
Beberapa hari ini Agnes tinggal di rumah Alana itu membuat Alana sangat senang dia ada teman untuk bercerita dan tidak merasa jenuh di rumah.
Max pun merasa tenang meninggalkan Alana bekerja dia merasa Alana berada bersama orang yang tepat untuk menemani hari hari mendekati persalinan.
Hari ini weekend Willy mengajak Agnes jalan jalan karena libur kerja, Max pun ingin mengajak Alana tapi Alana merasa malas dan badannya kurang fit maka dia lebih memilih untuk tinggal di rumah saja.
Max dan Alana berbaring di tempat tidur mereka bersantai menikmati weekend di rumah.
"Ayo kita ke dokter Sayang kalau kamu merasa kurang enak badan sekalian kita periksa kandungan!" ajak Max.
"Aku tidak apa-apa Max mungkin aku kecapekan karena beberapa hari ini sering bergerak kesana-kemari bersama Agnes," jawab Alana meyakinkan.
"Baiklah Sayang kalau kamu hanya merasa seperti itu, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita, istirahatlah aku akan memijit kakimu," ucap Max.
Max pun memijit kaki istrinya, Alana terlihat sangat menikmati tapi tidak begitu lama terlihat Alana yang sedang meringis kesakitan Max pun panik melihat keadaan istrinya.
"Kamu kenapa Sayang apakah ada yang sakit?" tanya Max khawatir.
"Sepertinya aku mau melahirkan Max," ucap Alana.
Max pun semakin panik ini pengalaman pertama baginya, Max turun dari tempat tidur dia segera berlari menuju lemari mengambil semua persiapan untuk melahirkan yang sudah di persiapkan oleh Alana.
Max berlari keluar membawa tas itu dan meninggalkan Alana sendiri yang sedang kesakitan di dalam kamar.
Tidak beberapa lama Max pun kembali masih dengan tas di tangannya dia datang menghampiri Alana dengan wajah cemas dan paniknya Alana pun tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Max jangan panik ini biasa terjadi pada masa persalinan," ucap Alana berusaha menenangkan suaminya.
"Ayo Sayang aku akan membantumu," ucap Max.
Max menggendong Alana dan membawanya turun ke lantai bawah.
Alana mengalungkan tangannya di leher Max sesekali terdengar desisan Alanan yang sedang menahan sakit dan itu membuat Max semakin khawatir.
Max berteriak pada asistennya untuk menyiapkan mobil dan meminta sopir segera bersiap, Max menggendong Alana dengan setengah berlari membawa Alana menuju mobil yang sudah siap dihalaman.
Max masuk dibangku penumpang belakang bersama Alana.
"Cepat kita ke rumah sakit!" ucap Max.
Mobil pun melaju menuju rumah sakit.
"Tahan ya Sayang," ucap Max sambil mengelap dahi Alana yang berkeringat walau AC mobil sudah di nyalakan tapi dahi Alana masih saja berkeringat wajah Alana terlihat pucat menahan rasa sakitnya kontraksi dan itu sukses membuat Max semakin khawatir.
__ADS_1
"Bisa lebih cepat!" perintah Max.
"Ini sudah cepat tuan keadaan jalan rame jadi tidak bisa lebih cepat lagi," jawab sopir.
"Ah sial!" umpat Max.
Alana yang melihat suaminya semakin cemas pun segera menggenggam tangannya sambil tersenyum di sela rasa sakitnya.
"Tenang Max aku tidak apa apa jangan terlalu panik ini sudah biasa terjadi pada orang yang mau melahirkan," ucap Alana menenangkan.
Max pun mengecup kening Alana entah seberapa besar rasa khawatir dan panik yang dirasakan Max saat ini seandainya saja dia bisa mengalihkan rasa sakit ini padanya mungkin Max sudah melakukan sejak tadi.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit di sana dokter dan beberapa perawat sudah bersiap Menunggu Max, ketika Max keluar dari mobil dan menggendong Alana para perawat itu mendorong brankar menghampiri Max.
Max membaringkan Alana di brankar dan para perawat segera mendorong menuju ruang persalinan.
Sesampainya di depan ruang persalinan dokter meminta Max untuk menunggu di luar tapi Max bersikeras untuk ikut masuk Max sangat khawatir melihat Alana yang sedang kesakitan maka dia memutuskan untuk tetap berada di samping Alana apapun yang terjadi.
Akhirnya dokter pun mengijinkan Max menemani Alana memasuki ruang persalinan.
Max meminta agar persalinan di lakukan dengan cara operasi tapi Alana masih bersikukuh untuk melahirkan secara normal akhirnya mau tidak mau Max pun menyetujui permintaan Alana.
