
Sementara itu di kamar Max, Willy sedang menemani sahabat, saudara angkat sekaligus Bosnya yang sedang berbaring pasca kecelakaan itu, Willy belum mengabari Tante Hellen perihal kecelakaan yang di alami Max dia takut kabar ini akan membuat Tante Hellen panik dan segera meninggalkan Australia dan datang kemari saat ini Tante Hellen sedang melakukan perjalanan bisnis.
"Apakah kamu sudah menemukan siapa pelaku penabrakan itu Willy?" tanya Max.
"Sudah Kak ... Aku sudah menemukan pelakunya dan sudah menjebloskan pelaku itu di jeruji besi," ucap Willy dengan nada dingin yang sangat mirip dengan Max.
"Bagus! Siapa orang yang berniat mencelakai Alana?" tanya Max.
"Tomas ," jawab Willy.
Max menjadi geram mendengar jawaban Willy dia ingin rasanya menghajar orang itu saat ini juga tapi keadaannya tidak memungkinkan.
"Buat perusahaan milik keluarga Tomas semakin hancur dan tidak bisa bangkit lagi biar dia tahu akibatnya jika macam macam dengan keluarga William," ucap Max.
"Baik," ucap Willy.
"Bagaimana keadaan Alana sekarang?" tanya Max.
Willy melihat kekhawatiran di mata Max walau dia menampilkan wajah datar.
"Kakak ipar sudah membaik dan sudah di perbolehkan pulang besok, sedangkan kakak baru boleh pulang seminggu lagi," ucap Willy.
"Besok antar Alana pulang ke rumah pastikan dia mendapatkan apa yang dibutuhkan dan mulai besok para pelayan bekerja seperti semula aku tidak ingin Alana merasa kesulitan di rumah tanpa ada aku," perintah Max.
"Siap laksanakan," ucap Willy.
"Bisakah kamu membantu aku menemui Alana sekarang? Aku sangat merindukannya," ucap Max lirih.
"Tapi Kak Dokter melarang Kakak bergerak terlalu aktif," ucap Willy mengingatkan.
Tapi Max adalah orang yang keras kepala dia pun tetap memaksa Willy mengantarnya ke kamar rawat Alana.
Ketika sampai di depan pintu ruang rawat Alana Max mendengar Alana yang sedang tertawa bersama Agnes dan tanpa sadar sudut bibir Max pun ikut terangkat.
__ADS_1
Max membuka pintu ruang rawat Alana dan Willy membantu mendirikan kursi roda Max masuk ke dalam kamar itu.
Alana dan Agnes yang mendengar suara pintu dibuka pun segera memandang ke arah pintu itu dan di sana terlihat Willy yang sedang mendorong kursi roda Max.
Willy pun memberi isyarat pada Agnes agar meninggalkan Alana dan Max berdua.
"Alana aku keluar sebentar ya," ucap Agnes.
Alana pun menahan tangan Agnes seakan akan meminta Agnes untuk tetap di sini tapi Agnes dengan berat hati melepaskan tangan Alana.
Setelah kepergian Agnes Willy pun menyusul keluar meninggalkan Max dan Alana berdua di kamar rawat itu.
Max memutar roda kursi yang dia duduki mendekat ke arah Alana, Alana yang melihat itu pun segera berbaring dan menyelimuti dirinya.
Alana berbaring dengan posisi menyamping membelakangi Max.
Max tahu kalau Alana masih kesal dengan dirinya yang telah menutupi siapa jati diri Max yang sebenarnya. Tapi menurut Max dia tidak sepenuhnya salah karena Alana sendiri yang berasumsi kalau dirinya seorang supir.
"Aku tahu kamu belum tidur Ana, bisakah kita bicara," ucap Max.
Sebenarnya Alana merasa khawatir dan cemas ketika melihat perban yang melingkar di kepala Max.
Ingin rasanya Alana membelai rambut Max dan meniup luka luka di kepala Max agar sakitnya berkurang tapi kekesalannya masih menumpuk sebisa mungkin dia menahan keinginannya.
