SUAMI MISTERIUSKU

SUAMI MISTERIUSKU
Pria Semua Sama Saja


__ADS_3

Seperti yang di katakan Max pada Alana, setiap hari Max selalu datang ke rumah Agnes untuk membujuk Alana untuk pulang.


Hari pertama dan kedua Max datang Agnes membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan Max masuk walau Alana tidak mau menemui Max.


Hari hari berikutnya Max selalu berdiri di depan pintu menunggu Alana dan Agnes keluar rumah untuk berangkat kuliah.


Agnes sebenarnya merasa kasihan pada Max yang terus membujuk Alana tapi Alana yang dengan keras kepalanya masih menolak Max.


Agnes pun suatu malam memberanikan diri untuk menanyakan pada Alana mengapa Alana masih bersikap seperti itu pada Max padahal Max sudah dengan sabar membujuk dia untuk pulang ke rumah.


"Alana mengapa kamu belum mau pulang bersama Max? Kasihan Max yang setiap hari menyempatkan diri untuk datang ke sini demi mengajakmu pulang," ucap Agnes.


"Mengapa kamu masih saja menanyakan pertanyaan yang sama padaku Nes? Apakah kamu sudah bosan aku tinggal di sini?" Alana balik bertanya pada Agnes.


"Bukan begitu Alana, aku heran saja mengapa ada wanita seperti dirimu memiliki suami seperti Max masih saja bersikap acuh padannya padahal di luaran sana masih banyak wanita yang mengantri untuk bisa mendapatkan posisi yang kamu tempati saat ini," ucap Agnes membujuk Alana.


"Bukan begitu Nes, sebenarnya aku sangat takut kalau suatu hari nanti jika aku telah melabuhkan hatiku padanya dan aku sudah jatuh sejatuh jatuhnya pada Max dan dia merasa bosan padaku kemudian meninggalkan aku begitu saja apa aku tidak akan hancur," ucap Alana menjelaskan mengapa dia bersikap seperti itu pada Max.


"Maafkan aku Alana, aku tidak mengerti bagaimana perasaan dan pemikiranmu aku akan selalu mendukung apa yang menjadi keputusanmu," ucap Agnes setelah mengetahui maksud Alana.


Agnes memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnisnya dengan Max, dia tidak akan membujuk sahabatnya untuk kembali pada suaminya karena dia takut sahabatnya nanti merasakan kekecewaan, walau sebenarnya Agnes sangat menyayangkan uang 20juta yang di janjikan Max.


"Aku ingin menguji Max Nes sampai seberapa dia memperjuangkan diriku," ucap Alana.


"Baiklah lakukan apa yang menurutmu baik aku akan selalu mendukungmu," kata Agnes sambil tersenyum.


"Terima kasih Nes, selain Ayah kini yang kumiliki hanya kamu dan Max aku tidak ingi kehilangan kalian tapi setelah mengetahui siapa Max yang sebenarnya aku ragu kalau dia benar benar mencintaiku, aku takut dia hanya penasaran denganku," ucap Alana sambil menunduk menyembunyikan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Aku juga ingin melihatmu bahagia Alana aku akan selalu bersamamu," ucap Agnes.


Mereka pun berpelukan dan beberapa saat kemudian mereka memutuskan untuk tidur agar besok tidak kesiangan karena mereka ada jadwal kuliah pagi.


Pagi ini Max tidak datang ke rumah Agnes untuk membujuk Alana karena di kantor ada rapat dadakan tadi pagi pagi sekali Willy menghubungi dirinya dan mengatakan rapat itu tidak bisa di wakilkan. Dengan perasaan kesal Max pun berangkat ke kantor.


Rapat di mulai dengan suasana mencekam wajah Max selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi itu membuat para peserta rapat merasa terintimidasi.


Sementara itu di rumah Agnes Alana merasa kecewa ketika membuka pintu tidak mendapati Max yang berdiri di depan pintu menunggu dirinya seperti beberapa hari ini di lakukan Max.


