SUAMI MISTERIUSKU

SUAMI MISTERIUSKU
Alana Hamil


__ADS_3

Max yang mendengar penjelasan Alisha pun menganga tidak percaya, dia sangat gembira mendengar kabar ini tapi dia pun harus memastikan berapa usia kandungan Alana saat ini,


"Apakah kamu yakin dengan hasil pemeriksaanmu," ucap Max berusaha setenang mungkin.


"Ya aku yakin sekali dan ini hasil tes laboratorium serta beberapa tes lainnya silahkan kamu lihat usia kandungannya hampir 8 minggu," ucap Alisha menjelaskan semua pada Max.


Max sangat gembira akhirnya Alana hamil, dalam hatinya pun ada penyesalan karena beberapa minggu ini selalu meninggalkan Alana sendiri di rumah itu artinya ketika Max berangkat ke Jepang kemarin Alana sudah hamil tapi apakah Alana sudah tahu tentang kehamilannya ini atau belum.


"Apakah Alana sudah tahu tentang kehamilannya ini?" tanya Max.


"Aku rasa belum," jawab Alisha.


"Baiklah biar aku sendiri yang memberi tahunya dan bayaran mu akan segera aku transfer beserta bonusnya karena saat ini aku sedang bahagia," ucap Max sambil tersenyum.


Senyum manis yang jarang dan hampir tidak pernah dia perlihatkan pada orang orang di sekitarnya hanya orang tertentu saja yang beruntung melihat senyum itu.


Alisha yakin wanita di luaran sana jika melihat senyum Max pasti dengan senang hati akan melemparkan tubuhnya untuk dinikmati Max tapi sayangnya Max bukan tipe orang yang gampang untuk dipikat. Entah sudah berapa ribu gadis yang mencoba menggoda Max tapi tidak satupun yang berhasil meluluhkan tembok es itu termasuk Alisha yang sudah lama menyimpan rasa cintanya kepada Max, dia lebih memilih memendam rasa itu, Alisha takut jika dia mengungkapkan perasaannya Max malah akan menjauhinya dan tidak mau lagi menjadi temannya. Alisha sebenarnya sangat iri pada Alana yang berhasil memiliki hati Max.


"He apakah kamu mendengar yang aku ucapkan," .


Perkataan Max ini menarik kembali Alisha pada kenyataan yang saat ini sedang dia hadapi.


Alisha tersenyum dan mengangguk. Max pun keluar dari ruang kerja Alisha dan ketika pintu ruangan itu terbuka dia mendapati Willy yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah cemasnya.


"Bagaimana keadaan Ana, Kak?" tanya Willy.


"Cih kamu tidak sopan berani beraninya kamu panggil kakak iparmu dengan hanya menyebut namanya tapi panggilan Kak," ucap Max.

__ADS_1


"Ah iya Kak bagaimana keadaan kak Ana?" ulang Willy.


Willy harus sabar menghadapi tingkah Max kalau lagi kumat bawel seperti ini.


Max tidak menjawab pertanyaan Willy tapi dia langsung memeluk Willy erat sambil berbisik di telinga Willy.


"Ana sedang mengandung, dia mengandung anakku," ucap Max bahagia.


Kebahagiaan Max menular pada Willy dia pun membalas pelukan erat Max, Willy merasakan bagaimana kebahagiaan Max saat ini.


"Selamat Kak...aku ikut bahagia mendengarnya," ucap Willy.


Setelah lama berpelukan Max pun segera melepaskannya dan menatap Willy dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.


"Willy pergilah ke rumah kita yang ada di negara ini, perintahkan para asisten yang ada di sana untuk membersihkan dan mempersiapkan rumah itu untuk aku tinggali, karena saat ini Alana sedang hamil muda maka aku memutuskan untuk tinggal di sini beberapa bulan demi kesehatan dan keselamatan istri dan calon anakku," perintah Max.


"Baik Kak," ucap Willy.


