Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 33


__ADS_3

Aku dan Marcel kini telah sampai di rumah sakit. Segera kami pergi menuju ke ruangan di mana ibu Marcel dirawat.


Sampai di depan ruangan, Elsa sudah menunggu kedatanganku di sana.


"Bagaimana pasien bisa sampai kritis? Bukankah kemarin kondisinya sudah stabil?" tanyaku pada Elsa.


Elsa menghela nafas. "Maafkan kami, Dok. Sebenarnya tadi pasien sempat tersadar. Ketika kami hendak menghubungi keluarganya. Ada seorang pria yang mengaku jika dia anggota keluarga pasien. Jadi pria itu kami izinkan untuk menjenguk pasien. Dan setelah pria itu keluar, pasien mengalami kejang-kejang dan kritis," tutur Elsa.


"Apa sosok pria yang menemui ibuku itu seperti ini?" Marcell memperlihatkan foto seseorang lewat ponselnya kepada Elsa.


Dan benar. Elsa mengangguk pasti.


Raut wajah Marcell berubah menggelap. Tangannya mengepal kuat. Aku tak tahu ada masalah apa Marcell dengan seseorang yang ada dalam foto di ponselnya itu. Yang lebih penting sekarang adalah menyelamatkan pasienku.


Sebelum Aku memasuki ruangan, Marcell menghentikan langkah ku.


"Ku mohon selamatkan ibuku," ucap Marcell dengan wajah memohon. Tatapannya sayu. Jelas sekali jika dia begitu menyayangi ibunya.


Aku pun mengangguk dan mengulas senyumku untuk mengurangi kecemasan yang Marcell rasakan saat ini.


Ku lihat wajah pucat seorang wanita paruh baya di atas ranjang. Aku tidak pernah tahu jika ternyata Marcell masih memiliki seorang ibu.


"Bagaimana kondisi pasien saat ini, suster? Di mana Dokter Gilbert?" tanyaku pada perawat yang menangani pasien. Kebetulan saat ini adalah jadwal dokter Gilbert.


"Dokter Gilbert belum datang Dok. Kami sudah memberikan pasien intubasi endotrakeal. Namun belum ada perubahan, Dok."


Aku mulai mendekat dan memeriksa kondisi pasien. "Siapkan antikonvulsan segera," titah ku. Beberapa perawat mengerti. Setelah fenitoin di berikan, ibu Marcell sudah sedikit stabil. Aku sedikit tenang.


"Mulai sekarang perketat penjagaan. Jika bukan Marcell yang ingin menemui pasien, jangan izinkan siapapun masuk. Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi dan membahayakan pasien!" tegas ku. Mereka pun mengangguk mengerti.


"Baiklah, Dok. Kami akan lebih memperketat lagi penjagaannya."


"Bagus. Sekarang kita keluar. Biarkan pasien istirahat," ucap ku.

__ADS_1


Aku dan beberapa perawat itu akhirnya keluar. Ku lihat Marcell yang masih terlihat begitu cemas. Ku hampiri pria itu untuk memberikan kabar jika semuanya sudah stabil.


"Marcell...." Ku panggil dia. Pria itu menatap ke arah ku dengan raut wajah keingintahuan.


"Bagaimana kondisi ibuku?" tanyanya khawatir.


"Tenanglah, Cell. Ibu Kamu sudah stabil kondisinya. Kamu tak perlu merasa cemas lagi."


"Syukurlah. Aku benar-benar tidak tahu lagi jika terjadi apa-apa pada ibu. Terimakasih," ucap Marcell terlihat begitu rapuh.


Aku... Aku rasanya ingin sekali memeluk pria itu. Namun Aku tidak boleh luluh hanya karena hal ini.


Marcell mengeluarkan ponselnya dan sedang menelpon seseorang yang entah siapa Aku tak tahu. Terlihat serius sekali wajahnya. Melihatnya seperti itu, Marcell menjadi sangat tampan. Aku bahkan tanpa sadar tersenyum sendiri menatapnya.


