
Gavin masih berjalan mengekori Anggi. Pria itu ingin bertanya kemana Anggi selama beberapa hari ini.
"Anggi...!"
"Kenapa Vin?" Anggi menjawabnya tanpa menoleh. Dia terus saja berjalan. Sejujurnya dia masih merasa kesal dengan sikap kedua sahabatnya yang genit pada suaminya.
Pun juga kepada suaminya. Menurutnya, Marcell malah seolah senang. Apalagi tadi dia sempat memanggil Kakak cantik kepada Karin dan Sena. Dan itu mematik api cemburu dalam hati Anggi.
"Jangan cepat-cepat jalannya kenapa sih Nggie. Aku mau tanya sesuatu sama Kamu." Gavin masih setia mengikuti Anggi.
Anggi berhenti sejenak. Dia menghembuskan nafasnya kemudian berbalik dan menghadap Gavin.
"Mau tanya apa Vin?"
Terlihat dari belakang Gavin Karin dan Sena yang berjalan ke arah Anggi dan Gavin berdiri.
"Kamu kemana saja 3 hari ini?" tanya Gavin to the point.
"Iya Ang, kita-kita nyariin kamu tahu nggak. Kita udah ke rumah Kamu, tapi kata Papa kamu, Kamu tidak ada di rumah." timpal Karin.
Anggi terkejut. "Terus Papa bilang apa lagi?"
"Sudah, itu saja sih. Setelahnya Om Gibran berangkat ngantor."
"Aku pergi ke rumah bude Aku. Suntuk banget ngerjain tugas kampus," jawab Anggi asal.
"Jadi gitu ya, liburan gak ngajakin kita," sahut Sena. Gadis itu pura-pura marah.
"Kok Kamu nggak ngabarin Aku sih Nggie?" tanya Gavin membuat Sena langsung menatapnya.
Anggi mengerutkan keningnya. "Kenapa Aku harus mengabarimu?" tanya balik Anggi.
"Karena Aku khawatir padamu, Nggie," jawab Gavin menatap dalam ke arah Anggi.
"Sekarang kamu lihat Aku tidak apa-apa kan? Dan please ya Vin. Tolong tidak usah terlalu peduli padaku. Karena Aku sudah memiliki seorang kekasih. Lebih baik Kau perdulikan seseorang yang benar-benar menyayangimu," ucap Anggi.
Ucapan Anggi begitu menohok hati Gavin. Baru kali ini Anggi menolaknya secara terang-terangan.
Sementara Karin dan Sena saling berpandangan mendengar pernyataan dari Anggi. Mereka segera mengejar Anggi yang kini sudah mulai menjauh.
Gavin tak lagi mengikuti Anggi. Pria itu masih mematung di tempatnya memikirkan tentang perkataan Anggi tadi.
'Kekasih? Siapa kekasih Anggi? Kenapa Aku tidak pernah tahu?' batin Gavin.
***
__ADS_1
"Anggi tunggu kita dong...!" seru kedua sahabatnya itu. Mereka butuh penjelasan tentang siapa kekasih Anggi.
Anggi duduk di sebuah taman kecil di kampusnya. Sementara kedua sahabatnya pun mengikutinya. Mereka duduk di sebelah Anggi dan menatap Anggi penuh selidik.
"Sekarang katakan, siapa kekasih mu? Bukannya selama ini Kamu tidak punya kekasih?"
Anggi menggaruk tengkuknya mendapatkan pertanyaan itu dari para sahabatnya.
"Kekasih apa?"
"Kan kamu sendiri yang mengatakannya tadi pada Gavin. Kamu mau pura-pura lupa?" tanya Sena.
Anggi tersenyum nyengir. Dia belum bisa mengatakan tentang kebenaran hidupnya kepada para sahabatnya.
"Eumm... Tadi Aku tidak benar-benar mengatakannya. Maaf ya membuat kalian begitu penasaran. Aku... Aku tahu jika sebenarnya Sena sangat menyukai Gavin. Jadi Aku ingin Gavin sadar, jika Aku tidak mencintainya dan menyadari akan cintamu, Sena," jawab Anggi.
Selama ini memang Anggi tahu jika selama ini Sena begitu mencintai Gavin. Makanya Anggi tak pernah menanggapi perasaan Gavin, karena Anggi tak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena seorang pria.
"Ja-jadi... Kamu tahu kalau ...."
"Ya, Aku tahu. Mana mungkin Aku mengkhianati persahabatan kita demi seorang pria. Lagipula juga Aku tak punya perasaan apapun dengan Gavin." tegas Anggi.
Sena langsung memeluk Anggi merasa bersalah. Selama ini dia sering berpikiran buruk terhadap Anggi. Dia merasa Anggi adalah saingan cinta terbesarnya. Namun ternyata Anggi begitu perhatian dan sayang padanya.
