
4 tahun kemudian.
Aku terburu-buru melewati koridor rumah sakit. Ku tatap jam yang menempel di pergelangan tangan ku. Membuat ku semakin mempercepat langkah ku. Bahkan Aku berlari kecil agar segera sampai di tempat ku memarkirkan mobil ku.
Bukan tanpa sebab Aku terburu-buru seperti ini. Semua ini karena Aku terlambat menjemput malaikat kecilku di sekolahnya.
Segera ku lajukan mobil ku sesegera mungkin setelah Aku sampai di parkiran. Aku tidak ingin putriku menungguku terlalu lama. Bisa ku bayangkan wajah imutnya itu.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya mobil ku sampai di sekolah putriku. Aku kembali berjalan terburu-buru memasuki gerbang sekolah.
Pandangan ku langsung teralihkan pada taman bermain. Di sana Shaki tengah bermain dengan seorang pria yang menurut ku terasa begitu asing.
Aku segera menghampiri putriku yang tengah asik bermain dengan orang asing itu. Tak dapat ku lihat sosok wajah pria itu, karena posisi pria itu membelakangi ku.
"Shaki, maaf Mama terlambat, Sayang." ucap ku yang sontak membuat Shaki dan pria itu menoleh ke arah ku.
"Tidak apa-apa kok Mam. Cakhi kan cudah ada temennya cekalang. Ada Mr. Will." Putriku itu tersenyum ke arah pria yang di panggil Mr. Will oleh putriku.
Aku mengerutkan kening. Tak pernah ku lihat sosok pria ini selama Aku putriku sekolah di sini.
Pria itu langsung berdiri dan membungkuk ke arahku. "Perkenalkan Nona, Saya guru baru di sini. Tadi Saya lihat Shaki hanya sendirian di kelas, jadi Saya mengajaknya bermain di sini."
Pria itu membungkuk sopan terhadap ku. Ucapannya menjawab semua pertanyaan yang ada di hatiku tenang siapa dia. Aku merasa lega karena ternyata pria itu bukan orang jahat.
Aku tersenyum membalasnya. "Terimakasih, Mr. Will. Kalau begitu Saya akan membawa Putri Saya pulang," ucap ku dan di balas anggukan olehnya.
Entah hanya perasaanku saja atau apa. Mr. Will terus memandangiku. Tapi tak ku hiraukan karena saat ini pandangan ku hanya fokus pada putriku.
"Ayo, Nak. Kita harus segera pulang," ucapku menatap Shaki.
Shaki langsung mengangguk dan berjalan padaku. Ku gandeng tangan mungilnya itu.
"Kalau begitu kami permisi, Mr. Will," ucapku sebelum meninggalkan tempat itu.
Pria itu mengangguk sembari tersenyum.
"Shaki hari ini belajar apa?" tanyaku pada putri kecilku ketika Aku memasang sabuk pengaman untuknya.
"Banyak cekali Mam. Tadi ada anak balu loh Mam. Tapi Chaki tidak cuka," ucap Shaki yang dengan lucunya. Aku selalu merindukan ekspresi putriku ini. Sangat menggemaskan menurut ku.
"Oh ya? Kenapa Shaki tidak suka? Kan menyenangkan jika Shaki banyak teman," ucapku menanggapi, sembari mulai menyalakan mobil.
__ADS_1
"Dia nakal Mam, Chaki tidak cuka," ucap Shaki. Bibirnya mengerucut lucu sekali. Gemas sekali Aku di buatnya.
"Itu karena mungkin kalian belum berteman, Sayang. Coba nanti Kamu ajak dia berteman, Sayang. Kita tidak tahu baik atau tidak jika kita belum mengenalnya." Aku memberikan pengertian untuk putriku.
"Oke deh Mam, nanti Chaki ajak dia belteman."
Aku tersenyum mengusap lembut rambut Shaki dengan sebelah tanganku. Sementara tangan yang lainnya ku pakai untuk memegang kemudi.
Baru setengah jalan, ponsel ku berdering. Segera ku angkat dengan loudspeaker.
"Halo dokter. Ada pasien yang harus segera di operasi. Kondisi sudah sangat mendesak," suara asisten ku terdengar serius.
"Segera lakukan prosedur operasi. Aku akan sampai sebentar lagi," balasku. Lalu segera ku matikan panggilan.
"Sayang, kita ke rumah sakit dulu ya? Mama harus segera menolong seorang pasien."
Ku lihat Shaki terdiam. Sebenarnya hari ini Aku sudah berjanji akan mengajaknya ke tempat bermain. Lagi-lagi Aku harus mengecewakan putriku. Tapi ini memang benar-benar begitu mendesak.
