
Semenjak pertemuannya kemarin dengan Asya, Marcell menjadi sedikit pendiam. Dan semua itu dapat Anggi rasakan.
Anggi memeluk suaminya dari belakang saat melihat suaminya terbengong menatap ke arah jendela.
"Sayang, Kamu kenapa? Sejak kemarin kamu jadi diam. Apa ada yang perlu kamu ceritakan kepadaku?"
Marcell membalikkan tubuh Anggi dan memeluknya erat. "Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tolong apapun yang terjadi nanti, Kamu jangan pernah meninggalkan ku," ucap Marcell begitu dalam. Tiba-tiba saja ketakutan menyeruak masuk kedalam hatinya.
Anggi mengerutkan keningnya merasa perkataan suaminya begitu aneh menurutnya. Tentu saja Anggi tidak akan pernah meninggalkannya. Marcell adalah ayah dari anaknya. Lagipula dia juga mencintai suaminya. Meninggalkan Marcell adalah sesuatu yang tidak mungkin menurutnya.
"Kamu kok aneh sih Yang? Apa ada sesuatu yang mengganjal hatimu?"
Marcell menggeleng. "Aneh kenapa, Sayang. Aku hanya memikirkan bagaimana masa depan kita nantinya. Aku takut Aku tidak akan bisa membahagiakan mu."
Anggi menangkup wajah Marcell dan mengecup bibirnya sekilas. "Aku akan bahagia jika itu bersamamu. Jadi Kau jangan khawatir," ucap Anggi lembut.
Sungguh, Marcell tak ingin kehilangan gadis dalam dekapannya itu. Rasa khawatir menyelimutinya saat pertemuannya kemarin dengan Asya.
***
Hari-hari berlalu seperti biasanya. Anggi memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga ketimbang harus menjalankan impiannya menjadi seorang dokter.
Dia ingin menikmati masa-masa kehamilannya bersama suami brondongnya.
Siang ini di kampus, Marcell di buat tak berdaya kala Asya merengek dan menangis memeluk suami orang lain.
"Kak, kenapa kamu berubah? Maaf kalau dulu Aku sempat meninggalkan Kak Marcell. Tapi sekarang Aku sudah datang Kak. Asya ingin kita seperti dulu lagi. Asya masih ingat dengan semua janji Kak Marcell yang akan menjadikan Asya permaisuri Kak Marcell. Apa Kak Marcell lupa?" Dengan sesenggukan, Asya memeluk tubuh Marcell dengan eratnya.
Marcell tak membalas pelukan Asya. Namun dia juga tak melepaskannya. Ingatannya kembali ke masa dirinya dulu.
Melihat tangis Asya yang sejak tadi tak berhenti, Marcell merasa iba. Biar bagaimanapun, gadis yang memeluknya itu adalah bagian dari masalalunya.
Perlahan Marcell mulai membalas pelukan Asya. Pria itu berusaha untuk menenangkan gadis masalalunya.
"Sudah, Sya. Jangan menangis lagi. Kamu memang gadis yang ku cintai di masa lalu. Tapi maaf, sekarang Aku sudah memiliki cintaku sendiri. Dan sampai kapanpun Aku tidak akan pernah meninggalkannya ataupun mengkhianatinya," ucap Marcell.
Asya terkejut. Siapa gerangan seseorang itu yang mampu mengalihkan cinta Marcell untuknya? Asya tak mau tahu. Dia hanya ingin Marcell menjadi miliknya apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Kak Marcell jahat! Sampai kapanpun Asya tidak akan pernah menyerahkan Kak Marcell kepada wanita manapun. Kak Marcell hanya milik Asya!"
Setelah mengucapkan kata tersebut, Asya berlari meninggalkan Marcell dan tangisannya. Sementara Marcell bingung bagaimana dirinya harus menjelaskan kepada Asya, jika dirinya telah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Marcell hendak meninggalkan tempat itu. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya seperti di tarik ke belakang. Bibirnya di tutup dengan sebuah kain.
Tanpa sempat menatap siapa pelakunya, Marcell tak bisa melawan alam bawah sadarnya. Marcell pingsan karena telah di bius.
"Akhirnya kami menemukan Tuan muda," ucap pria tersebut menyeringai.
