
Siang ini Alana sudah di perbolehkan pulang, entah bawaan hormon kehamilan atau karena masih kesal dengan Max Alana selalu uring- uringan saat berdekatan dengan Max.
Max pun berusaha sabar menghadapi tingkah istrinya, seperti saat ini lagi lagi Alana kesal pada Max ketika membereskan barang untuk mereka bawa pulang Alana mengatakan tidak mau pulang bersama Max dia ingin pulang di jemput Willy. Max sudah membuat alasan kalau saat ini Willy sedang ada pekerjaan tapi Alana tetap kukuh ingin pulang bersama Willy jika Willy tidak datang menjemputnya maka Alana lebih memilih tetap tinggal di rumah sakit saja akhirnya mau tidak mau Max pun mengalah dan menelfon Willy dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.
"Willy segera datang ke rumah sakit! " ucap Max ketika sambungan teleponnya sudah diangkat oleh Willy.
"Tapi Kak ini pekerjaan masih menumpuk," ucap Willy.
"Tinggalkan semuanya cepat datang kemari!" perintah Max sekali lagi.
"Apa yang terjadi Kak? kenapa nada suara Kakak seperti ada yang gawat?" tanya Willy.
"Sudahlah jangan banyak bicara cepat datang kemari aku tunggu kamu tiga puluh menit lagi kalau tidak sampai di sini maka kamu akan aku pecat!" ujar Max lalu menutup teleponnya tanpa menunggu Willy mengucapkan sepatah kata lagi.
Willy mengusap wajahnya frustasi sungguh kadang dia ingin mencekik leher Max apa dia tidak berfikir kalau lalu lintas itu kadang kala macet dan waktu tiga puluh menit walaupun lalu lintas lancar tidak akan cukup untuk perjalanan dari kantor ke rumah sakit itu paling tidak membutuhkan waktu empat puluh menit sampai satu jam.
"Ah dasar Max sinting," gerutu Willy.
Willy mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari ruang kerja beberapa karyawan menyapanya hanya dibalas dengan anggukan.
Willy mengemudi mobil sport miliknya dengan kecepatan tinggi untung saja suasana lalu lintas saat ini sedang lenggang.
Willy tiba di rumah sakit memakan waktu tiga puluh menit ketika sampai di depan pintu ruangan tempat Alana di rawat Max sudah berdiri di sana menunggunya.
"Kamu terlambat!" ucap Max sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku cuma telat lima menit dari waktu yang Kakak berikan, perjalanan dari kantor menuju rumah sakit ini paling tidak memakan waktu empat puluh menit Kak tapi aku menempuhnya dalam waktu tiga puluh lima menit bisa Kakak bayangkan bagaimana aku mengemudi," ucap Willy panjang lebar.
__ADS_1
"Aku tidak peduli yang jelas...,"
"Willy apakah itu kamu? ayo cepat masuk!" suara Alana dari dalam ruangan menghentikan Max yang ingin melampiaskan kekesalannya dengan cara mengomeli Willy tapi kali ini gagal karena Alana sudah menyadari kedatangan Willy.
Willy tersenyum penuh kemenangan dan itu membuat Max semakin kesal ingin sekali rasanya Max meninju wajah Willy tapi itu tidak mungkin dia lakukan karena saat ini Alana entah kenapa sedang ingin melihat Willy di dekatnya.
"Iya Kak Alana aku datang!" ucap Willy memasuki ruangan Alana sambil menoleh pada Max tidak lupa senyum mengejek pun menghiasi bibirnya.
Max semakin kesal dibuatnya tapi mau bagaimana lagi dia tidak berdaya jika berhadapan dengan Alana, walaupun dia seperti seekor singa jika berada di antara rekan bisnisnya tapi jika di hadapan Alana dia seperti seekor ayam sayur sejak kejadian Max kepergok sedang bersama Amanda. Max pun mengikuti Willy dari belakang sambil bergumam tidak jelas.
