
Pagi ini Willy menghubungi orang suruhannya untuk menjebak Amanda sesuai rencana yang telah dia susun, Willy sudah tidak sabar ingin segera membuat wanita itu jera.
Willy menyuruh orang kepercayaannya untuk membooking restoran di lantai bawah yang ada di hotel tempat mereka menginap dan Willy tahu kalau Amanda juga sedang menginap di hotel yang sama.
Willy mengirim pesan pada Max menceritakan semua rencananya, dia butuh bantuan Max untuk berpura pura mengirim pesan pada Amanda dan mengajaknya untuk sarapan di lobi hotel.
Max berdecak kesal ketika membaca pesan dari Willy sungguh dalam mimpi pun dia tidak sudi untuk mengajak wanita ****** seperti Amanda untuk sarapan bersama.
"Tidak! aku tidak sudi walau itu hanya sekedar mengirim pesan basa basi apalagi itu sungguhan mengajak wanita murahan itu untuk sarapan bisa bisa aku muntah sebelum menyentuh makananku," kata Max dalam membalas pesan dari Willy.
Willy yang mendengar notifikasi tanda ada pesan masuk di ponselnya pun segera mengambil ponsel dari saku celana seperti yang sudah dia duga Max pasti tidak akan setuju tapi ini adalah satu satunya jalan agar semua masalah ini segera teratasi.
"Ayolah Kak! ini hanya sekedar sandiwara tidak lebih dari tiga puluh menit semua akan beres dan Kakak bisa menjelaskan semuanya dengan tenang pada kak Ana," balas Willy.
Willy berharap Max akan berubah pikiran dengan dia menyebut nama Ana dalam rencananya kali ini.
"Aku tidak sudi wanita murahan itu memiliki nomer ponselku," balasan Max pun segera masuk ke ponsel Willy.
Willy menghela nafas dan berusaha untuk bersabar menghadapi bos sekaligus sahabat bahkan kakak angkatnya ini karena Willy tahu seberapa alerginya Max dengan mana macam Amanda ini.
"Tenang Kak! di laci meja samping tempat tidur aku sudah siapkan nomer baru yang siap kakak gunakan untuk menghubungi Amanda setelah itu buang jadi beres semuanya," balas Willy menjelaskan.
__ADS_1
Willy telah mempersiapkan semuanya termasuk kemungkinan kalau Max tidak mau mengirim pesan dari nomer pribadi atau nomer bisnisnya jadi dia sengaja membeli nomer perdana baru dan mempersiapkan semuanya untuk Max.
"Hemmm," balasan dari Max pun kembali masuk ke ponsel Willy.
Willy pun tersenyum lega akhirnya Max menyetujui rencananya dan menuruti permintaan Willy untuk mengirim pesan pada Amanda untuk mengajaknya sarapan di restoran lobi hotel.
Max membuka laci meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya, seperti yang dikatakan Willy di sana ada kartu perdana baru yang siap dia gunakan untuk sandiwara pagi ini. Max segera mengambilnya dan memasang pada ponsel cadangan yang selalu Max simpan dalam tas kerjanya. Max selalu membawa ponsel cadangan di dalam tas kerjanya untuk berjaga jaga jika diperlukan sewaktu waktu dan saat ini ponsel cadangan ini ada gunanya juga.
Setelah memasang kartu perdana itu Max langsung mengaktifkan nomor yang disiapkan Willy. Max berdecak sebal ketika menyadari kalau saat ini dia belum memiliki nomor Amanda. Dengan kesal Max segera menghubungi Willy pada deringan ketiga Willy segera mengangkat telfon dari Max.
"Ya Kak! ada yang perlu saya bantu?" tanya Willy yang saat ini sedang mengarahkan anak buahnya untuk memasang beberapa cctv di lobi hotel.
"He bocah ingusan yang tidak laku laku bagaimana caraku menghubungi wanita murahan itu kalau nomernya saja aku tidak punya," ucap Max dari seberang telepon dan bagi Willy sudah hafal kalau saat ini Max sedang kesal ketara dari suaranya.
"Oh iya Kak aku lupa! oke sebentar aku kirim nomornya," jawab Willy sambil menahan tawa.
Tanpa berkata sepatah katapun Max segera mematikan sambungan teleponnya.
Tidak berapa lama notifikasi tanda pesan masuk pada ponsel Max berbunyi dilihatnya pesan dari Willy sudah pasti Willy mengirimkan nomor Amanda.
Max segera mengetik nomor Amanda pada ponsel cadangannya dia pun tidak menyimpan nomor itu dengan segera Max mengirim pesan pada Amanda.
__ADS_1
"Aku tunggu kamu untuk sarapan bersama denganku di restoran lobi hotel setengah jam lagi," tulis Max dan mengirimnya pada Amanda. Ini memang gaya bahasa Max dia tidak mau berbasa-basi dia tipe orang yang selalu to the poin tidak bertele-tele apa lagi pada wanita licik seperti Amanda ini.
Sementara itu Amanda yang menerima pesan dari nomer asing yang tidak dia kenal dan tiba-tiba mengajaknya sarapan di lobi hotel yang berarti orang ini tahu kalau dia saat ini sedang berada di hotel Amanda penasaran siapa orang ini segera Amanda mengirimkan pesan balasan.
"Maaf kalau boleh tahu ini siapa?" balas Amanda. Sebagai publik figur Amanda harus bersikap sopan dan ramah pada siapapun walaupun dia belum tahu entah itu kawan atau lawan dia tidak mau ambil resiko hanya dengan sekedar pesan yang tidak sopan bisa menjadi boomerang untuknya dikemudian hari.
Max yang membaca balasan dari Amanda pun berdecak sebal sekaligus geram karena wanita ini bertele tele tapi kalau dipikir kembali memang wajar kalau Amanda membalas seperti itu karena dia belum tahu kalau ini nomor Max.
"Max," balasan singkat segera di kirim oleh Max karena dia tidak ingin berlama-lama membuang waktu dengan wanita licik seperti Amanda.
Amanda yang mendapat balasan satu kata ini merasa antara percaya dan tidak, dia ingin mempercayai bahwa ini benar benar Max tapi satu sisi dia ragu kalau ini benar benar Max karena kemungkinan sangat kecil kalau Max mau menghubungi dirinya karena kemarin pernah Amanda berusaha menghubungi Max setelah tersambung dan diangkat sebentar lalu nomornya diblokir Amanda punya nomor Max ketika mencurinya dari ponsel Alana waktu di pesta itu.
Amanda yang tidak begitu percaya pun segera melakukan panggilan video untuk memastikan bahwa itu benar benar Max, sementara itu Max yang mendapat panggilan video dari Amanda pun semakin sebal.
"Kalau ini bukan demi segera terselesaikan masalah dan aku bisa memberi penjelasan pada Ana sungguh aku tidak sudi mengangkat telfon dari wanita ****** ini," umpat Max.
Dengan terpaksa Max pun mengangkat panggilan video itu agar Amanda yakin kalau dia mengajaknya untuk sarapan bersama.
"Oh mimpi apa aku semalam! ini benar kamu Tuan Max," ucap Amanda setengah berteriak saking gembiranya.
"Hmmm... cepat persiapkan dirimu jika kamu mau sarapan denganku! aku tunggu 15 menit lagi," ucap Max dengan aura dinginnya.
__ADS_1
"Baiklah Tuan aku akan segera bersiap," jawab Amanda dengan penuh semangat.
Max pun segera mematikan sambungan telepon karena dia sudah tidak tahan untuk berlama lama melakukan panggilan video dengan wanita licik itu.