"Anggi, kamu memang sahabatku yang paling baik. Maaf jika selama ini Aku sering berpikiran buruk terhadap mu. Ternyata Aku sangat salah. Kamu begitu perduli padaku," ucap Sena menyesal.
"Memangnya hanya kalian saja yang sahabatan? Kalian mau melupakan ku hum?" ucap Karin pura-pura marah.
Anggi dan Sena tersenyum. Kemudian mereka menarik Karin dan tertawa bersama.
***
Marcell sudah menunggu sang istri di parkiran kampus.
"Cell, maaf ya. Sudah lama ya?" Anggi datang dengan ngos-ngosan. Dia pergi sembunyi-sembunyi dari kedua sahabatnya. Dia tak ingin kedua sahabatnya itu caper kepada suaminya.
"Kenapa Kamu lari-lari, Sayang? Kamu itu lagi hamil, gak boleh lari-lari seperti itu," ucap Marcell menasihati. Tangannya mengulur menaikan beberapa helai rambut Anggi yang menutupi wajahnya.
"Aku larinya cuma pelan kok Cell. Yasudah, kita berangkat yuk," kilah Anggi. Dia ingin mereka segera berangkat. Takut jika kedua sahabatnya mencarinya dan mengetahui jika Marcell kini tengah menjemputnya.
"Kenapa buru-buru, Sayang? Masih ada waktu sebentar kok. Sahabat kamu mana?" tanya Marcell.
Anggi langsung menatap tajam suaminya itu dengan bibir mengerucut. "Kenapa tanya-tanya mereka? Kamu naksir sama mereka? Yasudah sana kamu ajak saja mereka!" kesal Anggi.
Marcell tersenyum. Sebenarnya dia hanya ingin menggoda istrinya itu. Ternyata Anggi langsung bersikap kesal ketika dirinya menanyakan kedua sahabat istrinya.
__ADS_1
Dalam hati, Marcell begitu girang. Dia senang melihat istrinya cemburu padanya. Itu menunjukkan jika sang istri benar-benar mencintainya.
"Istrinya Aku. Jangan ngambek dong. Suamimu ini kan hanya bercanda. Ya kali Aku malah ngajakin orang lain. Terus istri secantik dan semanis ini mau di tinggal gitu? Rugi banget dong."
Marcell meraih tangan Anggi dan menggenggamnya erat. "Maafin Aku ya? Jangan marah ya, Aku hanya bercanda," ucap Marcell lembut.
Anggi benar-benar meleleh dengan kelembutan sikap Marcell padanya. Ujung bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.
"Baiklah, tapi jangan di ulangi lagi. Kau tahu? Melihat mu dekat dengan gadis lain membuat di sini sakit Cell." Anggi menunjuk ke arah dadanya.
Marcell hendak memeluk tubuh Anggi. Namun segera di cegah oleh istrinya itu.
"Jangan di sini. Banyak orang, nanti kita ketahuan. Yuk kita berangkat saja Cell."
Marcell mengiyakan permintaan Anggi. Lalu keduanya menaiki motor itu dan melaju menuju ke pertandingan.
"Sekarang gak boleh peluk istri, tapi nanti Kamu akan ku buat menjerit di bawahku," goda Marcell dan sontak saja mendapatkan cubitan di lengannya.
"Apa sih Cell," ucap Anggi malu-malu.
"Auww... sakit, Sayang. Di jalan loh kita."
"Habisnya kamu nakal sih. Jangan ngomongin hal itu sekarang dong," ucap Anggi.
"Memangnya kenapa, Sayang?"
"Eumm... Aku kan jadi pengen," ucap Anggi lirih.
Marcell yang masih bisa mendengarnya pun tertawa terbahak-bahak. "Tunggu nanti malam ya. Aku pasti tidak akan melepaskan mu."
Anggi tersenyum kecil dan mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya.
Tak berapa lama pun mereka sampai. Marcell langsung membawa Anggi menuju ke kursi penonton. "Doakan suamimu ya, Sayang," ucap Marcell sebelum bergabung dengan timnya.
"Pasti," jawab Anggi tersenyum.
Akhirnya pertandingan pun di mulai. Anggi menyoraki Tim Marcell dengan begitu bersemangat.
Namun tiba-tiba di merasa terkejut ketika ada seseorang yang menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
"Kakaknya Marcell ya?" tanya seorang gadis yang duduk di samping Anggi.
Anggi menautkan kedua alisnya. "Maaf, siapa ya?" tanya Anggi balik dengan memperhatikan gadis cantik di sampingnya.
Gadis itu tersenyum sumringah seraya menyodorkan tangannya. "Kenalin Kak. Aku Nindy, pacarnya Marcell," ucap Nindy antusias.
__ADS_1
"A-apa...?" Anggi terkejut. Tatapannya membola mendengar kata 'pacar' dari mulut gadis di depannya.
***