
Sudah satu minggu Husein bekerja semenjak cuti pernikahannya. Banyak berkas yang harus di tandatangani Husein. Sesekali Husein memijit pangkal hidupnya karena sedikit pusing menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
"Permisi Pak, ada apa Bapak memanggil saya?" Fiki masuk ke dalam ruangan Husein.
"Handel semua pekerjaan saya hari ini. Sebentar lagi saya akan pulang."
"Baik Pak," Jujur saja Fiki merasa keberatan dengan ucapan Husein. Apalagi selama Husein cuti dirinya yang mengerjakan semuanya. Jika saja laki-laki itu tidak bosnya, sudah di pastikan Husein melayang dari atas gedung ini. Membiarkan tubuh itu patah bahkan hancur.
"Kembalilah keruangan mu," usir Husein sambil mengibaskan tangannya ke arah Fiki.
'Beruntung lo itu bos dan sahabat gue, jika saja tidak sudah gue buat muka lo babak belur,' rutuk Fiki dalam hatinya. Dengan kesal laki-laki itu keluar dari ruangan Husein.
Husein memasang kembali jas yang tadi dia sampirkan pada kursi kebesarannya. Dengan langkah besar Husein keluar dari ruangannya. Melangkah cepat menuju lift. Hatinya sangat bahagia untuk bertemu dengan sang kekasih. Tak sabar memeluk tubuh kekasihnya yang sangat di rindukannya.
("Sayang aku sudah di depan rumah kamu,") ucap Husein saat sambungan teleponnya sudah diangkat kekasihnya.
("Baiklah Sayang, aku akan keluar,") balas Sinta di sebrang telepon.
Sinta dengan pakaian seksinya melangkah mendekati mobil Husein. Membuka pintu pada bagian depan. Tak lupa memasang sabuk pengaman setelah duduk dengan nyaman.
"Kita langsung ke rumah kamu atau gimana Sayang?" Sinta menampilkan senyum manisnya kepada kekasihnya, Husein.
"Kita makan di luar saja gimana Sayang? Atau kamu mau makan masakan dia?" Husein menatap sekilas kekasihnya sebelum melanjutkan mengemudikan mobil.
"Emmm, makan di luae saja deh Mas. Aku nggak mau makan masakan dia." jawabnya yang di angguki Husein.
Akhirnya mobil yang di kendarai Husein sampai di depan restoran cepat saji. Memarkirkan mobil itu di tempat parkir yang tersedia.
__ADS_1
"Yuk Sayang," Husein meraih pingang ramping kekasihnya. Merapatkan pinggang itu pada tubuhnya yang kekar.
Sedangkan Sinta yang mendapat perlakuan seperti sangat bahagia. Wanita itu memeluk erat pinggang kekar kekasihnya. Wangi tubuh Husein sangat menenangkan bagi Sinta.
"Mbak pesan ini dan ini dua ya," pinta Husein kepada pelayan restoran tersebut.
"Baik Mas," Setelah mengatakan itu, pelayan itu meninggalkan meja Husein dan Sinta.
****
Sedangkan di sisi lain, Aida tengah menata hidangan makan malamnya di atas meja. Tidak terlalu banyak, hanya ayam goreng cabe merah, sayur bayam serta pergedel kentang. Senyum manis terbit di bibir manis Aida.
Apalagi membayangkan Husein yang selalu lahap memakan masakannya. Membuat Aida semakin mengembangkan senyum manisnya. Tak sabar menunggu suaminya pulang ke rumah.
Waktu makin berlalu. Bunyi deru mesin mobil membuat Aida bergegas menuju pintu. Membuka pintu tinggi itu dengan senyum mengembang ceria.
"Mas," Aida yang hendak melangkah mendekati Husein urung. Senyum yang semula terbit lebar kini sudah surut lantaran melihat seorang wanita seksi yang berada di belakang suaminya.
Jujur saja air mata sudah menganak sungai di pelupuk mata gadis itu. Sakit, sungguh rasanya sangat sakit. Meski tak ada cinta di antara mereka, tak seharusnya Husein membawa pacar ke rumah mereka. Dengan segera Aida menghapus air mata yang membanjiri wajahnya. Berusaha untuk kuat di depan Husein, agar laki-laki itu tak menilai dirinya wanita lemah.
"Apa kekurangan aku, Mas sampai-sampai kamu tidak bisa menerima aku?" Menolog Aida saat melihat punggung Husein yang sudah mulai menjauh bersama kekasihnya. "Aku tahu dia seksi Mas, tapi apa salahnya kamu memilih aku yang sudah jelas halal untuk kamu. Bukan malah memilih seseorang yang haram kamu sentuh seperti itu," Lagi air mata keluar dari mata cantik Aida. Dadanya terasa sakit melihat suaminya membawa gadis lain ke rumah mereka.
