SUAMI MISTERIUSKU

SUAMI MISTERIUSKU
Kebenaran Tentang Max


__ADS_3

Ketua yayasan pun segera menghampiri sang guru BK tidak lama Kepala Rektor di kampus ini pun datang.


"Apa kesalahan Alana sehingga Anda ingin mencabut beasiswanya? Apa hak Anda?" tanya Max dengan wajah datar.


Alana yang mendengar ucapan Max pun semakin takut kalau sampai Max salah bicara bisa bisa beasiswa Alana benar benar di cabut.


Alana menghampiri Max dan memeluk lengannya sambil memandang Max dengan tatapan memohon agar Max tidak ikut campur.


Sebenarnya Max tadi ingin menjemput Alana dan mengajaknya berkunjung ke butik milik Tante Hellen tapi Max tidak menemukan Alana di mana pun berada dan akhirnya ada salah satu mahasiswa yang membicarakan Alana yang sedang di sidang di ruang BK dengan segera Max mengajak ketua Yayasan untuk datang ke ruang BK karena sebenarnya Max adalah seorang donatur tetap di kampus ini.


"Alana membuat keributan dan mencelakakan salah satu mahasiswa di kampus ini Tuan," ucap guru BK itu tanpa berani menatap Max.


"Apakah kamu sudah menyelidiki kebenaran dari berita itu? Apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Max sambil mendekat ke arah guru BK dan Yolanda setelah melepaskan tangan Alana yang menahannya.


Alana menatap Max dengan tatapan cemas seandainya Max tidak datang ke kampus ini pasti masalah tidak akan menjadi serumit ini.


"Aku sudah menyelidiki kebenaran berita ini Tuan," jawab guru BK.


"Apa hasil penyelidikanmu?" tanya Max lagi.


"Hasilnya memang benar Alana bersalah dalam masalah ini," ucap guru BK itu.


"Kamu ini seorang Dosen pembimbing atau hanya seorang penjilat, aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri kalau Yolanda lah yang bersalah atas kejadian itu mengapa kamu membelanya," ucap Max dingin.

__ADS_1


"Tapi Tuan atas kejadian ini Yolanda mengalami gegar otak hingga berbulan-bulan tidak bisa masuk kuliah," ucap guru BK itu menyangkal.


"Kamu ini bodoh atau memang sudah tertutup uang suap tidak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, coba tanya Yolanda rumah sakit mana tempat dia di rawat selama gegar otak," ucap Max.


Yolanda yang sejak tadi diam karena terpesona dengan keindahan wajah tampan milik Max, dia merasa sangat iri pada Alana yang bisa mendapatkan pria setampan Max dan mapan pula pun tergagap kaget dengan ucapan Max.


Yolanda merasa kalah telak dengan ucapan serta tatapan tajam Max, Yolanda tidak bisa berkutik.


"Aku ingin Yolanda mendapat sangsi atau di keluarkan dari kampus ini begitu juga dengan guru yang suka menerima suap ini!" ucap Max sambil memandang ketua yayasan dan ketua rektor.


Alana yang mendengar perkataan Max pun kaget, siapa sebenarnya Max hingga bisa memerintah ketua yayasan dan kepala rektor dengan seenaknya kalau dia hanya seorang Asisten pribadi tidak mungkin dia memiliki kekuasaan sampai sebegitu besarnya.


"Baik Tuan Presiden Direktur Anda merupakan donatur tetap di sini jadi kami akan menuruti semua perintah Anda," ucap ketua yayasan.


Alana menegang karena dia baru mengetahui bahwa sebenarnya suaminya seorang CEO


perusahaan besar William corp.


Sedangkan Max menegang karena Alana pasti tahu kalau dirinya adalah seorang CEO seharusnya Alana mendengar dari mulutnya sendiri bukan dari orang lain apalagi seperti ini kondisinya.


