
Ini sudah hari ketujuh Willy tidak masuk kerja Alana selalu menemani Max ke kantor, Max selalu memperlakukan Alana seperti seorang ratu dan begitu pula bila di kantor Max selalu membuat para karyawan di sana merasa iri dengan keberuntungan Alana yang mendapatkan suami yang sempurna, paras yang bak dewa Yunani, uang yang tanpa seri, kasih sayang dan cinta yang berlimpah sungguh semua mata yang menatap pasti menelan ludah ingin merasakan kehidupan yang seperti ini, Alana pun merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Max, semua kasih sayang yang tidak pernah dia rasakan setelah kepergian ibunya kini terbayar lunas dengan kehadiran Max. Ayahnya yang berada di penjara pun sudah di bebaskan oleh Max dan kini mengurus salah satu cabang perusahaan milik Mark yang ada di Indonesia, sebenarnya Max sudah menawari ayah Alana untuk tinggal di Jerman bersama Alana dan Max tapi ayah Alana menolak dengan alasan dia sudah terbiasa tinggal di Indonesia dan tidak kerasan tinggal di Jerman Alana dan Max pun menuruti semua keinginan ayahnya.
Hari ini Alana kembali ikut ke kantor Max dia bermain ponselnya sambil berbaring di sofa
"Sayang ayo kita makan siang! Ini sudah waktunya makan siang jangan sampai telat kasihan anak kita," ucap Max sambil mengelus perut Alana yang semakin besar.
"Iya ayo! aku juga sudah lapar," ucap Alana sambil tersenyum.
Max pun merangkul Alana dan membawanya keluar, sepanjang perjalanan semua karyawan yang melihatnya selalu berbisik mereka membicarakan betapa serasi pasangan bos mereka yang perempuan cantik dan yang laki laki tampan juga mapan. Alana dan Max juga sempat mendengar apa yang mereka bicarakan tapi mereka hanya menanggapi dengan senyuman.
Alana dan Max tiba di restoran favorit yang biasa mereka kunjungi, seperti biasa Max dan Alana duduk di sudut ruangan dipinggir jendela. Mereka sangat menyukai makan di tempat ini karena mereka pun bisa melihat pemandangan pusat kota melalui jendela kaca ini.
"Sayang kenapa kamu pesan makanan sebanyak ini? apakah kita akan bisa menghabiskannya?" tanya Alana ketika melihat pelayan restoran menyajikan makanan yang lumayan banyak.
"Kita akan makan siang bersama temanku dan kekasihnya apakah kamu keberatan? maaf sebelumnya aku tidak memberi tahumu," ucap Max.
"Tentu saja tidak Max! aku malah senang kamu memperkenalkan aku dengan temanmu karena selama ini yang aku tahu temanmu hanya Willy saja," ucap Alana.
"Terima kasih Sayang kamu tidak keberatan," ucap Max sambil menggenggam tangan Alana yang ada dihadapannya.
"Apakah masih lama temanmu itu datang? aku sudah lapar," ucap Alana sambil tersenyum.
"Sebentar lagi kalau kamu sudah lapar makanlah dulu kuenya Sayang," ucap Max sambil menyerahkan sepotong kue kepada Alana.
__ADS_1
Kue itu dihias cantik disebuah piring saji yang terbuat dari keramik dan kue itu mirip sekali dengan kue yang pernah dia makan dengan Agnes waktu di pesta peresmian perusahaan Max dulu waktu mereka menjadi pelayan di sebuah restoran yang mempersiapkan pesta itu.
"Ah aku melihat kue ini jadi teringat Agnes, aku merindukannya tapi seminggu ini nomornya tidak bisa dihubungi," ucap Alana sambil menghela nafas.
"Aku juga merindukanmu Ana bahkan sangat merindukanmu," sebuah suara berasal dari samping kursi yang Alana duduki membuat Alana sedikit kaget, suara yang tidak asing di telinganya. Dia menoleh dan melihat Agnes berdiri disampingnya dengan menggunakan gaun selutut berwarna hijau rambutnya pun tertata rapi penampilan Agnes sungguh sangat berbeda dengan dirinya yang dulu Alana hampir saja tidak mempercayai matanya sendiri bahwa gadis yang berdiri di sampingnya adalah Agnes temannya.