"Astagfirullah Aida, kamu nggak boleh berfikir seperti itu. Ingatlah ucapan Ummi waktu itu. Jangan berkecil hati dengan kekuranganmu, dan janganlah pula kamu sombong dengan kelebihanmu, karena semua itu milik Allah." (Habib Umar Bin Hafidz)
Aida masuk ke dalam rumah setelah tak ada lagi air mata yang ke luar dari matanya. Menatap pintu kamar suaminya yang tertutup rapat. Aida menghela nafasnya dengan kasar.
"Heh lo istrinya Husein bukan?" Wanita yang tadi di bawa Husein menghampiri Aida yang tengah mencuci piring kotor di dapur.
__ADS_1
"Iya Mbak, ada apa ya?" Aida menatap bingung wanita seksi itu.
"Kenalin gue, pacarnya Husein, calon istrinya," Wanita itu tampak sangat bangga dengan ucapannya. Seakan-akan Aida bukanlah keluarga bagi Husein.
"Iya Mbak, salam kenal. Maaf saya tidak bisa menjabat tangan Mbak karena, saya sekarang mencuci piring." ujar Aida sopan.
"Siapa juga yang mau menjabat tangan dengan kamu. Saya tidak akan sudi!" bentaknya membuat Aida terperanjat.
"Astagfirullah Mbak, kamu ini ngomong apa? Tidak baik ngomong seperti itu," nasehat Aida kepada wanita itu menatap dirinya sinis.
"Lo tidak usah sok menasehati gue. Gue tahu mana yang baik mana yang tidak." bentaknya tidak terima.
"Kalau Mbaknya tahu mana yang baik dan yang buruk, maka Mbak tidak akan berkata buruk sepeti tadi. Mbak tidak akan mengatakan tangan aku najis." ucap Aida lembut.
"Alah, tangan lo itu memang najis dan gue tidak mau bersentuhan dengan tangan orang seperti lo!!"
"Astafirullah Mbak, kalau ngomong itu yang baik. Tidak ada manusia yang terlahir seperti najis Mbak. Manusia itu terlahir dalam keadaan suci dan bersih. Jaga mulut Mbak, sebelum Allah murka dengan apa yang Mbak katakan. Sesungguhnya Allah itu maha mendengar lagi maha melihat." Lagi-lagi Aida menasehati kekasih Husein dengan lembut.
"Lo nggak usah baca-baca istigfar deh. Gue tahu lo itu tidak sebaik itu dan tidak juga sesuci omongan lo." Sinta tampak emosi dengan ucapan Aida yang menyinggung dirinya. Wanita itu tidak mau kalah dan tidak mau di nasehati jika yang dia katakan tidaklah benar.
"Maaf Mbak. Benar, saya tidak sesuci yang Mbak katakan. Tapi saya berusaha menjadi lebih baik dari apa yang Mbak lihat. Sejatinya pintu taubat itu masih ada selagi kita hidup di dunia,"
"Banyak cincong lo. Ah ya, gue belum omongin kedatangan gue nemuin lo ke sini. Jadi gue harap lo jangan dekati kekasih gue, jangan lo goda-goda kekasih gue biar tertarik sama tubuh lo." Wanita itu menatap Aida dengan sinis. Menatap dari atas sampai kebawah berulang kali. "mana mungkin Husein mau melirik lo yang pakaiannya saja sudah seperti Mak-Mak begini." lanjutnya.
"Maaf Mbak, tidak ada salahnya saya mendekati suami saya. Karena itu hak saya sebagai seorang istri. Jika masalah menggoda, bukankah itu halal bagi saya? Saya berhak menggoda suami saya sendiri. Tidak akan ada dosa jika saya menggodanya, bukan?" Aida menatap lembut wajah wanita yang sudah tampak merah mendengar ucapannya. "Saya berpakaian seperti ini karena saya tidak mau suami serta Ayah, saya masuk ke dalam neraka gara-gara saya menampakkan lekuk tubuh saya, kepada yang bukan mahram saya. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (An-Nur: 31)
"Banyak omong lo!! Intinya lo jangan macam-macam ya sama kekasih gue!!" Wanita itu kembali membentak Aida. Sungguh dia sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan Aida. Namun, Aida hanya membalas dengan senyum manis khas dirinya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, wanita itu meninggalkan Aida dengan menghentak-hentakkan kakinya. Dia tak terima di ceramahi Aida sedemikian panjangnya.
TBC