
Keesokan harinya Alana tidak ada jam kuliah dia lebih memilih untuk diam di rumah dan belajar memasak dengan pembantu rumah tangga yang dipekerjakan Max di rumah.
Alana bertekad untuk serius kali ini dia ingin memberikan kejutan untuk Max saat pulang nanti.
Pembantu rumah tangga yang bernama Asih itu membantu mengajari Alana dengan sabar, sampai sore hari Asih pun kembali beristirahat di paviliun yang ada di bagian belakang villa milik Max.
Alana tersenyum bahagia sambil membawa hasil masakannya untuk di nikmati di ruang keluarga sambil melihat siaran televisi.
Alana menyalakan televisi dan tanpa sengaja dia melihat berita yang menayangkan sosok Amanda yang sedang berada di bandara semalam, dia akan mengadakan pemotretan di Korea Selatan.
Berita ini membuat Alana berfikir yang tidak tidak dia merasa seakan akan Max dan Amanda memiliki hubungan dibelakangnya.
Hati Alana terasa nyeri rasa yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Alana mengganti channel televisi tapi hampir semua stasiun televisi menyiarkan berita yang sama bahkan ada salah satu stasiun televisi yang juga menyorot sosok Max dan Amanda menggunakan pesawat yang sama walaupun mereka tidak masuk ke dalam pesawat secara bersamaan berita itu sukses membuat Alana semakin kesal.
Alana segera mematikan televisi dan bergegas ke kamar, moodnya menburuk dia pun tidak menyentuh lagi hasil masakannya.
Alana memutuskan untuk tidur mungkin hanya dengan tidur dia bisa menenangkan pikirannya.
Entah sudah berapa lama Alana tertidur dia terbangun karena merasa terusik oleh suara dering ponselnya, tanpa melihat siapa yang menelepon dia segera menjawab panggilan itu.
"Hallo...," sapa Alana dengan setengah sadar.
"Hai Ana ... apa kamu sudah tidur? Apakah aku mengganggu istirahatmu?" ucap seseorang di seberang telepon.
Alana yang mengenal siapa pemilik suara ini pun segera membuka matanya lebar, dia bangkit dan bersandar di kepala ranjang, Alana melihat nama penelepon itu untuk memastikan apakah ini benar atau hanya mimpi.
Setelah memastikan siapa yang meneleponnya Alana merasa sangat bahagia tapi ketika dia mengingat kembali berita yang menayangkan Max dan Amanda yang pergi ke Korea Selatan dengan pesawat yang sama membuat Alana kesal kembali.
"Ya aku sudah tidur dan terbangun oleh suara ponsel ," jawab Alana datar.
__ADS_1
"Maaf kalau kamu terganggu karena diriku, aku hanya ingin mengabarimu kalau aku sudah sampai di Korea hati hati di rumah jangan lupa makan mintalah Bi Asih untuk memasak apa yang kamu suka," ucap Max.
"Hmmm," jawab Alana singkat.
Entah mengapa Alana merasa sangat sakit mengingat berita yang baru saja dia lihat tadi, kini dia telah bersikap seperti istri yang sedang cemburu tanpa dia sadari.
"Baiklah aku tutup teleponnya beristirahatlah! Maaf telah mengganggu tidurmu," ucap Max dan ingin memutuskan sambungan telepon.
Alana tiba tiba merasa ada sesuatu yang hilang ketika mendengar ucapan Max yang ingin mengakhiri sambungan teleponnya.
"Max ... tunggu!" ucap Alana tiba-tiba.
Max pun mengurungkan jarinya yang akan memutuskan sambungan telepon.
"Ada apa Ana?" tanya Max.
"Kamu juga hati hati di sana, jangan lupa selalu pakai mantel udara di sana sangat dingin saat ini jaga kesehatanmu," ucap Alana.
Max merasakan perasaan aneh, rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dia merasa sangat bahagia lebih bahagia dari memenangkan sebuah tander besar.
"Ya sudah aku tutup teleponnya selamat beristirahat," ucap Alana.