"Apa Kamu sedang mengagumi ketampanan ku?" Suara Marcell menyadarkan lamunanku. Membuat senyum ku menghilang seketika dengan ke-PDannya.


"Ck. Kamu sangat narsis."


"Apa sih, Cell," ucapku merasa malu. Aku mengalihkan pandanganku menyembunyikan pipiku yang mungkin saja sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Sayang. Aku akan pergi sebentar. Tolong kamu jaga ibu. Aku sudah menyuruh orang-oranku untuk menjaga kalian di sini."


"Kmau mau kemana, Cell?" bodohnya Aku. Kenapa Aku bisa sampai bertanya dia mau kemana. Marcell pasti akan besar kepala karena menganggap ku peduli dengannya.


"Aku mau mengurus sesuatu sebentar, Sayang. Aku tahu jika Kamu sangat peduli padaku ini. Kalau begitu sini, Aku mau peluk kesayangan ku sampai puas." Marcell menarikku kedalam pelukannya.


Rasanya Aku menjadi patung. Aku hanya diam tak mampu menolak pelukan hangat dari pria yang lebih muda dariku ini. Dan rasanya sungguh hangat. Bahkan seluruh indera ku menjadi lumpuh hanya karena pria ini.


"Tetaplah di sisiku. Dengan begitu, Aku akan mampu melewati semuanya dengan baik," ucap Marcell sebelum melepaskan pelukannya.


Kenapa sikapmu seperti ini, Cell? Tahukah Kamu jika dengan sikapmu ini membuat hatiku ku menjadi luluh. Bahkan lidahku saja menjadi kelu.


"Aku pergi dulu. Ingat! Jangan kemana-mana sebelum Aku kembali ke sini." Marcell memperingati ku.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangguk. Kemudian Marcell pun melangkah pergi meninggalkan ku. Ku tatap punggungnya yang perlahan mulai menjauh hingga tak terlihat lagi.


Aku memutuskan untuk pergi ke ruangan ku. Sepertinya Aku akan mencabut masa cutiku. Aku memang tak bisa jika tidak perduli dengan para pasienku.


Sudah beberapa jam Marcell tak kembali. Entah mengapa Aku malah mengikuti ucapannya dan menunggunya datang. Bahkan Aku selalu memeriksa ibunya Marcell secara berkala. Dan Aku bersyukur karena kondisinya semakin stabil.


"Apa Kamu menunggu ku lama?" Suara Marcell membuat ku terkejut. Aku tak tahu kapan dia datang. Tiba-tiba dia sudah berada di belakangku saja ketika Aku selesai memeriksa ibunya.


"Aku tidak menunggumu." sangkalku. Namun dia tersenyum.


"Terimakasih sudah menjaga ibu. Sekarang Aku ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Sudah, Ayo." Marcell menarik pelan pergelangan tanganku hingga Aku pun berjalan mengikutinya.


"Lalu bagaimana dengan ibumu?"


"Aku sudah menyuruh orang suruhan ku untuk memperketat penjagaan. Aku juga sudah mendatangkan perawat khusus untuk ibu." ucap Marcell tenang.


Aku akhirnya menurut saja. Entah Marcell mau mengajakku kemana. Sekarang dia sudah menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan dia terus saja tersenyum. Aku sampai heran di buatnya. Sepertinya suasana hatinya sangat baik, tak seperti tadi pagi.


Hingga sampailah kami di sebuah butik terkenal di pusat kota. Aku mengerutkan kening. "Kenapa kita kemari?" tanyaku heran.


Lagi-lagi Marcell tersenyum. "Malam ini Aku ingin mengajakmu dan Shaki ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Menuju kebahagiaan," ucap Marcell sebelum keluar dari mobilnya.


Aku sampai kesal di buatnya. Dia pasti kembali mengerjai ku. Tapi Aku begitu sangat penasaran.


***

__ADS_1


__ADS_2