
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Sayang." Anggi tiba-tiba menangis.
"Hei, Kamu kenapa Sayang?" Marcell menundukkan kepalanya dan mengarahkan wajah Anggi agar menatapnya.
Rasanya Anggi sulit sekali untuk mengungkapkan kekhawatirannya saat ini. Melihat sang suami baik-baik saja, membuatnya mengucap syukur dalam hati.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Sayang. Apa kau tahu tadi jantungku benar-benar hampir lepas saat mendengar jika kau diculik," ucap Anggi dengan hidung yang sudah memerah karena tangisannya.
Marcell mengerutkan keningnya. "Siapa yang mengatakan jika Aku di culik, Sayang? Aku baik-baik saja. Kau lihat sendiri kan sekarang?"dengan lembut Marcel mengusap rambut sang istri.
"Tadi tiba-tiba aku menyenggol gelas dan pecah. Saat itu juga aku kepikiran denganmu. Aku mencoba untuk menghubungimu tapi nomormu tidak aktif. Jadi aku berinisiatif untuk menyusulmu ke kampus. Ketika sampai di sana, aku terkejut saat tiba-tiba Nindy datang kepadaku dan mengatakan jika kau diculik," tutur Anggi menceritakan yang terjadi siang ini.
Sejenak Marcell terdiam. Namun beberapa detik kemudian pria itu mengulas senyumnya. "Mungkin Nindy salah lihat. Tadi itu Aku pergi menemui orang yang ingin rumahnya di design olehku." Marcell berucap setenang mungkin. Namun tak ada yang tahu apa yang ada dalam hatinya.
"Aku takut... Aku takut kehilanganmu, Cell. Aku takut Kau meninggalkan ku,” ucap Anggi.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Aku berjanji." Marcell mencium kening Anggi dan menuntunnya ke kamar.
Marcell ingin sekali istirahat sekarang. Hari ini dia merasa sangat lelah.
"Kita istirahat ya, Sayang?"
Anggi mengangguk menyetujuinya.
***
Pagi harinya, ponsel Anggi berdering tak berhenti. Membuat sepasang suami istri itupun terbangun.
Anggi terduduk dan mengusap matanya. Kemudian tangannya mengulur mengambil benda pipih yang membuatnya terbangun.
Sebuah nomor tak di kenal menghubunginya. Tadinya Anggi hendak mengabaikannya. Namun entah mengapa dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo...." ucap Anggi,
"Apa ini benar nomor dari Nona Anggi?" tanya seseorang di seberang.
Anggi mengernyit. "Iya, dengan siapa ya?"
"Saya dari kepolisian mau mengabarkan jika Tuan Gibran masuk kedalam daftar penumpang pesawat X yang semalam hilang kontak dengan bandara X."
__ADS_1
Jeduaarrr!!
Bagaikan di sambar petir, dunia Anggi hancur seketika.
"Ti-tidak! Papa...!" Ponsel Anggi terjatuh dari tangannya. Gadis itu berteriak histeris.
Marcell langsung menghampiri Anggi dan memeluknya. Dia mencoba bertanya apa yang terjadi sehingga sang istri bisa syok seperti ini.
"Sayang, ada apa?" tanya Marcell khawatir.
Anggi menangis sesenggukan. "Papa Cell... Pesawat Papa hilang kontak dengan pihak bandara."
Deg... Marcell terkejut. Dia tak menyangka ini akan terjadi. Seketika pria itu terdiam. Namun dia terus berusaha untuk menenangkan sang istri.
Anggi dan Marcell langsung pergi ke bandara untuk mencari informasi terbaru tentang pesawat yang hilang kontak yang Papanya tumpangi.
Marcell tak hentinya mendekap tubuh sang istri yang sedari tadi terus menangis karena belum ada kabar dari pesawat tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian polisi datang dari tempat kejadian di mana hilangnya titik komunikasi terakhir dari pesawat yang hilang tersebut.
Polisi itu dengan sangat menyesal mengatakan jika pesawat yang Papa Gibran tumpangi telah meledak dan hancur di sebuah hutan X.
