
Max membaringkan Alana di tempat tidurnya dan dia pun berbaring di samping Alana.
Max menyelimuti tubuh mereka berdua dan Alana semakin merangsek ke dalam pelukan Max.
"Ana berhenti bergerak! Tidurlah aku tidak ingin kamu menerima akibat dari pergerakanmu yang tidak mau berhenti ini," ucap Max dengan suara paruh menahan gejolak nafsunya.
Alana yang tidak sadar dengan apa yang dia lakukan pun terus bergerak dalam tidurnya, Alana menggesek gesekkan wajahnya di dada bidang Max.
Max semakin gelisah sesuatu dalam tubuhnya pun bangkit ingin di tenangkan tapi Alana terus saja membuat bagian bawah tubuh Max bereaksi.
Max pun tidak sanggup lagi menahan gejolak dirinya dengan penuh nafsu Max membuat tubuh Alana telentang dan kemudian menindih tubuh itu.
Alana yang merasakan beban berat di atas tubuhnya pun segera membuka matanya, dan kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Max.
Max menyerang bibir Alana, menggigit bibir bawahnya dan itu membuat Alana otomatis membuka mulutnya, Max pun memasukkan lidahnya bermain di dalam mulut Alana memancing Alana untuk terbuai dalam permainannya.
Alana yang hampir kehabisan nafas itu pun memukul punggung Max dan Max spontan melepas ciumannya dengan tetap menekan tubuh Alana.
"A ... a ... apa yang kamu lakukan?" tanya Alana terbata bata.
"Aku sudah mengingatkan dirimu untuk tidak terus bergerak tapi kamu selalu bergerak maka sekarang terima akibatnya," ucap Max dengan wajah penuh kabut.
"Tapi...,"
Belum sempat Alana membuka suaranya lagi Max telah menyerang kembali bibir Alana, kali ini tidak hanya bibir Max yang bermain tapi tangan Max pun ikut ambil bagian.
Tangan Max meremas dada Alana dan melepaskan satu persatu kancing baju Alana.
Alana yang sudah terbuai oleh cumbuan Max pun tidak menyadari kapan pakaiannya sudah tergeletak di lantai.
Malam ini menjadi malam panjang bagi Max dan Alana kini Max melakukannya dengan penuh kebahagiaan mengingat mereka yang telah sah menjadi suami istri.
Max terbangun ketika mendengar alarmnya berbunyi, Max melirik Alana yang masih terlelap mungkin Alana sangat kelelahan setelah mengingat apa yang mereka lakukan semalam.
__ADS_1
Max pun turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju kamar mandi dia tidak ingin mengganggu tidur Alana.
Setelah berpakaian rapi Max pun segera turun ke lantai dasar dan di sana telah ada Tante Hellen yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka di bantu oleh beberapa pelayan yang ada di rumah ini, sampai saat ini Alana jarang bertemu dengan pelayan pelayan itu karena Max meminta mereka pergi ke paviliun sebelum Alana datang dan datang ke rumah ini sebelum Alana bangun.
Max pun menghampiri Tante Hellen yang sedang menata makanan di ruang makan.
"Selamat pagi Tante," ucap Max sambil duduk di kursi yang biasa dia duduki di meja makan.
"Pagi Max ... apakah Alana belum bangun?" tanya Tante Hellen.
"Ya dia belum bangun," ucap Max datar.
"Apa yang kamu lakukan semalam sampai jam segini Alana belum bangun," goda Tante Hellen.
"Seperti yang di lakukan pasangan suami istri pada umumnya," ucap Max sambil memasukkan sesendok nasi goreng buatan Tante Hellen.
"Oh begitu! Aku kira kamu tidak tertarik dengan wanita karena entah sudah berapa banyak wanita yang sudah aku sodorkan padamu dan Willy tapi kalian sama saja, sama sama lelaki dingin yang tidak menghiraukan wanita wanita itu sampai sampai aku mengira kalau kalian saling menyukai satu sama lain," ucap Tante Hellen sambil bergidik ngeri.
