Suami Berondongku

Suami Berondongku
Bab 15


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Marcell dan Anggi semakin bersikap mesra saja. Banyak yang mengira jika mereka itu adalah Kakak adik.


Marcell juga mengajak Anggi untuk memeriksakan kandungan dan membeli susu hamil. Menurut Anggi, Marcell benar-benar suami idaman.


Entah mengapa selama hamil, Anggi terus saja bersikap kekanak-kanakan. Namun Marcell dengan sabarnya selalu bisa menyikapi sikapnya dengan perhatian yang begitu lembut.


"Yang, ngapain sih dari tadi lihat HP terus?" tanya Marcell ketika dari kamar mandi.


Sedari tadi pandangan Anggi terus saja mengarah ke ponselnya. Entah apa yang tengah ia lihat di sana.


Anggi tak merespon. Bahkan saat ini dia malah senyum-senyum sendiri. Marcell yang begitu penasaran pun langsung duduk di samping sang istri dan melihat apa yang sedari tadi menjadi fokus istrinya itu.


Seketika Marcell langsung mengambil ponsel Anggi dari tangannya kala melihat apa yang istrinya lihat


"Loh, kok di rebut sih Yang?" Anggi hampir menangis ketika tiba-tiba suaminya mengambil ponselnya.


"Ngapain sih lihat-lihat mereka? Lebih ganteng juga suamimu ini." Marcell mencebik kesal.


"Tapi dedek bayi pengen lihat mereka Yang. Mau kalau dedek bayi nanti ences terus?" Anggi berusaha mengakali suaminya. Dia menampilkan wajah memelas kepada Marcell.


Dari tadi Anggi terus menonton boyband Korea kesukaannya. Sejak mereka belum kenal, Anggi sudah mengidolakan salah satu boyband Korea yang sangat terkenal itu. Dan dia begitu merindukan sosok idolanya itu. Makanya sejak tadi Anggi terus saja menonton updatean sang idola di ponselnya.


Marcell terdiam sejenak. Dia tak ingin anaknya nanti jadi ileran. Dengan berat hati, Marcell kembali mengembalikan ponselnya kepada sang istri.


"Seharusnya Kamu tidak lihat-lihat cowok lain Yang. Kamu kan punya Aku," ucap Marcell sebelum hendak beranjak ke kamarnya.


Anggi menatap punggung suaminya yang kini sudah menghilang dari balik pintu kamarnya.


"Aku kan memang milik Kamu Cell. Aku cuma mengidolakan mereka aja kok. Aku miliki kamu seutuhnya," gumam Anggi. Ia pun menaruh ponselnya dan menyusul suaminya ke kamar.


Anggi melihat Marcell yang tidur dengan membelakangi tempat dirinya tidur. Gadis itu tersenyum. Suami berondong nya tengah marah saat ini. Dan sekarang giliran dia yang meredam amarah dari suaminya itu.


Anggi mulai melangkah dan berbaring di tempat tidur. Menatap punggung suaminya yang membelakanginya.


Tangannya dengan lembut memeluk pinggang suaminya dan menghirup aroma suaminya yang begitu khas. Aroma yang akan Anggi selalu ingat.


"Sayang. Apa Kau tahu perbedaan semua idolaku sama Kamu?" tanya Anggi. Namun Marcell enggan menjawabnya.


Anggi hanya tersenyum melihat suaminya yang marah seperti ini. Jika sebelumnya Marcell yang selalu membujuknya, kini gantian Anggi yang membujuk suaminya.


"Bedanya, idolaku hanya sebatas idola. Berbeda dengan kamu. Kalau Kamu adalah suamiku, seseorang untuk ku bersandar, orang yang ku harapkan akan mencintaiku selamanya."

__ADS_1


Marcell tersenyum kecil. Hatinya menghangat mendengar penuturan dari sang istri. Ternyata istrinya pandai berkata manis padanya.


Marcell malah berpikir, apakah dia harus berpura-pura marah setiap hari pada sang istri untuk mendengar ucapan dari rayuan manis dari istrinya?


Marcell membalikkan badannya menghadap ke arah Anggi. Kedua saling bertatapan dengan begitu dekat.


"Sekarang istriku pandai merayu ya?" Marcell menatap Anggi dengan menautkan sebelah alisnya.


"Habisnya, Kamu marah seperti anak kecil saja."


"Hey, Nyonya Marcell.... Siapa yang lebih sering seperti anak kecil?" Marcell menyentil kening Anggi. Membuat sang empunya mengaduh.


"Auw... Sakit tahu, Sayang!" Anggi mengusap-usap keningnya sendiri.


Marcell langsung menarik Anggi dan menariknya ke dalam dekapannya.


"Maaf kan Aku karena sudah marah sama Kamu. Kau hanya milikku, Sayang."


Setelah mengucapkan semua itu, Marcell langsung mengecup lembut bibir Anggi. Ciuman yang begitu dalam yang mampu membuat Anggi selalu terbuai karenanya.


***


Hari ini Marcell dan Anggi berencana untuk menginap di rumah Papa Gibran. Sudah lima pekan atau bahkan satu bulan lebih mereka tak mengunjungi pria paruh baya itu.


Saat ini makan malam tengah terjadi di meja makan panjang yang ada di rumah Papa Gibran.


Papa Gibran banyak diam memperhatikan suami istri yang terlihat begitu bahagia itu. Ia tidak menyangka jika Marcell yang masih SMA itu mampu membimbing Anggi dengan begitu apik.