Tidak berapa lama sambungan telepon pun terputus.
Max tersenyum ketika mengingat apa yang diucapkan oleh Alana, kata kata sederhana tapi mampu menimbulkan rasa aneh dalam dirinya, rasa yang belum pernah dia rasakan selama ini.
"Benarkah aku sudah jatuh cinta pada Alana?" tanya Max dalam hati.
Max merasakan perubahan yang sangat besar pada dirinya dulu ketika dia belum bertemu dengan Alana dia adalah sosok yang sangat dingin tak tersentuh bahkan dia adalah sosok penggila pekerjaan.
Tapi kini setelah dia bersama Alana dirinya lebih sering tersenyum saat berada di dekat Alana, dia menjadi lebih cerewet saat bersamanya.
__ADS_1
Max berdiri di balkon kamar hotelnya sambil menikmati senja karena di Korea saat ini masih sore, Max melihat ponselnya dan menatap wajah cantik Alana yang dia ambil secara diam-diam, Max tersenyum sendiri melihat foto wanitanya.
Tanpa Max sadari ada seseorang yang memperlihatkan dirinya sejak tadi, Willy memperhatikan raut wajah Max yang ceria penuh semangat tidak seperti biasanya yang selalu terlihat cuek dan dingin.
Willy merasa senang akhirnya Max menemukan wanita yang bisa kembali menghidupkan rasa cinta setelah seseorang menghancurkan hatinya.
"Entah sihir apa yang kamu miliki Alana sehingga mampu membuat es dalam hati Max mencair, semoga kalian di takdirkan untuk bersama selamanya," gumam Willy.
Willy pun segera kembali berpura pura membaca berkas yang dia pegang setelah melihat Max yang berjalan ke arahnya.
Max memandang Willy sekilas dan mengernyitkan alisnya sambil terus menatap Willy dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Willy yang di tatap seperti itu pun merasa heran dia pun melihat Max dan bertanya.
"Apa ada yang aneh denganku sehingga kamu menatapku dengan cara yang mengerikan seperti itu?" tanya Willy.
Max pun mengalihkan pandangannya ke arah berkas yang sedang di pegang oleh Willy dan Willy pun mengikuti arah pandang Max.
Willy baru menyadari kalau berkas yang dia pegang tengah terbalik, dalam hati Willy mengumpat tapi demi menghindari olokan Max pun dia bersikap seakan tak ada masalah.
"Memangnya kenapa kalau aku membaca berkas dengan gaya baru? Apakah itu mengganggumu?" ucap Willy acuh tak acuh.
Max yang sedang dalam mood bagus pun tidak menghiraukan tingkah konyol Willy, Max pikir lebih baik dia segera mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai dan dia bisa segera pulang dan bertemu dengan Alana.
"Terserah ...," jawab Max penuh penekanan dan berjalan melewati Willy menuju ruang kerja yang ada di kamar hotel itu tanpa memandang Willy lagi.
Willy menghela nafas lega setidaknya kali ini dia bebas dari aungan singa bernama Max, Willy pun segera menyusul Max masuk ke ruang kerja dan melakukan tugasnya.
Max dan Willy terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang di rencanakan oleh seseorang untuk membuat sebuah berita yang akan menggemparkan dunia bisnis.
Orang itu telah menyusun rencana sedemikian rupa agar bisa membuatnya semakin terkenal, dia bertekad bagaimana pun caranya rencananya kali ini tidak boleh gagal dia sudah susah payah menyusun rencana ini dengan keyakinan dan tekad kuatnya dia tidak ingin gagal.
__ADS_1
"Aku tidak akan berhenti berusaha Max untuk mendapatkan apa yang aku inginkan maka tunggu saja apa yang akan terjadi," ucap orang itu tersenyum sambil menatap pintu kamar hotel tempat Max menginap yang saat ini sedang tertutup rapat.
Setelah puas berada di depan pintu kamar Max dia pun berlalu pergi dengan senyum dan tekad kuatnya.