
Anggi POV
Ketika Aku sudah melabuhkan hati untuk seorang pria. Mengapa pria itu malah membuat hati terlempar jatuh ke dalam dasar jurang yang paling dalam?
Masih ku ingat ketika dia menyatakan cintanya, ketika berjanji akan melindungi dan menjadi masa depan ku. Aku mempercayainya. Tak bisa di pungkiri Aku pun jatuh cinta padanya.
Namun Aku begitu bodoh... Aku bodoh karena Aku sudah mempercayai kata-kata itu. Apa kalian tahu bagaimana bentuk hati ini? Hati ini remuk tak berbentuk.
Ucapan suamiku barusan masih terngiang-ngiang di telingaku. Dia begitu jahat padaku. Bodoh sekali Aku tertipu daya oleh pria yang usianya lebih muda dari ku.
Hatiku sakit, sangat-sangat sakit. Hingga ku curahkan tangisanku di dalam taksi yang Aku suruh untuk menunggu ku tadi. Aku tak peduli lagi dengan tatapan iba sopir taksi itu dari spion dalam mobil.
Ku lihat sekali lagi gedung megah itu. Tak ada tanda-tanda suamiku mengejar ku. Semakin hancur hati ini. Suamiku kini telah menjadi suami wanita lain.
Tak sanggup menerima semua kenyataan ini, di sela tangisku Aku menyuruh sopir taksi itu untuk mengantar ku ke rumah kontrakan. Aku harus pergi dari sana. Aku tak bisa lagi hidup satu atap dengan pria yang sudah sangat menyakiti ku. Marcell hanya mempermainkan ku, dia mempermainkan pernikahan ini.
Tak lama kemudian, akhirnya Aku sampai di rumah kontrakan.
"Terimakasih, pak." ucap ku sembari memberikan uang taksi. Namun bapak itu tak mau menerimanya, membuat ku merasa sungkan.
__ADS_1
Aku tahu pasti di mata pak sopir taksi itu Aku begitu menyedihkan hingga dia tak mau menerima bayarannya. Aku bisa melihat itu dari sorot mata bapak itu.
"Non, sebaiknya simpan saja uangnya. Bapak ikhlas kok nganterin , Non."
Baik sekali hati bapak itu. Pasti dia begitu menyayangi keluarganya. Aku pun akhirnya menyimpan kembali uang yang ku berikan tadi dan mengucapkan terima kasih.
Setelah itu Aku memasuki rumah kontrakan yang menjadi saksi bisu kehidupan pernikahan ku dan juga Marcell yang begitu singkat.
Awalnya Aku berpikir jika rumah tangga ku akan bahagia selamanya. Namun ternyata semuanya telah retak. Mungkin Marcell membuangku karena Aku sudah tak memiliki apapun lagi di dunia ini.
Marcell pasti menikahi gadis itu karena dia begitu cantik dan juga orang terpandang. Terlihat jelas dari betapa megahnya pernikahan itu.
Mulai sekarang Aku harus bisa membesarkan calon anak kami. Oh, bukan. Ini anakku. Ya, hanya anakku. Marcell pasti menganggap anak ini sebuah kesalahan. Terbukti sekarang dia membuang kami. Sabar ya, Nak. Papa mu telah membuang kita. Mama pasti akan melindungi mu.
Setelah selesai mengemas semuanya, Aku menelpon seseorang yang sudah lama tak pernah ku hubungi lagi. Karin dan Sena.
Tapi Aku takut jika mereka akan marah padaku. Aku sudah mengganti nomor ku dan tak memberi tahu mereka. Bahkan kemarin ketika Papa meninggal, Aku tak memberi tahu mereka. Sungguh Aku sahabat yang begitu jahat.
Sebenarnya Aku menyembunyikan semuanya dari para sahabat ku karena Aku takut mereka akan memarahi ku karena Aku menikah tanpa memberitahu mereka.
__ADS_1
Aku mencoba menghubungi Sena. Panggilan tersambung. "Halo, siapa ini?" tanya suara Sena. Aku masih terdiam. Aku... Aku takut.
"Siapa sih! Iseng aja deh." Sena seperti akan mematikan panggilan. Aku pun langsung bersuara lirih memanggil namanya.
"Sena...."
Panggil tak terputus. Beberapa detik hening. "Anggi? Ini beneran kamu kan Nggie? Ini Anggi kan?" Suara Sena tampak ingin tahu.
"I-iya...."
"Ya ampun Nggie, Kamu kemana saja? Aku dan Karin mencari mu kemana-mana tahu nggak? Aku ke rumah Kamu. Tapi rumah Kamu ada tulisan di jual. Aku juga tanya tetangga kamu. Katanya Paman Gibran juga sudah...."
"Maaf... maaf karena Aku tidak memberi tahu mu dan Karin." Aku kembali terisak.
"Nggie, kamu tidak apa-apa Kan? Kamu di mana sekarang, biar Aku sama Karin jemput kamu," ucap Sena. Namun Aku malah semakin terisak. Aku terharu. Sahabat ku begitu peduli padaku.
Aku segera memberi tahukan alamat kontrakan ku pada Sena. Dia menyuruh ku untuk menunggunya dan juga Karin. Kemudian kami mengakhiri panggilan.
Aku masih tak menyangka jika hidup ku menjadi berantakan seperti ini. Kehilangan Papa, aset-aset Papa, juga di tinggal suami menikah lagi. Rasanya Aku tak ada artinya hidup di dunia ini.
__ADS_1
***