Max berada di samping Alana menggenggam tangan Alana erat seakan Max menyalurkan kekuatannya pada Alana melalui tangan itu.
Sesekali Max mengelap peluh yang ada di dahi Alana. Tidak terasa air mata Max jatuh dia tidak tega melihat Alana yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
Max pun terharu melihat bayi yang masih merah itu di angkat suster untuk dibersihkan.
Max mengecup kening Alana berkali kali sebagai tanda dia sangat bahagia.
"Terima kasih Sayang... terima kasih untuk perjuanganmu melahirkan putra kita," bisik Max pada Alana yang kini sedang berusaha memulihkan tenaganya pasca melahirkan.
Alana hanya tersenyum karena saat ini tubuhnya merasa tidak ada tenaga. Alana memejamkan matanya untuk beristirahat dan keadaan seperti ini membuat Max khawatir.
"Dokter kenapa istri saya matanya terpejam?" tanya Max penuh khawatir.
"Tidak apa-apa Max itu sudah biasa terjadi pada ibu pasca melahirkan," jawab Aish.
Max pun mengelus pucuk kepala Alana penuh kasih sayang dan perlakuan Max yang seperti itu membuat Aish iri dengan keberuntungan Alana yang berhasil memiliki hati Max.
Setelah proses persalinan selesai Alana pun di pindahkan ke ruangan perawatan untuk memulihkan tenaganya.
Alana beristirahat untuk memulihkan tenaganya dan Max setia menungguinya.
__ADS_1
Bayi mungil itu pun sudah berada satu ruangan bersama mereka.
Wajah tampan Max di Warisi oleh bayi itu. Max menoel pipi bayi mungil itu kulit yang masih kemerahan dan kulitnya yang sangat lembut membuat Max senang menyentuh bayi itu.
Tidak beberapa lama terdengar pintu terbuka pelan pelan dan terlihat Willy dan Agnes memasuki ruangan itu tadi Max sempat mengabari Willy kalau Alana sudah melahirkan.
Willy berjalan menghampiri box bayi itu dan melihat bayi tampan menggemaskan di sana Willy pun ingin menyentuhnya tapi tangannya ditampel oleh Max.
"Jangan pegang pegang cuci dulu tanganmu!"ucap Max ketus.
Willy pun cemberut tapi dia menuruti perintah Max, Willy pun mencuci tangannya dan kembali menghampiri Max.
"Aku sudah mencuci tanganku Kak bolehkah aku menggendong keponakanku?" tanya Willy.
"Tidak boleh dia masih rentan," jawab Max.
"Ah dasar pelit, ayo baby kita buat sendiri," ucap Willy sambil memandang ke arah Agnes yang duduk di samping ranjang Alana.
Max yang mendengar ucapan Willy pun segera memukul kepala Willy.
"Nikah saja belum sudah mau main bikin anak," ucap Max.
Willy pun meringis mendapatkan pukulan dari Max.
Alana yang baru saja membuka matanya pun ikut tersenyum melihat tingkah Max dan Willy.
Dalam hati Alana bersyukur memiliki Max, dia sosok yang penuh kasih sayang Alana merasa beruntung memiliki Max.
Max yang melihat Alana sudah membuka matanya pun segera menghampiri. Agnes pun memilih untuk meninggalkan Max dan Alana dia berjalan menghampiri box bayi, Agnes memberikan kesempatan Max untuk bersama Alana.
"Terima kasih Sayang kamu telah melahirkan pangeran yang sangat tampan," ucap Max sambil tersenyum.
"Terima kasih Max untuk semua kebahagiaan yang telah kamu berikan padaku," balas Alana sambil tersenyum.
"Apapun akan aku berikan untukmu dan anak kita Sayang kalau perlu dunia dan isinya juga," ucap Max.
Willy yang mendengar itu pun segera berseru
"Wooy di sini ada kami jangan kamu anggap kami ini makhluk kasat mata," ucap Willy.
Max pun kesal mendengar teriakkan Willy yang menggangu saat saat romantisnya bersama Alana, Max melemparkan bantal ke arah Willy dan tingkah mereka berdua membuat Alana dan Agnes tertawa karena merasa mereka sedang melihat dua bocah yang sedang saling kesal.
Dalam hati Alana sangat bersyukur karena kini dia mendapatkan kebahagiaan dulu sempat hilang. Max bersyukur karena Tuhan dan malaikat kecilnya untuk menyempurnakan kebahagiaan dalam hidupnya.
__ADS_1
*******Tamat********
Terima kasih untuk sahabat semua yang sudah berkenan membaca karyaku Maaf bila ada yang kurang sesuai.