SUAMI MISTERIUSKU

SUAMI MISTERIUSKU
Rumah Kita


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Max menggerutu tak jelas karena dia tak dianggap oleh istrinya.


Alana sibuk berbincang dan bercanda dengan Willy sedangkan Max dianggap kasat mata.


Willy sesekali melirik Max yang duduk di kursi penumpang belakang sedangkan Alana memilih duduk di samping kursi kemudi.


"Willy besok temani aku jalan jalan ya! aku ingin melihat suasana di sini," kata Alana.


Belum sempat Willy membuka mulut untuk menjawab ajakan Alana Max menyahut lebih dulu.


"Willy besok ada rapat Sayang, aku temani ya jalan jalannya" ucap Max.


" Tidak mau aku maunya sama Willy! oh ya aku ada ide bagaimana kalau kamu saja yang menghadiri rapat menggantikan Willy kali ini biar Willy menemaniku jalan jalan," ucap Alana enteng.


Max mengusap wajahnya frustasi entah kenapa ketika mendengar kabar Alana hamil dia merasa ingin selalu dekat dengan Alana tapi istrinya itu malah bersikap seperti alergi padanya, Max bingung sebenarnya ada apa dengan dirinya juga dengan perubahan sikap Alana.


Willy sejak tadi memperhatikan Max sebenarnya dia ingin tertawa terbahak-bahak karena Max yang diktator kini menjadi budak cinta tapi ketika melihat ekspresi frustasi pada wajah Max dia pun tidak tega.


"Maaf Kak aku besok ada rapat penting yang tidak bisa digantikan kita jalan jalan lain waktu untuk besok biar Kakak ditemani kak Max," ucap Willy.


"Hmmm..." jawab Alana sambil memandang keluar jendela mobil.


Akhirnya mereka sampai di rumah Max, pintu pagar pun dibuka oleh seorang satpam, pemandangan pertama yang dilihat Alana di halaman rumah itu ada sebuah taman yang indah tertanam beberapa macam bunga yang tertata rapi ada sebuah ayunan di tengah taman, disebelah ayunan ada sebuah kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai ditengah tengah kolam. Tanaman teratai itu sedang berbunga sangat indah dipandang.


Alana tersenyum dan ketika keluar dari dalam mobil segera beranjak menuju taman itu.


Alana duduk di ayunan sambil memperhatikan ikan yang sedang berenang kesana kemari, sejak kecil Alana ingin sekali memiliki rumah yang ada tamannya seperti ini tapi setelah ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi Alana tidak bisa mewujudkan impiannya.


Ketika Alana mengingat ayahnya air mata Alana jatuh tanpa dia sadari.


Max yang melihat Alana sedang menangis pun segera menghampirinya.


"Kenapa Sayang? apakah kamu tidak menyukai taman ini?" tanya Max dengan nada khawatir.

__ADS_1


Alana menggeleng sambil menyeka air matanya.


"Lalu kenapa kamu menangis? jangan buat aku khawatir ayo katakan padaku ada apa?" ucap Max yang sudah duduk di ayunan bersama Alana dan membawa Alana dalam pelukan untuk memenangkannya.


Diusapnya rambut Alana dengan penuh kasih sayang dia berharap dengan perlakuannya seperti ini Alana bisa berbagi apa yang sedang dirasakan dengannya.


"Aku merindukan ayah," ucap Alana setelah merasa tenang.


"Sabarlah Sayang! orang suruhan ku sedang mengurus semuanya semoga ayah segera bisa berkumpul kembali dengan kita," ucap Max.


"Ya semoga saja sebelum anak kita lahir ayah sudah bebas, pasti ayah senang memiliki cucu" ucap Alana sambil tersenyum disisa tangisnya.


"Ayo kita masuk! udara di sini kurang baik untukmu, ayo aku tunjukkan rumah kita! " ajak Max.


Alana pun mengangguk, Max berjalan sambil memeluk Alana, dia merasa lega akhirnya Alana tidak lagi bersikap jutek padanya.


Seorang pelayan membuka pintu untuk Max dan Alana, wanita paruh baya itu tersenyum dan membungkuk menyapa Alana dan Max.