Bahkan putrinya saat ini sudah bisa mengoperasikan bahan masakan hingga menjadi makanan yang lezat.


"Bagaimana sekolah dan kuliah kalian?" tanya Papa Gibran setelah mereka selesai makan malam.


"Baik, Pa. Untungnya Anggi wisuda dua bulan lagi. Jadinya kehamilan Anggi tidak akan di ketahui oleh Karin dan Sena, juga yang lainnya," tutur Anggi seraya memakan camilan yang sudah di suguhkan oleh bibi.


"Marcell juga sudah mengambil kuliah di universitas XX, Pa. Jadinya selama satu bulan nanti Marcell masih bisa jagain istri Marcell."


"Kamu mau kuliah di sana juga Yang?" tanya Anggi antusias. Marcell belum bercerita jika dia akan satu kampus dengan dirinya nanti.


"Tentu saja, Aku kan mau jagain istri kesayangan Aku." Marcell mengedipkan sebelah matanya menatap Anggi. Jelas saja Anggi tersipu dan wajahnya memerah. Anggi malu di depan Papanya.


Sementara Papa Gibran hanya menatap jengah ke arah pasutri tersebut. Walaupun begitu, dia tetap bahagia melihat putrinya yang begitu bahagia. Dia berharap semua kedepannya akan selalu seperti itu.


Papa sempat meragukan Marcell kala itu. Sebab umur Marcell yang terbilang masih muda dan masih menduduki bangku SMA.

__ADS_1


Ternyata sejarah terulang kembali. Papa Gibran seolah melihat dirinya sendiri pada diri Marcell. Bersyukur, kekhawatiran Papa Gibran tidak terjadi.


"Nanti ke ruang kerja Papa, Cell. Ada yang ingin Aku bahas denganmu," ucap Papa.


Marcell mengangguk.


Setelah mengantar istrinya ke kamar, Marcell segera memasuki ruang kerja Papa Gibran.


"Ada apa, Pa?" tanya Marcell.


Papa Gibran pun menampilkan wajah seriusnya. "Sepertinya mereka tahu tentang keberadaan mu. Mereka juga tahu tentang pernikahan mu dengan putriku." Papa Gibran menghembuskan nafas panjang. Dia kemudian duduk di kursi kesayangannya.


Tangannya memijat pelipisnya sebagai tanda jika saat ini sedang ada sesuatu yang menimpa dirinya.


Marcell mengerutkan keningnya. Tiba-tiba rasa khawatir menyeruak menghiasi hatinya. "Apa yang terjadi, Pa? Apa ada yang mereka lakukan kepada Papa?"


"Papa masih terdiam. Kini ia menatap ke arah menantunya itu. "Seseorang di perusahaan Papa telah menjual saham Papa dengan harga yang sangat rendah. Papa masih tidak tahu siapa pengkhianat itu. Mereka juga mengancam beberapa kolega Papa untuk tidak bergabung dengan perusahaan Papa," ucap Papa dengan raut wajah sedih.


Marcell begitu terkejut. Buku-buku tangannya memutih karena kuatnya tangannya mengepal saat ini.


Dia tak menyangka jika mereka mengetahui jejaknya. Apalagi sekarang mereka malah berbuat nekad dengan membuat bangkrut perusahaan mertuanya.


Biar bagaimanapun itu, Papa Gibran sungguh hebat, bisa menyembunyikan semua masalahnya di depan putri dan menantunya tadi. Marcell salut dengan sang mertua. Dia bisa merasakan bagaimana kasih sayang Papa Gibran terhadap putrinya dan bahkan dirinya.


Kali ini Marcell begitu marah dan merasa bersalah. Marah karena mereka sudah sangat keterlaluan. Dan merasa bersalah, karena dirinyalah semua permasalahan ini muncul.


"Maafkan Marcell, Pa." Marcell menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa begitu bersalah.


"Kenapa minta maaf? Papa sudah menebak hal ini akan terjadi sebelum Papa mencarimu untuk bertanggung jawab kepada putri Papa."


Ya, Papa Gibran sudah menyelidiki siapa Marcell sampai ke akar-akarnya. Makanya sebelum dia menikahkan Anggi kemarin, dia membuat perjanjian secara tertulis kepada Marcell.


Namun kini ia berubah pikiran mengenai perjanjian itu. Dari pengamatannya, ternyata Marcell adalah pria yang begitu bertanggung jawab. Melihat cinta Marcell untuk putrinya dan juga melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putrinya, Papa Gibran ingin menghapus perjanjian antara dirinya dan juga Marcell.


Papa Gibran yakin, Marcell mampu melindungi putrinya. "Papa ingin menghancurkan perjanjian kita waktu itu. Aku yakin jika Kau bisa membahagiakan putriku. Mengenai masalah mereka, Papa akan mengerahkan seluruh orang-orang Papa untuk mengelabuinya tentang keberadaan mu saat ini. Papa hanya berpesan kepadamu, tolong jaga putri Papa dengan baik," ucap Papa dengan nada serius.


"Marcell janji akan selalu melindungi istri Anggi, Pa. Terimakasih karena sudah percaya kepada Marcell."


"Jangan pernah kecewakan kepercayaan Papa."


Marcell mengangguk. "Tidak akan," jawab Marcell dengan yakinnya.


Mulai saat ini, Marcell harus lebih waspada lagi. Sekarang, dia harus lebih ketat lagi menjaga istrinya itu. Ia tahu jika mereka pasti tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang lebih buruk lagi nantinya hanya untuk membuatnya kembali kepada mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2