Max tetap tidak bergeming dari tempatnya walaupun Alana membelakangi dirinya.
"Ana aku tahu kamu belum tidur dengarkan aku! Besok kamu sudah di ijinkan pulang sedangkan aku masih harus seminggu lagi di sini, pulanglah ke rumah kita besok Willy akan mengantarkan mu pulang dan para pelayan telah siap untuk menjagamu selama aku masih ada di sini," ucap Max.
Hati Alana menghangat ingin rasanya dia berbalik dan menatap Max penuh cinta tapi egonya tidak mengijinkan itu terjadi, Alana pun tetap bertahan dengan posisinya.
"Tidurlah Ana kalau kamu memang benar benar lelah, aku merindukanmu Ana," ucap Max dan memutar kursi rodanya dan keluar dari kamar itu.
Di luar kamar Alana Willy sedang berdiri di depan pintu menunggu Max keluar sedangkan Agnes berada agak jauh dari mereka karena tadi sempat terjadi cek cok dengan Willy gara gara hal sepele.
__ADS_1
Willy pun mendorong kursi roda Max dan membawanya kembali ke kamar rawatnya.
Willy tahu kalau Max tidak bisa melepas rindunya pada Alana itu terlihat dari sorot mata Max yang tidak bersinar seperti sebelumnya kini sinar mata Max terlihat sayu.
Willy tidak berani bertanya terlalu banyak karena dia takut akan terkena amukan Max.
Setelah sampai di kamar Max Willy pun segera membantu Max untuk kembali berbaring.
"Besok pastikan Alana pulang dan di rumah tidak merasa kesulitan," ucap Max.
Willy pun mengangguk sebagai tanda mengerti.
Sementara itu di kamar rawat Alana menangis , setelah mendengar pintu kamarnya dibuka oleh Max dan tidak beberapa lama tertutup kembali Alana pun segera membalikkan badannya dan duduk bersandar di kepala ranjang.
Dia mengingat keadaan Max yang seperti itu karena menyelamatkan dirinya tapi saat ini Alana lebih mementingkan egonya.
Sebenarnya Alana tidak tega melihat Max yang dalam keadaan seperti ini tapi Alana sudah bertekad untuk membuat Max melupakan dirinya agar Max mendapatkan pasangan yang lebih pantas bersanding dengan dirinya.
Agnes yang sudah berada disampingnya pun segera mengulurkan sebuah sapu tangan, Alana yang tidak menyadari sejak kapan Agnes ada di sana pun kaget mendapati Agnes yang mengulurkan sapu tangan.
"Sejak kapan kamu ada di sini Nes? Kenapa aku tidak mendengar kamu membuka pintu," ucap Alana.
"Kamu terlalu sibuk menangis sehingga kamu tidak menyadari kalau aku sudah berada di sampingmu," ucap Agnes.
"Aku tahu Alana kalau kamu sangat sedih melihat keadaan Max yang seperti tadi tapi kenapa kamu masih mementingkan egomu, lihatlah keadaan Max mengapa kamu tega," ucap Agnes.
"Sudahlah no Agnes aku mau istirahat dan aku harap kamu mengerti dengan keputusanku," ucap Alana pada Agnes.
Agnes pun membiarkan Alana semaunya dia tahu sahabatnya satu ini sangat keras kepala.
Keesokan harinya Alana sudah di perbolehkan pulang, Willy sejak tadi pagi sudah bersiap untuk mengantar Alana pulang tapi Alana menolak pulang ke rumah Max dia lebih memilih untuk tinggal bersama Agnes.
Willy yang mendapat perlakuan seperti itu dari Alana pun tidak memaksanya untuk tinggal di rumah Max.
__ADS_1
Willy mengantar mereka sampai pintu keluar rumah sakit dia memperhatikan Alana dan Agnes yang masuk ke dalam taksi.
Max heran kenapa wanita sesederhana Alana bisa membuat Max yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.