Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 6


__ADS_3

Akhirnya lantunan ijab Kabul terdengar indah dari mulut Marcell. Tak banyak yang hadir di acara tersebut. Karena pernikahan di lakukan secara tertutup.


Sebelumnya Papa dan juga Marcell, saling melakukan sebuah perjanjian sebelum pernikahan itu terjadi. Tak ada yang tahu perjanjian apa itu, bahkan Anggi pun tak tahu tentang adanya perjanjian antara Papanya dan juga pria yang kini menyandang status sebagai suaminya.


"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Untuk kedepannya kalian bisa tinggal di rumah ini," ucap Papa.


"Tidak bisa Paman, maksud ku Papa. Aku sudah menyewa sebuah rumah kontrakan untuk ku dan Kak Anggi tinggal setelah kita menikah. Kami tidak akan di rumah Papa. Kami harus mandiri ," tolak Marcell.


"Cih, Kau itu masih sekolah, masih bau kencur. Darimana kamu bisa menghidupi putriku nantinya. Kamu lihat sendiri kan jika putriku sedang mengandung. Jadi dia membutuhkan asupan nutrisi yang cukup."


"Papa tidak perlu khawatir. Kak Anggi sekarang adalah tanggungjawab Marcell. Lagipula yang Kak Anggi kandung juga anak Marcell. Jadi Marcell pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untuk istri dan anakku nanti, Pa."


Papa merasa kesal. Biar bagaimanapun yang pemuda itu katakan memang benar. Tapi Papa tak ingin berpisah dengan putri sematawayangnya itu.


Ketika hendak ingin memprotes, dokter Dirga mencegah Papa Gibran. Sahabatnya itu menatapnya tajam.


"Sudahlah, Gibran. Lagipula Kau bisa menengok Anggi nanti. Apa salahnya memberikan kesempatan kepada Marcell. Kita lihat nanti, apakah Marcell benar-benar bisa menjadi pria yang bertanggung jawab untuk Anggi," ucap dokter Dirga menengahi.


Papa mendengus pelan. Yang di katakan sahabatnya itu memang benar. Dengan terpaksa dia menyetujui keinginan Marcell untuk membawa putrinya.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat."


Marcell mengerutkan keningnya. "Syarat? Maksud Papa?"


"Kalian harus menginap di rumah ini setiap satu Minggu sekali."


Marcell tersenyum. "Tentu saja, Pa."


***


Setelah acara berpisah yang begitu drama karena Papa mendadak menangis dan tak rela di tinggalkan oleh putrinya. Mereka harus kembali membujuknya.


Tentu saja dokter Dirga yang membujuknya. Papa bak anak kecil Yang merengek karena sesuatu miliknya telah hilang akhirnya mendengarkan ucapan sahabatnya.


Kini Marcel dan juga Anggi telah sampai di sebuah rumah kontrakan kecil yang sudah Marcel siapkan untuk mereka tinggal.


Anggi menatap ke sekeliling kontrakan tersebut. Sebuah kontrakan kecil yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk seterusnya. Anggi pun menghela nafasnya.


Melihat ekspresi Anggi, Marcell pun menghentikan langkahnya dan bertanya.


"Kak."


Anggi berhenti dan menoleh ke arah Marcell. "Iya Cell, kenapa?"

__ADS_1


"Kak Anggi nggak terbiasa ya hidup seperti ini? Maafkan Aku ya Kak. Aku hanya bisa memberikan sebuah kontrakan kecil untuk kakak. Tapi Aku janji, sebisa mungkin akan bertanggung jawab untuk semua kebutuhan kakak," ucap Marcell.


Sejujurnya Anggi memang tak terbiasa. Selama ini dia selalu hidup di rumah yang begitu besar, apalagi ketika dia menginginkan sesuatu, pasti akan Papanya berikan.


Tapi dia sadar jika yang terjadi padanya ini adalah kesalahannya sendiri. Masih untung Marcell mau bertanggung jawab. Jadi dia memutuskan untuk menerima segala bentuk kehidupan yang akan dia jalani nantinya.


"Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Kita jalani bareng-bareng ya. Tapi...."


"Tapi apa Kak?"


"Yang kita lakukan beberapa waktu lalu itu adalah sebuah kesalahan. Dan sekarang kita sedang mempertanggung jawabkan kesalahan kita. Waktu itu kita melakukannya karena nafsu sesaat saja. Jadi untuk kedepannya, jangan kita lakukan lagi. Karena aku ingin melakukan hal itu dengan pria yang kucintai nantinya. Sementara di antara kita tidak ada cinta."


