Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 14


__ADS_3

Sampai di rumah, Anggi langsung turun dari motor Marcell tanpa menunggu suaminya. Membuat Marcell semakin bingung kenapa dengan sikap istrinya itu.


"Sayang, tunggu!" seru Marcell dan langsung mengejar sang istri setelah memarkirkan motornya.


Marcell meraih tangan Anggi dan menariknya ke arahnya hingga Anggi menabrak dada bidang Marcell.


"Apa-apaan sih Cell," ketus Anggi memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya.


"Kamu yang apa-apaan. Kamu ini kenapa sih yank? Dari tadi kamu terus bersikap cuek dan acuh sama Aku.. kenapa hum?" Tangan Marcell menarik lembut dagu Anggi hingga mau tak mau sang istri menatap ke arahnya.


"Kamu jahat sama Aku...huwa...! Hiks... hiks...." Anggi tiba-tiba menangis, membuat Marcell terkejut dan panik seketika.


"Sayang, Kamu kenapa? Kok jadi nangis gini? Katakan, Aku salah apa? Aku minta maaf kalau Aku ada salah sama Kamu." Marcell mencoba menenangkan sang istri.


"Kamu jahat Cell. Kamu bilang sama Aku kalau Kamu tidak punya pacar. Kamu bilang Kamu cinta sama Aku. Tapi Kamu bohong. Kamu sudah punya pacar kan? Bahkan kamu sudah pacaran selama hampir satu tahun." Anggi masih terisak.


Mendengar penuturan dari istrinya, Marcell menggaruk kepalanya merasa apa yang di tuduhkan Anggi benar-benar tidak ia mengerti.


"Maksud Kamu apa, Sayang. Aku tidak pernah bohong sama Kamu. Suer deh...." Marcell menarik telinganya sendiri dan menatap sang istri dalam.


"Suar suer... Jangan bohong kamu Cell. Nindy sendiri tadi yang mengatakannya. Dia mengatakan jika dia itu pacar Kamu. Dan kalian pacaran sudah hampir satu tahun. Aku benci sama Kamu Cell...!"

__ADS_1


Anggi bahkan memukul pelan dada Marcell karena perasaan hatinya begitu tak menentu saat ini.


Marcell terkejut. Dia tak menyangka jika Nindy akan mengatakan hal yang samasekali tidak benar kepada sang istri.


Kedua tangan Marcell mencakup wajah Anggi" Sayang, lihat Aku. Dengarkan ini baik-baik. Aku samasekali tidak pernah pacaran dengan Nindy, bahkan dengan wanita manapun. Dulu memang dia sempat mengatakan jika dia menyukaiku. Tapi Aku menolaknya di hari itu juga. Aku dan dia hanya berteman. Tidak lebih. Aku juga tak menyangka jika Nindy akan mengatakan hal itu padamu."


Anggi pun berhenti terisak. Namun tangannya langsung memeluk tubuh suaminya erat. "Kamu itu bodoh? Itu karena selama ini dia masih menyukaimu Cell. Kau mengatakan padanya juga kalau Aku adalah kakakmu? Pantas saja dia terus caper padaku dan bercerita tentang kemesraan kalian. Mungkin dia pikir Aku bakal merestui kalian? Tidak akan! Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian dalam bentuk apapun!"


Marcell tersenyum. Dia membalas pelukan Anggi dengan erat. Rasa bahagia menggelitik hatinya kala melihat kecemburuan Anggi.


Itu menandakan jika sang istri benar-benar mencintainya.


Anggi mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Marcell. Gadis itu semakin merasakan kesal.


"Oh, jadi Kamu senang pacaran dengan gadis itu? Lepaskan Aku!" Anggi memberontak dari pelukan Marcell.


Namun Marcell tak melepaskannya. Sungguh dia begitu gemas dengan tingkah sang istri.


"Istriku ini sensi terus. Dengerin dulu. Aku tuh senang karena melihat istriku cemburu. Itu tandanya istri manis ku ini benar-benar cinta pada suaminya," jelas Marcell membuat Anggi terdiam.


Dia tak lagi berontak. Saat ini dia malah jadi malu dengan tingkahnya sendiri ini.

__ADS_1


Anggi pun rasanya tak berani menatap wajah Marcell. Dia terlalu malu karena terus saja bersikap kekanak-kanakan.


Pelan, Marcell meraih dagu sang istri dan seketika membuat Anggi mau tak mau menatap ke arahnya.


"Kenapa diam, hum? Nggak mau marah-marah lagi?"


Cup...


Tanpa aba-aba Marcell kembali mencium bibir Anggi.


Awalnya hanya kecupan saja. Namun lama-lama Marcell kembali membuat Anggi terjebak dalam ciuman Marcell yang begitu memabukkan.


"Mulai sekarang jangan pernah percaya ucapan siapapun. Percayalah jika Aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk istri manis ku ini." ucap Marcell setelah melepaskan tautan bibirnya.


Marcell memeluk hangat tubuh Anggi seolah-olah tak ingin melepaskannya lagi. Dia berharap jika kedepannya mereka mampu melewati semua rintangan yang mungkin akan mendera rumah tangga mereka.


Hanya satu hal yang ia takutkan. Marcell takut jika Anggi akan membenci dirinya jika mengetahui sebuah fakta tentang dirinya.


Marcell ingin sekali jujur pada Anggi. Namun pria itu masih belum bisa menceritakan tentang masa lalunya yang tak ingin ia bahas lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2