Terlihat dua orang bertubuh besar tengah membawa Marcell kedalam sebuah mobil Limosin yang sangat mewah.
Dan kejadian tersebut telah di saksikan oleh seorang. Dia adalah Nindy. Sejak tadi dia terus mengikuti Marcell. Dia melihat dan mendengar semua percakapannya dengan gadis cantik yang menjadi masalalu Marcell.
Nindy merasa cemburu. Namun dia akui jika saingannya itu ternyata jauh lebih cantik dari dirinya. Tapi dia tak akan pernah mundur. Dia akan bersaing dengan gadis tersebut.
Nindy panik ketika melihat dua orang bertubuh besar membawa Marcell pergi. Dari yang Nindy perhatikan, sepertinya Marcell telah di culik. Gadis itu kebingungan saat ini. Mau menelpon polisi namun dia tak punya bukti.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" gumam Nindy dengan panik.
***
Sementara itu di rumah. Anggi tanpa sengaja menyenggol gelas kaca hingga jatuh dan pecah berantakan.
Anggi merututi dirinya sendiri karena begitu ceroboh.
"Yah, kan jadi pecah," ucapnya seraya memunguti pecahan gelas tersebut. Tiba-tiba saja perasaan Anggi menjadi tak enak. Dia merasa khawatir dengan suaminya.
Anggi segera mencari ponselnya dan menelepon suaminya. Namun ponsel suaminya tidak aktif.
Rasa cemas mulai membuat Anggi menerka-nerka hal yang negatif. Tapi dia segera menepis nya. Dia harus berpikir positif.
Anggi memutuskan pergi ke kampus untuk melihat suaminya. Hanya melihatnya untuk memastikan kecemasannya tidak terjadi.
***
Sampai di kampus, Anggi terkejut saat tiba-tiba saja Nindy menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Kak... Gawat... Marcell...." Ucapan Nindy terpotong-potong membuat Anggi tak mengerti.
Ketika mendengar nama Marcell di sebutkan, Nindy ingin segera tahu apa yang akan gadis di depannya ini katakan.
"Napas pelan-pelan. Bicara yang benar. Ada apa, Nin?" tanya Anggi tak sabar.
Setelah Nindy mengambil nafas dalam-dalam. Akhirnya ia mulai bisa berkata normal.
"Itu kak. Tadi Aku melihat Marcell di bawa oleh dua orang bertubuh besar ke mobilnya. Mereka telah membius Marcell Kak," tutur Nindy.
Seketika Anggi pun terkejut. Rasa cemas dan juga panik membuatnya hampir limbung. Untungnya ada Nindy di sana yang menopang tubuh Anggi yang hampir terjatuh.
"A-apa maksudmu, Nindy? Tidak mungkin Marcell di culik. Menurut ku selama ini Marcell tidak pernah punya musuh." Sanggahan itu langsung langsung Anggi lontarkan.
"Tapi tidak mungkin yang ku lihat tadi salah Kak. Aku nggak sedang bermimpi di siang bolong lho Kak." Nindy berkata serius dan membuat Anggi semakin takut.
"Kalau begitu kita laporkan ke pihak berwajib," ucap Anggi. Nindy menganggukkan kepalanya.
Mereka pun menuju ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Namun sayangnya, pihak polisi tidak akan bertindak sebelum korban dalam 2x24jam tidak pulang.
Anggi begitu kecewa. Tak mungkin dia menunggu selama itu. Bisa-bisa suaminya sudah di habisi sama penculiknya.
Anggi akhirnya pulang dengan tangan kosong. Anggi sempat ingin minta bantuan Papa Gibran. Tapi saat ini Papa sedang berada di luar kota.
Berkali-kali Anggi terus mencoba menghubungi nomor sang suami. Tapi ponselnya tetap masih tak aktif.
Gadis itu tertunduk dan menangis. Anggi benar-benar sangat khawatir dengan suaminya saat ini. Dia ingin tahu dimana Marcell sekarang.
"Sebenarnya kamu dimana Cell?" ratap Anggi.
Sebuah suara terdengar dari pintu depan. Anggi yang mendengarnya, langsung saja melihat ke depan.
Pandangannya menatap tak percaya kepada seseorang yang saat ini tengah membuka pintu tersebut.
Anggi langsung berlari dari menghambur memeluknya.
***
__ADS_1