SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 12


__ADS_3

"Lo nggak akan bisa ngalahin gue buat rebut hatinya Husein. Ingat pernikahan kalian tidak akan bertahan lama." bisik Sinta saat Husein menuju kamarnya untuk mengambil tas kerjanya.


"Siapa Mbak yang sok tahu akan takdir seseorang? Bisa jadi hatinya saat ini masih milik Mbak, apa Mbak percaya jika hati itu akan tetap berada pada Mbak? Atau malah sewaktu-waktu malah berpaling kepada istri sahnya?" Aida tersenyum saat mengatakan itu kepada kekasih suaminya.


"Jangan terlalu pede dengan apa yang kau katakan. Ingat!! Husein tidak akan pernah jatuh cinta pada lo. Jadi jadi wanita itu jangan terlalu kegeeran." Tekannya.


"Saya tidak pede kok Mbak, saya hanya mengatakan apa yang saya yakini. Bukankah ada Allah yang akan ke bolak-balikkan hati hambanya? Mungkin saja di hatinya masih Mbak yang menjadi tahta cinta tertingginya, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat hati itu akan berubah sering waktu."


"Banyak cincong lo. Gue hanya ngingetin lo saja agar lo tidak sampai terjatuh dalam pesona kekasih gue. Yang ada ntar lo nangis dan nyesel."


Aida mengeleng kepalanya. "Wajar saya jatuh ke dalam pesona suami saya, Mbak. Bukankah dia halal bagi saya? Jadi apapun yang saya lakukan tentang dirinya itu tidak akan ada dosa. Ingat Allah itu maha adil Mbak, meski sekarang saya di perlakukan tak layak sebagai seorang istri, semoga suatu saat Allah buka hatinya jika wanita yang dirumah dengannya itu halal bagi dirinya. Tak ada dosa yang akan dia dapatnya melainkan sebuah pahala." Aida tersenyum manis kepada Sinta. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum tulus agar wanita itu bisa berubah saat mendengar kata-katanya.


"Bacot lo!!! Ingat saja apa yang gue katakan tadi!!" Sinta meninggalkan Aida dengan hati yang dongkol. Sungguh wanita itu membuat kesabarannya hampir habis. Setiap berbicara wanita itu akan memberinya ceramah panjang lebar, yang membuat Sinta muak.


"Mas semoga kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan kini. Semoga saja Allah menunjukkan jalan terbaik kepada diri kamu, Mas agar dekat kembali ke jalan-Nya Mas," Do'a Aida.


****


Siang ini Aida tengah duduk di ruang tamu sambil memegang Al-Qur'an ditangannya. Gadis itu tak henti-hentinya menghafal ayat-ayat suci itu setiap ada waktu luang.


"Assalam'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


Aida meletakkan al-quran itu di atas meja saat pendengarannya mendengar orang membaca salam di luar rumah.


Ceklek...


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh Bunda, Ayah," Aida menyalami tangan mertuanya itu dengan takzim. Membawa kedua mertuanya itu menuju ruang tamu.


"Tunggu sebentar Yah, Bun, aku ambilkan minum dulu untuk Bunda sama Ayah," Aida meninggalkan kedua mertuanya di ruang tamu.


"Kenapa nggak ngomong kalau pulang Bun, Yah?" Aida menatap ke-dua mertuanya itu.


"Buat jadi kejutan untuk kamu dan Husein, Sayang. Oh ya Husein masih di kantor?" tanya Bunda kepada menantunya itu.


"Iya Bun, mungkin nanti pulangnya habis magrib," jawab Aida.

__ADS_1


"Kok bilangnya mungkin Ai? Emangnya jam berapa Husein pulang biasanya?" Fatimah memicingkan matanya kepada menantunya itu.


"Emmm nggak nentu sih Bun, kadang siap magrib kadang juga jam 16:00" jujur Aida.


"Dia selalu tidur di rumah ka Sayang? Tidak pernah membawa perempuan lain kerumah? Atau malah dia tidur diluar?" Fatimah menatap menantunya itu dengan pandangan menyelidik.


"Tidak kok Bun, Mas Husein selalu tidur di rumah kok," jawab Aida menampilkan senyum manisnya. Tak mungkin dia akan menceritakan aib suaminya kepada sang mertua. Apalagi menceritakan aib suaminya termasuk dosa. Maka dari itu, cukup dirimu yang tahu tentang itu semua.


"Kamu tidak bohong kan Nak? Bunda tidak mau kamu sakit hati karena putra Bunda, Sayang," Fatimah membelai kepala menantunya yang di tutupi kerudung segitu empat.


"Tidak kok Bun," jawab Aida.