Ucapan Anggi membuat Marcell begitu kecewa. Sejujurnya, Marcell merasa tertarik dengan Anggi. Namun dia sendiri juga tidak tahu tentang perasaan yang tepat untuk istrinya itu. Apakah itu cinta atau hanya sebatas ketertarikan saja.


"Baiklah jika itu mau kakak. Tapi Kak Anggi harus ingat ucapan Marcell saat ini. Marcell akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga ini. Karena Marcell ingin hanya menikah sekali seumur hidup."


Setelah mengatakan hal itu, Marcell berjalan mendahului Anggi yang saat ini mematung di tempatnya.


"Kak, kenapa masih diam di situ, ayok sini masuk," ajak Marcell.


Lamunan Anggi terpatahkan mendengar seruan dari Suami brondongnya.


"Ah, iya."


***


Tadi ketika Marcell mengatakan jika dirinya lapar, Marcell bertanya kepada istrinya, Apakah Anggi bisa masak atau tidak.


Karena gengsi, Anggi pun mengatakan jika dirinya bisa memasak. Padahal memasak air saja dia tidak bisa.


"Ah, sudahlah. Yang penting ini semua di masak." ucapnya kemudian.


Anggi mulai memotong sayuran di depannya. Setelah selesai dia mulai menyalakan kompor dan merebus semua sayuran tersebut. Tak lupa dia memasukkan telur utuh kedalam sayuran itu.


"Ini berapa sendok ya? Ah sudahlah, mungkin Lima sendok." Lima sendok garam Anggi masukkan, lalu dia juga menambahkan gula dan bubuk lada.


"Yeei... Sudah selesai. Sekarang kita cicipi."


Anggi mengambil sendok dan mulai mencicipinya. "Blehh...blehh... Masakan apa ini? Kenapa asin sekali?" Rasanya Anggi hampir menangis di buatnya. Sekarang bahan masakan tadi sudah raib menjadi sayuran yang rasanya sangat tak karuan.


"Kenapa Kak?" tanya Marcell yang datang menghampiri Anggi di dapur.


Marcell terkejut melihat dapur yang begitu acak-acakan. Lalu dia melihat ke arah sayur yang masih berada di atas kompor. Marcell menghampirinya. Sementara Anggi rasanya ingin sembunyi dari sana.

__ADS_1


Pasti Marcell akan mengetahui jika dirinya sama sekali tidak bisa memasak. Duh, bukankah itu sangat memalukan?


"Ini hasil masakan kakak?" Marcell mengambil sendok yang ada di tangan Anggi dan hendak mencicipi sayuran tersebut.


"Jangan Cell!"


"Kenapa Kak? Ini makan malam kita kan?" Setelah mengatakan hal itu, bergegas Marcel langsung merasakan sayuran tersebut.


Marcell mematung. Dia tak mengatakan apapun. Lalu dia kembali melihat ke arah sayuran itu. Ada dua butir telur yang masih bercangkang terlihat di dalam sayuran itu.


"Nggak enak kan? Kan tadi aku sudah melarang untuk jangan mencicipinya Cell," ucap Anggi menundukkan kepalanya.


Marcell menghela nafasnya pelan. "Jadi Kak Anggi tidak bisa memasak?"


Anggi menunduk malu. Kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. "Maaf ya Cell."


"Kenapa tidak bilang dari tadi sih Kak. Jadinya kan Marcell bisa memasak untuk makan malam kita," ngucap Marcel dan langsung membuat Anggi menatapnya tak percaya.


"Kamu bisa memasak?" tanya Anggi tak percaya.


"Tentu saja bisa Kak."


Marcell segera menyingkirkan sisa-sisa sayuran yang sudah tak terpakai itu dan membuangnya. Sejujurnya Marcel merasa begitu sayang dengan sayuran yang akhirnya menjadi mubazir.


Tapi dia harus bersabar. Sepertinya istrinya masih perlu banyak belajar.


"Karena Marcell sudah sangat lapar, Marcell mau membuat omelet saja yang cepat. Kakak mau kan?"


Anggi hanya mengangguk saja.


Sementara itu Marcell langsung melakukan kegiatan memasak omelet ala dirinya. Pria muda itu melakukannya dengan cekatan. Bahkan mengiris bawang pun terlihat begitu cepat.


Anggi yang melihatnya hanya bisa terbengong melihat suami mudanya itu memasak dengan begitu lihainya.


10 menit kemudian, Marcell membawa dua porsi omelet itu ke atas meja untuk dia santap bersama istrinya.


"Ayok Kak, sini makan."


"I-iya." Anggi tersadar. Dia mengikuti Marcel duduk di kursinya untuk makan malam. Gadis itu merasa begitu malu dengan suaminya.


'Aihh... Memalukan sekali," batin Anggi.


***

__ADS_1


__ADS_2