"Agnes... benarkah ini dirimu?" ucap Alana sambil berdiri dan memeluk sahabatnya itu.
"Iya Ana ini aku," jawab Agnes membalas pelukan sahabatnya.
Mereka berpelukan cukup lama melepas rindu hingga sebuah deheman membuat mereka saling melepaskan pelukannya.
"Sudah ayo kita makan dulu nanti di lanjut kangen kangenannya aku sudah lapar," ucap Willy.
"Willy kamu berhutang penjelasan padaku," ucap Alana ketus
"Siap Kak! nanti pasti aku jelaskan semuanya tapi mari kita makan dulu kasihanilah cacing cacing di perutku ini sudah demo minta diisi, tadi aku sudah mengajak Agnes untuk makan dulu tapi dia menolak dengan alasan ingin segera bertemu denganmu," ucap Willy sambil melirik Agnes.
"Baiklah ayo kita makan dulu bukankah kamu juga sudah lapar Sayang," ucap Max.
Alana pun mengangguk mereka makan siang bersama tanpa ada satupun yang bersuara, mereka menikmati makanan dengan rasa bahagia tanpa mereka sadari akhirnya makanan itu telah habis mereka santap.
"Ayo Will jelaskan semua padaku!" perintah Alana setelah mereka menyelesaikan makan siang dan para pelayan restoran membersihkan meja mereka.
__ADS_1
"Hahaha Kakak mau bagian yang mana yang aku ceritakan?" ucap Willy disela tawanya mengingat bagaimana konyolnya awal hubungan Willy dan Agnes.
"Semuanya! mulai dari awal kalian bisa jadi sepasang kekasih," ucap Alana.
"Panjang Kak cerita tidak akan habis diceritakan tujuh purnama," jawab Willy cengengesan.
"Ayo Will cepat ceritakan jangan buat istriku semakin penasaran!" ucap Max yang sejak tadi diam saja.
"Baiklah Kak aku akan menceritakan semuanya padamu," ucap Willy.
Willy pun bercerita bagaimana hubungannya dengan Agnes bisa terjalin, berawal dari dia yang mengantarkan Agnes pulang ke kontrakan ketika mabuk di pesta bersama Alana, Willy harus merawat Agnes yang tiba-tiba demam paska mabuk karena di sana Agnes tidak memiliki keluarga Willy tidak tega membiarkan Agnes yang tinggal seorang diri itu sakit sendirian. Mereka yang sering bertemu itu tiba-tiba menumbuhkan rasa aneh diantara keduanya awalnya Agnes menyimpan sendiri perasaannya dia tidak berani mengungkapkan karena dia sadar perbedaan status mereka berdua, mereka bertukar nomor ponsel atas permintaan Willy dengan alasan kalau dia tiba-tiba sakit lagi Willy tidak mau kena marah dari Alana karena di kira tidak becus mengerjakan tugas yang diberikan Max. Agnes pun memberikan nomor ponselnya mereka hampir setiap hari komunikasi dan dari kebiasaan itu rasa yang tumbuh di hati mereka semakin kuat hingga satu bulan yang lalu Willy menyatakan perasaannya yang disambut dengan hati berbunga-bunga oleh Agnes.
"Begitu Kak ceritanya," ucap Willy menutup cerita.
"Jadi selama ini kalian LDR gitu?" tanya Alana.
"Ya tapi baru sebulan kami resmi LDR, sebelumnya kami hanya komunikasi biasa liwat WhatsApp hingga Willy menembakku, setelah satu bulan kami jadian Willy pulang dan mengajakku ke sini," kali ini Agnes yang menjawab pertanyaan Alana.
"Kamu menyebalkan Agnes kenapa kamu merahasiakan ini dariku," ucap Alana sambil cemberut.
"Maafkan aku Ana ini semua permintaan Willy katanya dia ingin membuat kejutan untukmu," jawab Agnes.
Alana pun melotot ke arah Willy yang dibalas dengan senyuman jahil khas miliknya.
__ADS_1