
Malam ini Aku dan putriku menghadiri undangan perjamuan dari Tuan William. Aku menggandeng tangan putri ku dan mulai memasuki gedung mewah yang menjadi tempat perjamuan.
Banyak sekali tamu undangan yang hadir dalam acara ini. Bahkan kebanyakan dari orang-orang kelas atas. Sepertinya acara ini di khususkan untuk orang-orang tertentu. Beruntungnya Aku juga di undang dalam acara ini.
Ku lihat di depan sana Tuan William dan juga sosok gadis kecil duduk di sampingnya. Ya, gadis kecil itu adalah Clara. Mantap pasien ku.
Aku langsung berjalan menghampiri mereka sembari menggandeng Shaki.
Clara langsung terlihat berbinar ketika melihatku dan juga Shaki menghampirinya. Terlihat Tuan William pun juga berdiri menyambut ku dan juga Shaki.
"Terimakasih, sudah mau datang ke acara ku, Nona." William berkata dengan begitu sopan padaku.
Dia terlalu merendah menurut ku. Seharusnya Aku yang merasa beruntung bisa hadir dalam acara perjamuan ini.
"Seharusnya Saya yang mengucapkan terima kasih kepada Anda, karena sudah mengundang kami, Tuan." balasku.
Pandangan ku teralihkan pada Clara. Gadis kecil itu kini menatapku antusias. Kemudian Clara tiba-tiba langsung memeluk ku. Membuat ku terkejut. Apalagi saat ini orang-orang menatap ke arah ku.
"Mommy, Cla rindu Mommy."
Aku membelai lembut rambut Clara Membalas kerinduannya.
"Mommy juga merindukan Clara. Coba lihat, siapa yang juga merindukan Cla." Aku menatap Shaki. Sontak Clara Pun mengikuti arah pandanganku.
"Shakira, Aku juga merindukanmu. Apa Kamu mau main dengan ku? Aku tahu tempat bermain di sekitar sini. Ayo...!"
Clara langsung menarik tangan putriku untuk di ajaknya bermain.
"Eh, kalian mau kemana?" tanyaku namun tak mereka dengar karena mereka sudah berlari. Aku hampir mengikuti mereka sebelum Tuan William menghentikan ku.
"Anda mau kemana, Nona? Jangan khawatir. Tadi Aku sudah menyiapkan tempat bermain juga di gedung ini. Dan Clara sudah hafal dengan tempatnya."
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku pun percaya dengan ucapan Tuan William. Lagipula dia yang sudah mengadakan acara ini. Dia pasti sudah mempersiapkan segalanya secara detail. Apalagi jika menyangkut putrinya.
"Bolehkah kita berbincang, Nona?" tanyanya.
__ADS_1
Aku kembali mengangguk. Tidak ada salahnya jika kita berbincang, bukan. Mungkin saja Tuan William ingin membicarakan tentang kesehatan Clara.
Kami berbincang sambil mencicipi hidangan perjamuan ini.
1
Ternyata Tuan William orangnya begitu mudah untuk di ajak bicara. Dia tidak seperti orang kalangan atas yang begitu sombong. Malah justru Tuan William begitu humoris.
"Nona, bagaimana kalau kita berbicara tidak usah menggunakan kata-kata formal. Mari berteman," ucapnya.
Aku terdiam sejenak. Tidak ada salahnya bukan, jika Aku berteman dengan Tuan William? Lagipula putriku juga berteman dengan putrinya.
"Baiklah, Tuan. Kita berteman," ucapku tersenyum.
"Kalau begitu mulai sekarang panggil saja Aku Will. Itu akan lebih enak di dengar dan tidak canggung."
"Baiklah, Tuan... Eh maksudku, Will," ucap ku masih sedikit kikuk.
Suara alunan musik mulai terdengar. Semua orang satu persatu mulai berdansa.
"Mau berdansa?" Suara William membuat ku menoleh ke arahnya. Pria itu mengulurkan tangannya.
"Tapi Aku tidak bisa berdansa," ucap ku pelan.
"Tenang, Aku akan mengajarimu," ucap Will sembari mengedipkan sebelah matanya.
Aku akhirnya menyetujuinya. Ku sambut uluran tangannya. Kami pun berjalan membaur ke arah orang-orang yang tengah berdansa.
Sungguh ini adalah pengalaman pertamaku berdansa. Aku tidak pernah melakukannya karena Aku memang tidak pandai dalam hal berdansa.
Tapi lihatlah Will. Dia mengajariku dengan begitu sabar. Bahkan beberapa kali Aku menginjak kaki pria itu. Namun dia tak marah. Aku jadi merasa tak enak padanya.
Tapi lama-lama Aku jadi sedikit bisa berdansa.
"Kamu memang wanita yang hebat. Lihatlah, baru sebentar saja Kau langsung bisa melakukannya," ucap William.
__ADS_1
Perlahan kami berdansa dengan semakin baik. Aku tak pernah tahu jika berdansa semenyenangkan ini. Sekarang Aku mulai pandai seperti orang-orang itu.
Tiba saatnya kami berputar dan bertukar pasangan. Aku pun berputar dan beralih pasangan. Terkejut Aku ketika pasangan ku itu langsung menarik pinggang ku dan menggenggam jemari ku.
Aku pun mendongak untuk melihat siapa pasangan dansa ku.
Bola mataku hampir keluar. Orang ini lagi? Aku menelan ludah ku kasar. Bagaimana mungkin Marcell bisa berada di sini? Kenapa di mana-mana ada dia?
Yang lebih menjengkelkan lagi, kini dia malah tersenyum manis kepadaku. Apalagi dia tak memberikan ku rongga untuk bernapas. Dia memeluk pinggang ku terlalu erat.
"Sekarang Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku." Marcell mendekatkan wajahnya ke arah telingaku.
Aku merasa sedikit geli karena lagi-lagi bibir Marcell menempel di telingaku. Aku menatapnya tajam.
"Apa mau mu, Marcell?!"
"Aku tidak ingin milikku di sentuh pria lain." bisiknya lagi.
Miliknya dia bilang? Ck...
"Siapa yang Kau sebut milikmu?" Aku tersenyum mengejek.
"Kau adalah milikku selamanya," tegasnya. Kemudian Marcell menoleh ke segala arah, lalu pandangannya kembali ke arahku. Dia tersenyum begitu misterius, membuat ku menjadi begidik negeri.
"Ikut Aku, atau Kamu tidak akan pernah melihat putrimu lagi!"
Si.alan! Marcell mengancam ku rupanya. Dan dia menggunakan Shaki untuk membuat ku menurutinya.
Oh tidak! Mungkinkah Marcell tahu jika Shaki itu putrinya? Bagaimana ini? Apa dia akan membawa Shaki nanti?
Aku kembali panik. Aku berusaha melepaskan diri, namun Marcell terlalu erat memeluk pinggang ku.
***
Up sekarang ya, seharian nanti othor sangat sibuk 🙏🤧
__ADS_1