
"Iya Kak, Aku Nindy, pacarnya Marcell. Kakak ini kakaknya Marcell kan?" tanya Nindy. Gadis itu sengaja mendekati Anggi agar bisa dekat dengannya.
Nindy berpikir jika Anggi adalah Kakak Marcell. Dan Anggi pikir, dengan dekat dengan Anggi, maka Marcell akan semakin dekat juga dengannya.
"Jadi Marcell punya pacar? Kenapa dia mengatakan kalau dia tak punya? Memangnya sejak kapan kalian pacaran?" Anggi mencoba mengintrogasi Nindy dengan bermacam pertanyaan. Rasanya mendadak moodnya menjadi hilang.
"Sebenarnya baru mau jalan satu tahun sih Kak. Aku selalu berdoa jika suatu saat nanti Marcell akan melamarku." Nindy berkata dengan wajah yang bersemu merah.
Kesal, marah, badmood. Itulah yang Anggi rasakan saat ini. Ingin rasanya ia berteriak memanggil nama suaminya untuk meminta penjelasannya. Tapi itu tak mungkin.
Di depan sana, suaminya sudah mulai tampil bersama dengan Tim basketnya. Mau tak mau Anggi harus menunggu suaminya selesai bertanding terlebih dahulu.
Sementara itu, di sampingnya, Nindy terus saja nyerocos menceritakan hal-hal indah yang di laluinya bersama Marcell yang entah itu benar adanya atau hanya karangannya saja.
Namun itu semua benar-benar membuat suasana di tempat itu menjadi tak menarik lagi bagi Anggi.
Bahkan dia malas untuk melihat suaminya bertanding.
Bahkan ketika suara referee meniupkan peluit saat babak pertama telah selesai, Anggi tak fokus.
Marcell merasa bingung saat dirinya memasukkan bola ke ring lawan, dia selalu menatap ke arah sang istri. Namun Anggi malah seolah membuang muka. Bahkan Marcell memberikan Kiss bye nya ke arah sang istri duduk. Tetap saja Anggi tak menatap ke arahnya.
Jika saja Marcell tahu, itu semua di sebabkan karena Anggi berpikir jika semua persembahan Kiss bye suaminya itu untuk gadis yang duduk di sebelahnya yang dengan hebohnya memberikan support kepada sang suami.
Waktu terus berjalan. Tak terasa pertandingan hampir usai. Tinggal satu kali lagi Tim Marcell memasukkan bola ke ring lawan, maka permainan ini akan di menangkan oleh SMA Marcell.
Namun melihat istrinya yang seolah tak perduli, membuat Marcell pun tak fokus pada pertandingan kali ini. Waktu hampir habis. Marcell yang memegang bola langsung melempar bola itu dari jauh menuju ring lawan.
Anggi sedikit meliriknya. Dalam hati dia pun berharap suaminya itu memenangkan pertandingan.
__ADS_1
Dan... Bola pun masuk bertepatan dengan peluit tanda pertandingan berakhir.
Semua Tim Marcell pada berhamburan begitu senang dengan kemenangan ini. Sementara Marcell berjalan ke arah kursi penonton.
Banyak sekali para gadis yang menjerit memanggil nama Marcell. Namun fokus pria itu hanya pada satu titik, yaitu istrinya.
Nindy dengan PD nya, segera merapikan rambut dan pakaiannya. Dia berpikir jika Marcell datang menghampirinya.
Ketika Marcell hampir sampai di deretan tempat duduk sang istri, Nindy langsung berdiri bermaksud menyambut Marcell.
"Marcell, selamat ya?" Dengan tersenyum manis, Nindy menyodorkan tangannya.
Namun Marcell tak menggubrisnya karena dia begitu penasaran dengan sikap Anggi yang terlihat berubah.
"Bisa geser sebentar nggak Nin? Aku mau duduk di sini," ucap Marcell.
Nindy kembali menarik uluran tangannya yang tak di respon oleh Marcell. Dia tidak ingin ketahuan di depan Kakak Marcell jika sebenarnya dia dan Marcell tidak pacaran.
"Kok melamun?" tegur Marcell tepat berada di depan wajah Anggi.
Anggi menoleh ke sekeliling, dia meringis kecil saat mendapati hampir semua mata tertuju ke arah tempat duduknya.
"Kamu ngapain ke sini sih, Cell!" protes Anggi dengan nada pelan.
"Kamu kenapa melamun? Dari tadi Aku lihat kamu samasekali tidak menatap ku." Marcell mendekatkan wajahnya ke telinga Anggi. "Apa Kamu memikirkan yang akan kita lakukan nanti malam?" bisiknya yang sontak membuat Anggi terbelalak.
"Kamu gila ya? Ngomong gitu di sini Cell." Anggi melirik ke arah Nindy yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Mengabaikan kalimat Anggi, Marcell melayangkan kedipannya. Lagi-lagi menggoda Anggi yang kini semakin menampilkan wajah judesnya karena pria itu berhasil menjadikan dirinya perhatian banyak orang.
__ADS_1
"Percaya diri banget sih. Sana kembali ke Tim basket mu. Dan jangan lupa urus pacar Kamu itu." Anggi berkata pelan sembari melirik ke arah Nindy yang duduk di sebelah Marcell.
Marcell tak mengerti dengan maksud sang istri. Marcel malah berpikir jika sang istri saat ini sedang cemburu.
Marcell yang seolah paham, langsung mengedipkan mata dan memiringkan kepalanya sedikit ke arah sang istri.
"Cie... cemburu ya?" Marcell menggoda. Kemudian tertawa begitu mendapati wajah Anggi yang memerah dan menatapnya kesal.
Marcel begitu suka melihat raut wajah kesal sang istri. Menurut Marcell ekspresi Anggi begitu menggemaskan dan membuatnya menjadi semakin cantik.
"Apa sih, gak lucu." Anggi benar-benar kesal. Dia langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu. Namun Marcell menghentikannya dengan menggenggam tangannya.
Nindy merasa heran dengan sikap dan tingkah Marcell dan juga kakaknya yang menurutnya begitu tak wajar. Namun dia segera menepis pemikirannya. Yang ada dalam otaknya saat ini hanyalah, bagaimana dia bisa mengambil hati kakaknya Marcell agar merestui hubungannya dengan Marcell.
"Mau kemana?" tanya Marcell lembut.
"Pulang!"
"Tunggu sebentar, Aku mau mengambil tas ku dulu, kita pulang bersama," ucap Marcell. Anggi tak menghiraukan.
"Loh, kok pulang sih Kak? Nindy kan masih ingin ngobrol sama kakak," sahut Nindy.
"Aku mau pulang! Kalian saja sana yang ngobrol," ucap Anggi dan langsung melangkah pergi.
Namun lagi-lagi Marcell menariknya. "Pokoknya pulang bareng Aku!" tegas Marcell dan langsung menarik Anggi turun ke lapangan untuk mengambil tasnya.
"Kalian mau kemana? Marcell, Kak Anggi...!" seru Nindy. Namun Marcell tak menyahutnya. Fokusnya saat ini hanya pada sang istri.
Setelah mengambil tasnya dan pamit kepada para teman-temannya, Marcell pun pulang terlebih dahulu.
__ADS_1
***