Sementara Marcell ikut menitihkan air matanya melihat kondisi sang istri yang begitu syok. Pria itu merasa sangat bersalah atas kejadian ini.
"Sayang, Kau harus tenang. Kamu tidak boleh seperti ini. Ingat, ada makhluk kecil dalam perut mu yang harus di perhatikan," ucap Marcell lembut seraya memeluk tubuh Anggi.
Hatinya tersayat melihat tangis Anggi yang begitu memilukan.
Polisi dan beberapa tentara sudah di kerahkan untuk mengotopsi jenazah yang belum teridentifikasi. Selama itu, seluruh keluarga penumpang pesawat itu di himbau kan untuk kembali pulang.
Rasanya Anggi tak ingin kembali pulang. Dia ingin menunggu hasil identifikasi di sana. Namun dengan pengertian dari suaminya, Anggi dengan berat hati akhirnya menurutinya.
***
Marcell mengusap lembut rambut Anggi agar istrinya itu dapat tertidur. Malam ini sudah sangat larut, namun Anggi masih saja menangis sedih.
Perlahan mata gadis itu mulai terpejam. Anggi mulai tertidur. Tapi tetap saja tidur Anggi terlihat tak nyenyak.
Setelah memastikan sang istri tertidur, Marcell perlahan turun dari tempat tidur menuju ke ruang tengah.
__ADS_1
Marcell mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Pria itu tampak begitu tak sabar menunggu suara dari seberang sana.
Ketika sambungan terhubung. Marcell nampak begitu marah.
"Katakan! Kau yang melakukannya kan?!!" Marcell berkata dengan amarah.
Sementara dari seberang telepon, pria itu terdengar tengah terbahak.
"Kau sungguh pintar. Begitu cepat Kau bisa mengetahui perbuatan ku," ucap seseorang di seberang.
Marcell rasanya ingin sekali mencekik orang itu kalau mereka saat ini berhadapan. Namun sayangnya mereka jauh. Marcell tak perduli lagi dengan hubungan antara keduanya.
Yang Marcell pikirkan saat ini adalah istrinya.
"Bagaimana? Kau lihat sendiri bukan, jika Aku bisa melakukan apa saja. Bahkan Aku juga bisa menghabisi istrimu jika Kau tak menuruti perintah ku." Dingin. Itulah suara yang seseorang di balik telepon itu ucapkan.
Marcell hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tahu jika ucapan pria yang dulu ia panggil ayah itu tidak main-main.
Ya, pria yang Marcell hubungi adalah Ayahnya. Pria yang beberapa waktu lalu menculiknya hanya untuk bernegosiasi dengannya.
Marcell menolak semua yang Ayahnya perintahkan padanya dengan menikahi wanita yang di pilihkannya.
Marcell tahu semua rencana sang Ayah yang ingin merajai dunia bisnis menjadi nomor satu di dunia tanpa ada yang bisa mengalahkannya.
Dia tak pernah memperdulikan apa yang Marcell inginkan ataupun kebahagiaan putranya. Pria itu begitu egois. Dia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya meskipun itu mengorbankan putranya.
Derrald, pria paruh baya yang begitu kejam dan juga dingin. Selalu memaksakan kehendaknya sudah menjadi wataknya.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
"Aku tak perduli. Aku memberikan waktu satu Minggu untuk mu memikirkannya. Jika dalam satu Minggu Aku tak mendapatkan jawabanmu, maka Kau akan melihat sendiri jasad istrimu itu.
"Kurang ajar! Kau tidak akan bisa menyentuh milikku! Jika sampai sedikit saja Kau melukainya, maka Aku akan membunuh mu. Aku tidak perduli lagi dengan hubungan darah antara kita. Kau bukan lagi ayahku semenjak Kau membuat ibuku terluka dan depresi! Kau tak layak di sebut seorang ayah!"
Marcell langsung mematikan sambungan telepon genggamnya. Pria itu memukul tembok yang ada di sana dengan hati yang sangat marah.
Masalalunya yang begitu pahit kembali terputar dalam memorinya.
***
__ADS_1