"Sayang kenalkan ini kepala asisten rumah tangga kita namanya bi Rumi dia orang kepercayaan mami oleh sebab itu mami memerintahkan aku membawa bi Rumi kesini untuk membantumu," ucap Max menjelaskan.


"Jadi Bibi orang Indonesia juga? saya kira Bibi orang Jerman yang dipekerjakan oleh suamiku, wajah Bibi mirip orang Jerman," ucap Alana.


"Saya sebenarnya asli orang Jerman Non tapi nyonya besar memperkerjakan dan membawa saya ke Indonesia sudah hampir 20tahun jadi saya sudah seperti orang Indonesia," jawab Bibi Rumi.


"Ini artinya Bibi baru kembali ke negara ini?" tanya Alana.


"Iya Non saya baru tiba tadi pagi," jawab bi Rumi.


"Ayo Sayang bincang bincangnya sama bi Rumi dilanjutkan nanti sekarang istirahat dulu setelah itu aku temani berkeliling rumah ini biar kamu tahu kondisi dan tata letak rumah kita," ajak Max.


Alana pun mengangguk kemudian berpamitan pada bi Rumi.


"Alana ke dalam dulu ya Bi," pamit Alana.

__ADS_1


"Ya Non silahkan," jawab bi Rumi.


Max membawa Alana ke lantai dua, di sana hanya ada satu kamar utama, sebuah ruang kerja dan satu kamar lagi yang digunakan sebagai ruang fitness.


"Ayo Sayang ini kamar kita masuklah!" ucap Max.


Alana melangkahkan kakinya memasuki kamar itu, nuansa warna hitam dan putih menyapa Indra penglihatan Alana. Kamar itu terkesan tenang sangat nyaman untuk beristirahat.


Sebuah ranjang king size dan meja kecil berada disudut ruangan dan yang paling membuat Alana kagum dari jendela kamar ini Alana bisa melihat pusat kota dengan gedung gedung pencakar langitnya. Alana berdiri di depan jendela dan mengamati pusat kota dari dalam kamarnya.


"Apakah kamu suka dengan rumah kita," sebuah suara bisikan terdengar di telinga Alana.


Alana terkejut sesaat tapi kembali rileks Max tiba-tiba sudah berada di belakangnya, memeluk Alana dan menyadarkan dagunya di bahu Alana.


"Ya aku sangat menyukainya, terima kasih untuk semua perhatian dan kasih sayangmu Max," ucap Alana.


"Semua akan aku lakukan untukmu Sayang karena aku sangat mencintaimu," ucap Max.


Alana terkejut dengan pengakuan Max yang kali ini diungkapkan tidak hanya dengan tindakan tapi juga diungkapkan secara langsung dengan kata kata Alana merasa terharu dia berbalik badan dan segera memeluk Max.


"Aku juga mencintaimu Max," ucap Alana.


Max pun tersenyum dalam pelukan Alana dielus punggung Alana penuh kasih sayang.


"Iya Sayang aku tahu, ayo istirahatlah ingat di dalam sini sedang tumbuh anak kita, dan kamu juga butuh istirahat untuk memulihkan tenagamu," ucap Max.


Alana pun mengangguk dan segera berjalan menuju ranjang tempat tidur mereka, Max pun menyelimuti tubuh Alana lalu menyalakan AC dan kemudian ikut berbaring di sisi Alana, Max mengecup dahi Alana dan mengusap lembut rambutnya.


"Tidurlah aku akan menemanimu di sini," ucap Max.


Alana mengangguk dan tidur dalam pelukan Max, Alana merasa sangat nyaman sehingga tidak berapa lama dia pun sudah terbang ke alam mimpi.


Max memperhatikan wajah damai Alana ketika sedang tidur, dikecupnya bibir Alana sekilas.

__ADS_1


"Aku berjanji padamu Sayang! aku akan berusaha membuatmu selalu bahagia, aku akan berusaha sebisanya untuk segera membuat ayah keluar dari penjara," ucap Max.


Max pun akhirnya memejamkan mata, kini hatinya lebih tenang karena Alana sudah tidak uring-uringan lagi.


__ADS_2