"Baik Kak aku akan segera melakukan semua sesuai perintahmu," ucap Willy.


"Bonus serta gajimu akan segera aku transfer Will dan terima kasih," ucap Max.


Willy pun tersenyum bahagia sungguh berita kehamilan Alana ini membawa berkah untuk semua orang termasuk dirinya.


"Terima kasih Kak! aku pergi dulu aku akan menyiapkan semua kebutuhan kak Alana selama tinggal di sini dan mempersiapkan rumah itu agar segera bisa kalian tempati nanti setelah kak Alana keluar dari rumah sakit ini," ucap Willy.


"Baiklah segera lakukan tugasmu," ucap Max.

__ADS_1


Willy pun segera meninggalkan Max sendiri di rumah sakit untuk menyelesaikan semua tugasnya.


Setelah kepergian Willy Max pun segera menuju ruang rawat Alana, ketika Max membuka pintu kamar itu terlihat Alana yang masih tertidur, menurut penjelasan Alisha tadi Alana sudah sempat sadar tapi efek obat yang di berikan Alisha Alana tertidur kembali.


Max pun mengambil kursi dan duduk di sebelah Alana sambil menggenggam tangan Alana. Max mencium punggung Alana.


"Dasar wanita keras kepala mengapa kamu berangkat ke Jerman sendirian di saat sedang hamil, apakah kamu sudah tahu jika kamu sedang hamil? untung saja Max junior kuat sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, seandainya terjadi sesuatu pada bayi ini pasti kamu sendiri akan sangat sedih karena harus kehilangan sebelum sempat menyadari keberadaannya,"ucap Max seorang diri.


Max mengelus perut Alana yang masih rata.


"Anak hebat dady yang kuat ya nak! ayo kita jaga mommy dan jangan buat mommy sedih lagi," ucap Max sambil terus mengelus perut rata Alana.


Entah karena kelelahan atau karena dia sudah merasa tenang setelah mengetahui keadaan Alana Max pun tertidur dalam posisi duduk sambil memegangi tangan Alana di samping ranjang tempat Alana di rawat.


Entah berapa lama yang Alana rasakan dia seperti tidur nyenyak dan matanya terasa berat untuk dibuka. Ketika mata itu terbuka yang pertama kali Alana lihat adalah Max yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan kanannya. Alana menggerakkan tangannya yang tidak digenggam Max tapi tangan itu terasa nyeri Alana pun melirik apa yang terjadi dengan tangannya.


Alana melihat selang infus tergantung di samping ranjangnya dan melihat jarum infus menempel di punggung tangan kirinya.


Alana mencoba mengingat mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Alana mengingat ketika tadi dia marah pada Max setelah menghampiri Max dan Amanda yang sedang sarapan bersama, Alana berjalan keluar hotel, Alana berjalan terus dan akhirnya sampai di taman tapi entah apa sebabnya tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan kepalanya pun terasa pusing hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Alana mengelus rambut Max yang lembut itu dia menyusuri dahi, pipi, hingga hidung Max. Ketika sudah puas menyusuri wajah Max Alana ingin menyingkirkan tangannya dari wajah Max tapi tiba-tiba tangannya dicekal max.


"Kenapa berhenti? apakah kamu baru sadar kalau wajah suamimu ini sangat tampan sehingga kamu sangat suka ketika membelainya," ucap Max sambil mencekal tangan Alana.


"Lepaskan tanganku Max!" ucap Alana.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh menggenggam tanganmu sedangkan tanganmu itu benar menjamah wajah tampanku ini," ucap Max sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Alana.


"Bodo amat Max yang jelas aku masih marah padamu soal sarapan itu maka jangan banyak menuntut," ucap Alana. Max pun tersenyum geli melihat Alana yang cemberut sambil memanyunkan bibirnya ingin rasanya Max mencium bibir itu tapi sebisa mungkin dia tahan. Max takut tidak bisa menahan dirinya jika mencium bibir Alana.


__ADS_2