"Walau orang itu bukan aku pasti akan berpikir seperti itu Max melihat tingkah laku kalian berdua," ucap Tante Hellen.
"Sekarang Tante tinggal mencarikan wanita untuk Max karena aku sudah memiliki Alana," ucap Max dan berdiri berniat meninggalkan tempat ini untuk berangkat kerja.
"Max tunggu!" ucap Tante Hellen dan Max pun berhenti ketika mendengar ucapan Tantenya.
"Ada apa lagi Tan? Ini sudah waktunya aku ke kantor," ucap Max sambil melirik jam tangannya.
"Max kapan kamu akan mengatakan yang sebenarnya pada Alana? Kalian sudah menikah dan setidaknya kamu harus mengenalkan Alana pada keluarga besar dan rekan rekan bisnismu," ucap Tante Hellen.
"Nanti Tante jika waktunya tepat aku akan mengatakan sendiri pada Alana," jawab Max dan berlalu pergi meninggalkan Tantenya.
Hellen pun menghela nafas Max sejak kecil sudah terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri, dia selalu menyimpan masalahnya sendiri tidak mau berbagi dengan orang lain satu satunya orang yang di percaya Max untuk berbagi suka dukanya adalah Willy, hanya dengan Willy Max mau berbagi cerita walaupun mereka sering bersikap layaknya musuh tapi mereka saling menyayangi.
Hellen pun duduk sambil melanjutkan sarapannya tidak beberapa lama Alana turun dengan penampilan yang sudah rapi tapi terlihat buru buru.
__ADS_1
Hari ini Alana bangun kesiangan tubuhnya terasa remuk redam entah Max semalam membuat tubuhnya lelah tanpa tenaga.
Alana hari ini harus pergi ke perpustakaan dan mencari tambahan materi untuk makalah yang sedang dia kerjakan.
Alana pun lupa jika saat ini Tante Hellen ada di rumah ini, Alana pun merasa sangat malu karena bangun kesiangan.
"Pagi Tante," ucap Alana.
"Pagi Sayang apa kamu akan ke kampus hari ini?" tanya Tante Hellen.
"Iya Tante ada tugas yang harus di selesaikan hari ini," ucap Alana sambil tersenyum.
"Baiklah tapi ayo sarapan dulu," ajak Hellen.
"Maaf Tan ... Alana sudah kesiangan jadi tidak bisa sarapan dengan Tante," ucap Alana.
"Tidak apa-apa Sayang, ini Tante sudah menyiapkan bekal untukmu bawalah! Tapi maaf Tante tidak tahu apakah kamu menyukai sarapan itu atau tidak karena Tante tidak tahu apa kesukaanmu," ucap Tante Hellen.
"Aku bukan pemilih dalam hal makanan Tante jadi apapun aku suka," jawab Alana.
"Itu bagus Sayang, selamat belajar jangan lupa makan bekalnya," ucap Tante Hellen.
"Siap Tante, aku berangkat dulu," ucap Alana dan memeluk Tante Hellen sebentar.
"Kamu gadis yang baik Alana aku sangat menyukaimu semoga kalian berjodoh sampai tua," ucap Hellen.
Tidak beberapa lama ponsel Hellen berbunyi dan di sana menampilkan nama salah satu pegawai butik miliknya.
"Aku lupa kalau saat ini aku ada janji dengan klien penting," ucap Hellen dan buru buru pergi ke kamar Alana untuk mengambil tas dan kunci mobilnya.
Sementara itu Alana sudah sampai di perpustakaan di sana sudah ada Agnes yang sibuk memilih buku untuk membantu mereka menyelesaikan tugas yang di berikan Dosen kebetulan Alana dan Agnes ada dalam satu kelompok.
Melihat Alana yang datang terlambat Agnes pun menatap tajam Alana, Alana yang menyadari bahwa Agnes sedang kesal padanya pun memegang kedua telinganya sebagai tanda Alana meminta maaf dan Agnes pun menghela nafas panjang dan tersenyum dia tidak bisa marah pada Alana karena hanya Alana yang dia miliki sebagai keluarga di kota ini.
__ADS_1