Yolanda pun tidak kalah kaget dia yang mengira Max hanya seorang Asisten Pribadi pun merasa semakin sakit hati pada Alana karena Alana lebih beruntung dari dirinya sejak dulu Yolanda merasa iri pada Alana sebab itu dia merebut semua dari Alana termasuk Aldi juga rumah serta perusahaan milik keluarga Alana.


Max pun segera menghampiri Alana dan mengajaknya keluar dari ruangan itu, Alana diam saja hanya mengikuti Max keluar dari ruangan BK.

__ADS_1


Pikiran Alana entah kemana dia merasakan hatinya sangat sakit, dia paling tidak suka di bohongi dan kini dia di bohongi oleh suaminya sendiri sungguh sakit hatinya.


"Alana aku tahu kamu kaget dan marah mengetahui siapa aku sebenarnya, maaf," ucap Max ketika mereka sudah berada di taman belakang kampus.


Max sengaja membawa Alana ke taman belakang agar mereka bisa membicarakan semuanya dengan kepala dingin.


"Siapa sebenarnya kamu Max? Mengapa aku tidak mengenalimu? Mengapa aku merasa asing dengan suamiku," ucap Alana dengan datar.


"Aku sebenarnya Max Herdian William CEO sekaligus pemilik William corp," ucap Max.


"Mengapa kamu tidak mengatakan kebenarannya padaku Max! Mengapa aku harus mendengar dari mulut orang lain bukan darimu," ucap Alana penuh kekecewaan.


"Rencananya aku ingin mengatakan siapa aku waktu pertemuan kedua kita tapi kamu telah berasumsi kalau aku seorang supir jadi aku pun mengikuti apa yang kamu pikirkan dan berniat menjelaskan semuanya hari ini saat kita berkunjung ke butik Tante Hellen tapi kamu sudah lebih dulu tahu," ucap Max.


"Pertemuan kedua? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alana ketika mengingat perkataan Max yang mengatakan pertemuan mereka di depan rumahnya itu merupakan pertemuan kedua.


"Apakah kamu tidak ingat sama sekali? Apakah wajah dan namaku tidak bisa mengingatkan dirimu pada apa yang terjadi malam itu?" tanya Max.


"Cukup Max jangan bertele-tele sungguh aku tidak tahu apa yang kamu maksud," ucap Alana yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Hati Alana sebenarnya sangat kecewa pada Max karena selama ini Max tidak jujur padanya.


"Malam itu ada seorang gadis yang terus mencoba memasukkan kode pada pintu kamar hotel yang aku tempati, aku perhatikan dari kamera yang ada dalam kamar gadis itu selalu salah memasukkan kode lama lama aku geram karena gadis itu terlihat seperti mabuk aku ingin mengusir gadis yang mencoba membuka pintu kamarku, akhirnya aku membuka pintu kamar hotel itu dan aku melihat seorang gadis yang tengah duduk bersimpuh di lantai ingin rasanya aku mengusirnya tapi gadis itu masuk ke dalam kamarku begitu saja melalui sela sela kakiku dan dengan seenaknya dia berbaring di tempat tidurku, aku geram melihat tingkahnya seumur umur belum ada seorang wanita pun yang berani naik ke tempat tidurku, jangankan tempat tidur mendekati diriku saja tidak ada yang berani, aku berniat mengusir gadis itu tapi tiba-tiba dia menarikku dan mencium bibirku, aku kaget dan ingin rasanya mendorong gadis lancang itu sampai terjatuh dari tempat tidur tapi ketika aku melihat sorot matanya yang penuh rasa kecewa aku pun ikut hanyut dalam permainan panas yang di ciptakan oleh gadis itu," ucap Max panjang menjelaskan pada Alana. Ini merupakan pertama kali Max berbicara seperti ini, ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah Max ucapkan setelah kepergian kedua orang tuanya.


Alana yang mendengar cerita Max pun mengingat kembali kejadian di hotel yang mengakibatkan dia kehilangan mahkotanya karena rasa sakit yang ditorehkan Aldi.

__ADS_1


Alana tidak menyangka kalau orang yang bersamanya malam itu adalah Max yang kini telah menjadi suaminya.


__ADS_2