"Ada apa Kakak memanggilku?" tanya Willy ketika sampai di dalam ruangan Alana.
"Ayo kita pulang Will! aku ingin pulang bersamamu," ucap Alana sambil tersenyum.
"Baiklah Kak ayo!" ajak Willy.
"Tunggu Sayang sebaiknya kita pulang bersama biarkan Willy mengikuti dari belakang," bujuk Max.
"Tapi Sayang aku suamimu, ayah dari anak di kandunganmu bukan Willy," ucap Max.
Willy ingin sekali rasanya tertawa terbahak bahak melihat raut wajah Max saat ini sejak kapan seorang Max yang garang menjadi melow begitu apalagi di depan seorang wanita ucap Willy dalam batinnya. Ingin rasanya Willy merekam kejadian langka ini dan menyebar luaskan tapi itu hanya dalam angan Willy saja karena dia tidak akan pernah berani melakukan itu jika sampai hal itu dia lakukan bisa mati dicekik oleh Max.
"Ya kamu memang suamiku Max, suami yang bisa sarapan mesra dengan wanita lain di belakang istrinya," ucap Alana ketus.
"Jangan terus menyalahkan aku Sayang! itu semua rencana Willy salahkan dia, ayo Will ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" perintah Max.
"Apa Kak? aku kan tidak tahu semuanya," ujar Willy berpura-pura.
__ADS_1
"Sialan kamu Will! jangan pura pura tidak tahu apapun, jika kamu tidak menceritakan semuanya bisa aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja denganku lagi," ancam Max.
"Sudah... sudah ayo kita pergi Will jangan hiraukan pria itu! kalau dia tidak mau memperkerjakan kamu maka aku yang akan memperkerjakan dan tugasmu adalah menemaniku kemanapun," ucap Alana sambil mengajak Willy keluar dari ruangan itu.
Willy pun tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Willy punya kesempatan melihat wajah Max yang kesal penuh kekalahan.
Max menatap Willy dengan aura gelap andalan seakan-akan tatapan itu memberi ancaman yang menakutkan pada Willy tapi untuk kali ini Willy tidak merasa takut sama sekali bahkan Willy ingin tertawa terbahak-bahak.
"Oh begini rasanya punya istri yang sedang hamil hormonnya tidak stabil jadi harus mempersiapkan mental dan kesabaran," ucap Willy dalam batinnya.
"Tunggu Sayang aku ikut denganmu! kita pulang bersama sama biar mobilku di bawa pulang orangku," ucap Max sambil mengikuti Alana dan Willy keluar dari ruang inap itu.
"Terserah," ucap Alana sambil terus berjalan tanpa menoleh pada Max.
"Tunggu perhitungan dariku Will," bisik Max di telinga Willy ketika berhasil mensejajarkan langkahnya.
Dan Willy pun menampilkan wajah pura pura takut tapi tidak beberapa lama dia memperlihatkan senyum mengejek pada Max dan sikap Willy itu semakin membuat Max geram.
"Sayang sudah ya marahnya! kalau kamu ingin marah itu orang yang kamu gandeng tangannya yang seharusnya kamu marahi, Sayang aku loh suamimu bukan Willy kenapa Willy yang kamu gandeng tangannya," ujar Max merayu Alana dengan nada merajuk.
Willy hampir saja kelepasan tawanya karena baru kali ini melihat dan mendengar seorang Max merajuk.
"Tutup mulutmu Max! kalau kamu tidak bisa diam maka malam ini kamu tidur di luar!" ucap Alana.
Alana kesal dia berjalan mendahului Willy dan Max menuju mobil Willy dan saat itu juga tawa Willy terdengar sungguh dia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
Max berdecak sebal dia sengaja menabrak bahu Willy sebelum mengejar Alana, Max sempat mengancam Willy sebelum meninggalkannya.
__ADS_1
"Tertawalah sepuasnya tunggu pembalasanku!" ancam Max sambil berlalu.
Bukannya takut Willy semakin tertawa terbahak-bahak.