"Oke Mam. Chaki tidak apa-apa kok. Kan Mama Chaki pahlawan."
Aku tersenyum lega menatap putriku. Rupanya anakku tumbuh menjadi anak yang pintar. Beruntung selama ini dia selalu bisa mengerti dengan profesiku yang sangat sibuk. Terkadang pun sulit untuk meluangkan waktu untuk putriku sendiri.
Sampai di rumah sakit, Aku memberikan putriku pada asisten ku.
Selama 2 tahun terakhir. Aku mendapatkan penghargaan dari rumah sakit bahwa Aku di nobatkan sebagai dokter bedah terbaik. Dan untuk mencapai proses ini sungguh tidaklah mudah.
Aku bersyukur bisa mencapai titik ini. Prioritas ku adalah nyawa pasien yang lebih utama.
Tidak sedikit dari beberapa rumah sakit yang ingin menarikku. Namun Aku memutuskan untuk bertahan di Royal Victoria Hospital. Karena di sinilah tempat yang membesarkan ku.
***
Aku bernafas lega kala operasi hari ini kembali berjalan lancar. Banyak dokter yang memberiku selamat karena operasi tadi bisa di bilang operasi besar. Prosedur yang ku arahkan pada para dokter lainnya di terima dengan baik. Semuanya berjalan dengan lancar.
Tak sadar jika ternyata sudah larut malam. Aku terburu-buru berjalan menuju ke ruangan ku. Shaki dan Elsa pasti masih menunggu di sana.
Namun ketika Aku terburu-buru, Aku tak menyadari seseorang berada di depan ku sehingga Aku menabrakkannya.
Nampaknya dia sedang menelpon seseorang. Hingga kini ponselnya pun ikut terjatuh.
Aku sadar dengan kesalahan ku. Segera ku bungkukkan badanku untuk meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya sungguh tidak sengaja. Mohon maafkan Saya," ucapku masih membungkuk.
Pria itu mengambil ponselnya yang terjatuh tanpa berkata apa-apa. Kemudian dia melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara pria itu yang begitu dingin.
"Lain kali Kau harus lebih berhati-hati lagi, Nona." Pria itupun pergi.
Aku seperti tak asing mendengar suara pria tersebut. Ku balikan tubuh ku menatap punggung pria itu yang mulai menjauh.
Aku hanya mengedikkan bahu, kemudian kembali melanjutkan langkah ku menuju ruangan ku. Pasti putriku sudah menunggu ku.
Aku merasa kasihan pada putriku ketika memasuki ruangan ku. Dia sudah tertidur pulas. Dia pasti lelah menunggu ku.
"Terimakasih, sudah menjaga Shaki, Elsa."
"Jangan sungkan, Nona. Shaki adalah anak yang sangat pintar," puji Elsa.
Aku tersenyum, kemudian berjalan menuju putriku dan mengecup keningnya. Perlahan ku gendong tubuh mungilnya untuk segera membawanya pulang.
"Apa Anda butuh bantuan, Nona?"
"Tidak, Elsa. Aku bisa sendiri," tolak ku ketika Elsa bertanya.
"Kalau begitu hati-hati, Nona."
Aku mengangguk dan segera membawa Shaki.
Sampai di parkiran, Aku mengambil kunci mobil ku. Namun tanpa sengaja Aku malah menjatuhkan kunci mobil ku. Aku menghela nafas dan hendak mengambil kunci tersebut.
Aku terkejut ketika ada seseorang yang mengambil kunci mobil ku dan memberikannya kepadaku. Ku lihat sosok pria tersebut. Seketika mataku membola melihat siapa dia.
"Anda begitu ceroboh, Nona. Bagaimana jika putri Anda sampai terbangun?" Dia memberikan kunci itu padaku.
Aku masih terdiam. Otakku seketika berhenti bekerja. Tak pernah ku harapkan bertemu kembali dengannya.
Dia menggelengkan kepalanya menatap ku, kemudian langsung pergi. Sepertinya dia tak mengenaliku karena saat ini Aku menggunakan masker. Beruntungnya Aku.
Aku segera memasuki mobil. Sejenak ku pandang wajah polos Shaki. Tanpa sadar air mata ini lolos begitu saja.
Bagaimana tidak? Luka yang sudah beberapa tahun tersimpan rapat, kini tiba-tiba hadir lagi.
***
__ADS_1
Gak jadi pindah ya, karena Karya ini telah terkontrak di sini 🙃🙃