
Dalam perjalanan menuju ke sekolah Shaki Aku hanya terdiam. Aku masih kesal karena Marcell tak menjawab pertanyaan dariku pasal tentang istrinya.
Aku jadi berpikir, mungkin saja Marcell sedang bertengkar dengan istrinya itu. Kalaupun memang seperti itu, jadi semalaman itu adalah pelampiasannya saja? Dia melampiaskannya padaku. Padahal dalam pikiran Marcell dia sedang melakukannya dengan istrinya. Itulah monolog yang ku ambil.
Memikirkannya membuat ku jadi tak bersemangat. Aku memang sangat membencinya, tapi... Aku juga masih sangat mencintainya. Bohong jika Aku tidak mencintainya.
Kalaupun Aku tidak mencintainya lagi, mungkin saat ini Aku sudah membuka pintu hatiku untuk pria lainnya. Namun sampai sekarang Aku masih menutup pintu hatiku untuk pria lainnya.
Tapi Aku cukup sadar dengan posisi diriku. Aku tahu jika Aku bukan siapa-siapa. Posisiku tak berpengaruh apapun. Berbanding jauh dengan istri Marcell.
Tapi di saat Aku sudah menjauh, kenapa tiba-tiba pria ini muncul? Kini Marcell berbuat sesuka hatinya. Dia mengancamku lewat putriku.
Kelemahanku memang pada putriku. Marcell memanfaatkan hal itu untuk mengancam ku. Dan tentu saja Aku takut. Aku takut jika Marcell benar-benar merebut Shaki dariku. Sudah bisa di pastikan Aku akan mati tanpa putriku. Shaki adalah nyawaku, nafasku dan hidupku.
Mau tak mau Aku menuruti apa maunya. Bahkan kini Marcell menjadikan ku selingkuhannya. Sungguh malang sekali nasibku. Tapi tidak apa-apa. Aku rela, asalkan Aku masih bersama putriku.
"Sudah sampai," ucap Marcell membuatku tersadar.
Marcell turun bersama Shaki. Aku pun juga ikut turun. Seperti biasa. Aku mengecup kening Shaki sebelum memasuki kelasnya.
Setelah Shaki memasuki kelasnya, Marcell tersenyum menatap ku. Aku menjadi risih di buatnya.
"Ngapain sih lihat-lihat?" kataku ketus.
"Habisnya Kamu cantik, jadinya mataku ini tak mau menatap kemana-mana lagi," ucapnya menggombal.
Aku hanya memutar bola mataku malas. Namun tiba-tiba cacing-cacing dalam perutku berbunyi, membuat ku sangat malu. Pasti Marcell akan mentertawai ku.
"Kamu lapar ya? Maaf ya, Sayang. Aku sebenarnya berniat untuk mengajak mu sarapan di tempat spesial," ucapnya. Aku hanya melengos. Jujur Aku masih malu.
Marcell kembali menggandeng tanganku. Aku hanya terdiam membiarkan dia melakukannya. Kami berjalan menuju ke mobil.
Tapi ku dengar sebuah suara yang membuat kami menghentikan langkah.
"Papa Marcell...!" seru suara tersebut.
Aku dan Marcell membalikkan tubuh. Menatap seorang anak kecil yang berlari ke arah kami. Seorang anak laki-laki berlari dan menghambur memeluk Marcell.
Aku tercekat. Mungkinkah dia anak Marcell?
"Papa kemana saja? Kenapa Papa tidak pulang. Mama marah-marah terus karena Papa tidak pulang," ucap anak kecil yang kira-kira usianya lebih tua dari Shaki.
__ADS_1
Jantungku seketika terpompa cepat. Inikah kenyataannya? Tiba-tiba saja hatiku merasa sakit. Aku memang hanya wanita simpanan Marcell. Kami sudah melakukan kesalahan-kesalahan di belakang istri dan putranya.
"Maaf Nak, Papa banyak sekali pekerjaan. Katakan pada Mama, Papa akan pulang nanti malam," ucap Marcell. Anak itu hanya mengangguk menuruti perintah Marcell.
Aku hanya bisa menahan sesuatu yang begitu sesak di dadaku. Aku... Aku sudah menjadi seorang penghancur rumah tangga orang lain.
Marcell terlihat sayang sekali pada anak itu. Di ciumnya kening anak itu sebelum anak itu memasuki kelasnya. Sama seperti yang Marcell lakukan tadi pada Shaki.
Marcell kembali meraih tangan ku, namun kali ini Aku menepisnya. Aku tidak ingin Marcell menjadikan ku pelariannya.
"Jangan pegang-pegang!" Aku segera berjalan cepat memasuki mobil. Aku tak ingin luluh lagi dengan sikap Marcell padaku.
Marcell memasuki mobil. Dia menatapku heran. "Kamu kenapa, Sayang? Kenapa marah-marah terus sih? Sudah sangat lapar ya? Tunggu ya, Aku akan membawamu ke tempat yang spesial," ucap Marcell. Aku tak menggubrisnya.
Dia segera melajukan mobilnya menuju ke tempat yang Aku tidak tahu. Yang ku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya Aku bisa pergi jauh darinya. Aku tidak boleh menjadi perusak rumah tangga orang.
"Kamu kenapa diam terus, Sayang?"
"Jangan panggil panggil Aku Sayang! Apa Kamu tidak takut jika istri Kamu nanti tahu?" ucapku kesal.
