin membaik. Saya sarankan agar Anda sering mengajaknya berkomunikasi supaya dapat merangsang otak pasien agar cepat tersadar."


Dia hanya diam entah mendengar penuturan ku atau tidak. Keningnya berkerut seolah sedang berpikir. Namun Aku tak peduli. Aku hanya ingin segera pergi dari ruangan ini. Aku takut jika dia tiba-tiba menanyakan tentang Shaki.


"Kalau begitu Saya permisi, Tuan." ucapku karena sedari tadi Marcell hanya diam saja. Ku langkahkan kakiku sesegera mungkin dari sana. Aku tak ingin bertatap muka dengannya. Luka hatiku kembali menganga hanya dengan melihatnya.


Tuhan, mengapa di saat Aku sudah bahagia bersama dengan putriku, Engkau malah mempertemukan ku dengannya?


Aku segera mempercepat langkahku, berharap dia tak mengikutiku.

__ADS_1


Aku bernafas lega ketika sampai di ruangan ku. Pria itu... Sungguh Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tak terasa air mataku menetes. Rasa sakit di masa lalu kini kembali ku rasakan.


__ADS_2