Padahal dalam hati Alana berniat membuka pintu hatinya untuk memaafkan Max dan berniat pulang ke rumah hari ini.


Tapi hari ini dia tidak mendapati Max di sana dalam pikiran Alana pria sama saja tidak bisa bertahan lebih lama lagi dengan ujian yang di berikan wanitanya.


Alana yakin Max sudah merasa jenuh dan pergi untuk mencari pengganti Alana.


Agnes yang faham kalau saat ini sahabatnya sedang merasa kecewa pun menghiburnya.


"Siapa juga yang memikirkan Max, biarkan saja dia mau berbuat apa bukan urusanku, ayo kita berangkat!" kata Alana sambil berjalan mendahului Agnes.


Agnes pun menghela nafasnya dia pun bersabar dan tidak menjawab perkataan Alana karena dia tahu saat ini sahabatnya sedang merasa kesal dan kecewa.


Di kampus Alana tidak banyak bicara tidak seperti biasa, Agnes pun tidak mau memburu Alana dengan pertanyaan macam macam, dia membiarkan Alana tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Hingga waktu pulang tiba Alana tetap murung saja. Sesampainya di rumah Agnes dia pun segera masuk ke kamar sedangkan Agnes memasak untuk makan malam mereka.


Setelah semua makanan siap Agnes pun memanggil Alana untuk makan malam bersama, karena seharian ini Alana belum makan mereka sibuk mempersiapkan semua tugas yang di berikan Dosen hingga malam tiba setelah dari kampus tadi mereka langsung pergi ke perpustakaan kota untuk mencari buku yang bisa membantu menyelesaikan tugas mereka.

__ADS_1


"Alana ayo kita makan dulu! Nanti setelah makan kamu bisa tidur lagi," ucap Agnes.


Alana dengan malas malasan turun dari tempat tidur, sebenarnya dia tidak bersemangat hari ini, tapi perutnya pun sudah minta di isi.


Alana dan Agnes pun makan dalam keadaan diam tidak seperti biasanya, Alana makan dengan tergesa gesa dan berharap segera menyelesaikan makan malam itu.


Setelah selesai Alana membantu Agnes mencuci piring dan peralatan makan lainya, walau dia belum mahir masak tapi dia bisa membersihkan alat alat makan itu.


Alana pun segera berjalan menuju kamar lagi mendahului Agnes.


Agnes yang melihat itu pun bergumam sendiri,


"Cinta membuat orang hidup seperti mati karena tidak semangat menjalani hari-harinya di sebabkan cinta, ini membuatku malas jatuh cinta," gumam Agnes sambil menyusul Alana ke kamar.


Sampai di kamar Agnes melihat Alana yang sudah memejamkan matanya, Agnes pun memutuskan untuk berbaring di samping Alana dan segera tidur karena hari ini dia pun merasa lelah seharian.


Entah jam berapa ini tiba-tiba ponsel Alana terus berdering dengan mata yang masih tertutup dia pun mengambil ponselnya yang ada di atas meja di samping tempat tidur dan segera mengangkatnya.


"Halo," ucap Alana.


"Ana sakit ... tolong aku ... sungguh ini sakit sekali," suara seseorang di seberang telepon.


Alana yang mendengar suara itu pun segera bangkit dari tidurnya dan matanya pun segera terbuka lebar.


Alana melihat ponselnya untuk meyakinkan dia kalau yang menelepon saat ini adalah Max.


Nama Max terpampang di layar ponselnya dan benar yang menelepon saat ini adalah Max.

__ADS_1


Alana mengingat betul bagaimana keadaan Max saat ini, dia belum sembuh betul Alana takut Max tiba tiba kambuh sakit di kepalanya kambuh dan dia sendirian di rumah besar itu.


Hati Alana berkecamuk tidak karuan membayangkan itu.


__ADS_2