****


Sedangkan Di kantor Husein tengah duduk berdua dengan kekasihnya, Sinta. Kedua orang itu makan saling menyuapi satu sama lainnya. Menikmati makan siang mereka dengan penuh cinta.


Keke ku Keke ku...


Husein mengambil gawainya yang berada di atas meja. Melihat siapa yang menelpon dirinya siang-siang begini.


"Bunda, Sayang. Tunggu sebentar ya aku angkat dulu," izinnya.


("Hallo, Bunda,")


("Assalamu'alaikum Sein, kamu dimana?")


("Wa'alaikumsalam Bun, aku lagi kantor Bun. Ada apa?") Husein sedikit bingung kenapa Bundanya menelpon dirinya siang-siang begini.


("Nanti kamu pulang jam berapa?")


("Siap magrib mungkin Bun, emang ada apa Bun?")


("Jangan pulangnya terlalu malam, Nak. Apa kamu tidak kasihan dengan istrimu yang di tinggal setengah hari penuh?")


("Pekerjaan aku terlalu banyak Bun, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku begitu saja.") Saat ini Husein sungguh malas jika Bundanya sudah membahas gadis itu.

__ADS_1


("Yang jelas hari ini kamu pulang jam 4. Bunda sekarang sedang berada di rumah.")


Husein mencerna ucapan Bundanya. Rumah? Rumah mana? Apakah dirumahnya atau rumah bundanya? Jika di rumahnya atau pun rumah sang Bunda, kapan bundanya itu pulang dari luar negeri? Pertanyaan itu bersarang di pikiran Husein.


("Ru-rumah mana Bun?") tanya Husein dengan sedikit tergagap. Dia takut jika sang Bunda tahu jika dirinya dan Aida pisah kamar. Yang ada nanti dia malah yang akan kena marah.


("Ya rumah kamu lah Sein, rumah siapa lagi coba?") Jantung Husein seakan mau copot mendengat ucapan Bundanya. Husein takut jika istrinya itu mengadu yang tidak-tidak kepada ke-dua orang-tuanya. Bisa celaka dia kalau itu yang terjadi.


(O-oh gitu ya Bun, sebentar lagi aku akan pulang Bun,") jawab Husein dengan hati yang sudah ketar-ketir. Takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya ulah wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Bisa tamat riwayatnya jika wanita itu mengadu tentang dia yang membawa kekasihnya ke rumah.


("Tidak usah terburu-buru Nak, bukankah pekerjaan kamu masih banyak?")


("Tidak kok Bun, aku masih bisa lanjut besok.")


("Baiklah, kalau memang itu yang kamu mau Nak, Bunda tutup dulu. Assalamu'alaikum,")


("Wa'alaikumsalam Bunda,") Husein mematikan telponnya. Setelah sang Bunda menjawab salamnya di sebrang sana.


"Sayang aku harus pulang sekarang, kamu tidak apa-apa pulang naik taksi, bukan?" Husein tak lagi melanjutkan makan siangnya. Selera makannya hilang seketika saat mengetahui kedua orang tuanya tengah berada di kediamannya.


"Iya tidak apa-apa Sayang," Sedikit berat Sinta melepaskan kepergian Husein. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak, calon mertuanya tidak menyukai dirinya. Bahkan mereka menentang keras hubungan mereka.


Husein mendarat ke ciuman pada bibir kekasihnya sekilas. Menyambar jasnya yang di sampirkan pada kursi kebesarannya. Diiringi Sinta yang ikut keluar dari ruangan Husein.


Husein menjalani mobilnya dengan kecepatan tinggi. Laki-laki itu saat ini tengah cemas, cemas jika istrinya di rumah menceritakan hal yang tidak-tidak tentang dirinya.


Akhirnya mobil yang di kendarai Husein sampai dihalaman rumahnya. Langsung saja laki-laki itu melangkahkan kaki panjangnya menuju dalam rumah. Disana terdapat orang-tuanya serta gadis yang sudah menjadi istrinya tengah bercerita dengan bahagianya bersama Fatimah dan juga Hamzah.


"Assalamu'alaikum," Husein mendekati Bundanya, memeluk wanita kesayangannya baru kepada Hamzah sang ayah.


"Wa'alaikumsalam,"


Setelah melepas rindu dengan orang-tuanya, Aida menyalami tangan suaminya dengan takzim. Namun kini ada yang berbeda, laki-laki itu membalas dengan mencium dahinya sedikit lama. Sungguh akting yang paling bagus. Husein sangat mendalami perannya sebagai artis tak laku.


TBC

__ADS_1


__ADS_2