"Tidak. Dia sudah tahu kok. Dia juga sering marah-marah. Apalagi bibirnya ketika sedang marah, itu terlihat begitu lucu," ucap Marcell terkekeh sambil menatap ku.
Aku mengalihkan pandanganku ke jendela mobil. Pelupuk mataku terasa memanas. Rasanya air mataku hampir menetes. Marcell menceritakan sebagian kecil tentang istrinya. Bahkan ketika dia mengatakannya, terlihat sekali raut kebahagiaan dari wajahnya.
"Lihatlah, sudah sampai."
Aku menghapus setitik air mata yang tadi hampir menetes. Aku melihat ke sekitar ternyata Marcell membawaku ke pantai.
"Kenapa Kamu membawa ku ke pantai?"
"Bukankah Kamu dulu sering bercerita padaku bahwa Kamu sangat menyukai pantai, Sayang? Ayo."
Marcell turun dan membukakan pintu untukku. Dia mengulurkan tangannya. Aku kembali menepisnya.
"Aku bisa sendiri!"
Aku langsung keluar dari mobil dan mengabaikan uluran tangan Marcell.
Marcell terlihat kecewa dengan sikapku. Namun ini adalah cara yang paling tepat agar pria ini mau melepaskan ku.
Seseorang datang ke arah kami.
__ADS_1
"Kami sudah mempersiapkan semuanya, Tuan. Silahkan," ucap seorang pria. Sepertinya dia adalah orang suruhan Marcell.
Marcell mengangguk kemudian menyuruh pria itu pergi.
Dia mengajakku ke sebuah restoran di dekat sana. Marcell mengajakku naik ke atap restoran yang sudah di hias dengan indah.
"Apa Kamu suka, Sayang?"
Aku mengerutkan kening ku. Ku tatap Marcell yang kini juga menatap ku.
Semuanya memang sangat indah. Namun saat ini suasana hatiku yang tak indah.
"Sebenarnya apa mau mu sih, Cell? Kenapa Kamu bersikap seperti ini padaku? Bukankah dulu kamu menyuruh ku pergi dari hidupmu? Kamu membuangku dan juga Shaki. Apa Kamu mau mempermainkan hatiku? Tolong Cell, lepaskan Aku. Kamu sudah memiliki keluarga. Sekarang Kamu mau menyeret ku kedalam sebuah hubungan yang akan membuat keluargamu hancur? Aku tidak mau menjadi seseorang yang di tuduh menghancurkan rumah tangga mu, Cell. Ku mohon, lepaskan Aku. Biarkan Aku dan Shaki pergi." Ku tumpahkan uneg-uneg dalam hatiku.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Air mata ku akhirnya tak mampu ku bendung.
Grepp... Marcell memeluk tubuh ku begitu erat.
"Jangan pernah beranggapan jika Kamu seperti itu. Kamu dan Shaki adalah nyawaku. Aku tidak akan pernah melepaskan kalian. Maafkan Aku... Tentang sikap ku dulu. Aku melakukannya karena Aku memiliki sebuah alasan. Jangan berpikir jika kamu perusak rumah tangga Orang. Kamu tidak pernah melakukannya. Kamu adalah istriku satu-satunya. Kamu dan Shaki adalah harta terindah yang Tuhan berikan padaku," ucap Marcell.
Aku terkejut dengan ucapan Marcell. Istri satu-satunya? Apa maksud kata-kata Marcell sebenarnya? Sungguh Aku masih belum bisa mencernanya.
"Kenapa Kamu bilang Aku istri satu-satunya? Apa Kamu mau membohongi ku? Jelas-jelas kamu sudah membuangku waktu itu. Dan kamu juga menikah dengan wanita yang kamu cintai bukan? Pasti Kamu sudah menceraikan ku karena kamu sudah memiliki istri cantik dan sempurna." Aku mengatakan apapun yang Aku pikirkan.
Marcell melepaskan pelukannya dan menatap ku. Setelahnya Marcell menyentil kening ku.
"Auww... Marcell!" Aku menatapnya tajam.
"Apa Kamu itu bodoh? Mana mungkin Aku berpaling dari gadisku ini. Gadis dewasa yang sudah membuat ku hampir gila karena mencarimu."
"Mencariku? A-apa maksudmu?"
Belum sempat Marcell menjawabnya, ponsel ku berdering. Aku ingin mengabaikannya, namun ponselku terus saja berdering. Sebuah panggilan dari Elsa.
Aku segera mengangkatnya. "Ada apa, Elsa?"
"Gawat, Dok. Pasien yang operasi beberapa hari lalu sekarang kondisinya memburuk. Apa dokter bisa membantu kami? Aku tahu dokter sedang cuti. Tapi kami sangat membutuhkan bantuan dokter." Suara Elsa terdengar panik.
Aku teringat jika pasien yang Elsa maksud adalah ibu Marcell. Aku pun langsung menyetujuinya. "Baiklah, Aku segera kesana." Segera ku tutup panggilan.
Aku menatap Marcell yang saat ini masih menatap ku. "Marcell... Ibumu... Kita harus segera ke rumah sakit," ucap ku.
__ADS_1
"Ada apa...? Apa terjadi sesuatu pada ibuku?!" Marcell seketika langsung panik. Aku mengangguk. Kemudian kami pun segera bergegas menuju ke rumah sakit.
***