SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 15


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Fatimah kepada Aida untuk mengantar makan siang ke kantor untuk suaminya. Saat ini Aida sudah berada di depan gedung pencakar langit. Yang mana di sana terdapat suaminya yang sebagai petinggi perushaan.


Langkah Aida membawanya menuju receptionist yang terdapat tiga orang. "Maaf Mbak, saya mau tanya dimana ruangan Pak Husein?"


"Maaf Mbak siapa ya?"


"Saya istrinya Mbak, bisa tunjukkan di mana letak ruangan suami saya," pinta Aida kepada receptionist itu.


"Hahahah, Mbak jangan ngada-ngada deh, Pak Husein itu belum menikah Mbak. Mungkin Mbak salah alamat kali." ujar wanita itu kepada Aida.


"Saya memang istrinya Mbak, tolong tunjukkan di mana letak ruangannya Mbak," pinta Aida kembali dengan lembut.


"Mendingan Mbak pergi deh dari sini. Lagian Pak Husein itu belum menikah. Dari pada saya panggil sekuriti mendingan Mbak pergi baik-baik dari sini." usir wanita itu sedikit lembut.


"Tapi saya harus memberikan makan siang untuk suami saya, Mbak," kekeuh Aida yang tidak mau pergi sebelum rantang yang dia bawa sampai di tangan suaminya.


"Tolong pergi dari sini Mbak. Jika tidak ingin di perlakukan dengan kasar." usirnya lagi menatap tajam ke arah Aida.


"Apa saya bisa menunggu disini sampai suami saya keluar Mbak, saya tidak akan berbuat macam-macam."


Wanita itu menarik nafas panjang. Baiklah." jawabnya.


"Ibu Aida?" Fiki sekretaris Husein yang kebetulan baru datang melihat kehadiran istri bosnya itu tengah duduk di bangku yang memang di sediakan untuk menunggu.


"Iya Mas, maaf Mas siapa?" Aida tidak melihat ke arah Fiki melainkan pada lantai yang jelas tidak ada wajah Fiki di sana.


"Saya asisten suami Ibu. Apa Ibu mau bertemu dengan Pak Husein?" tanya Fiki.


Fiki kagum dengan istri bosnya itu, disaat semua orang berlomba-lomba untuk menatap ketampanan dirinya namun itu semua tidak berlaku untuk Aida. Gadis itu menunduk tidak berani menatap lawan jenisnya barang sekalipun.

__ADS_1


"Iya Mas, apa suami saya ada di dalam?" tanya Aida yang masih setia memegang rantang pada tangannya.


"Ada Bu mari saya antar," Aida menganggukki ucapan Fiki.


Saat ini mereka sudah sampai di depan ruangannya Husein. Fiki hanya bisa mengantar Aida sampai disini lantaran masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.


"Masuk!!"


Aida memasuki ruangan suaminya saat mendengar suara bas itu mengizinkan dirinya untuk masuk.


"Mas," Panggilan lembut itu membuat Husein mendongakkan kepalanya. Menatap istrinya yang kini tengah berada di dalam ruangan. Menenteng rantang yang jelas Husein tahu apa isi di dalamnya.


"Kenapa kau kesini?" tanya Husein menatap istrinya tak suka.


"Aku di suruh Bunda ngantar kamu makan siang Mas. Maaf jika aku menganggu waktu kerja kamu," sesal Aida.


"Apa tidak bisa kau menolaknya?"


"Letakkan saja di meja dan, setelah itu langsung pulang karena saya malas melihat kamu disini."


"Baik Mas," Aida melangkah menuju meja di dekat sofa. Manaruh rantang berisi makanan itu itu disana.


"Sayang, aku rindu!!" Sinta memasuki ruangan Husein dengan senyum mengembang dibibir merahnya.


Wanita itu langsung saja mendekati Husein, mendudukkan tubuhnya di atas tubuh kekasihnya. Setelahnya mendaratkan ciuman pada bibir kekasihnya itu. Memberikan l*m*t*n pada benda kenyal itu membuat Husein terbawa suasana. Bahkan melupakan jika istrinya masih berada di dalam ruangan dan tengah menyaksikan kelakuan kedua sorang itu.


"Mas aku permisi pulang," Suara Aida membuat Sinta melepaskan tautan bibirnya dari sang kekasih.


"Lo!! Sejak kapan lo berada di sini?" Sinta cukup terkejut dengan kehadiran istri kekasihnya. "ahhh, bagus deh kalau lo lihat gue sama pacar gue tadi ngapain. Lo harus sadar hanya gue yang bisa menaklukkan cinta Husein. Tidak seperti lo yang pakaian saja sudah terlihat kampungan. Tidak ada menariknya sama sekali," sinis Sinta kepada Aida yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


Aida tersenyum. "Setidaknya saya masih menjaga diri saya dari yang bukan mahram saya. Saya tidak akan mungkin tega menjerat orang tau serta suami saya ke lembah yang penuh dengan kobaran api yang amat menyakitkan. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.(QS. An-Nur: 31) Ucapan Aida membuat Husein terpojokkan. Tutur kata yang lembut namun sampai ke ulu hati sakitnya.


"Ehhh lo jangan banyak bacot ya!! Kalau mau ceramah jangan di sini, noh di masjid!" bentak Sinta tak terima. Wanita itu sungguh tersinggung dengan ucapan Aida.


Aida kembali tersenyum. "Sejatinya seorang hamba bila dia tersinggung setidaknya dia mau berbenah diri agar lebih baik lagi. Jangan hanya menganggap suatu nasehat sebagai angin lalu yang akan membuat diri sengsara di akhirat kelak." ucap Aida yang masih dengan nada lembut. "Mas aku pulang dulu, makan siangnya jangan lupa dimakan. Ingat itu juga campur tangan dari Bunda," Aida meninggalkan ruangan Husein dengan langkah yang tetap menunduk. Takut jika dia berpapasan dengan yang bukan mahramnya. Contohnya saja Fiki sekretaris Husein.


"Sayang aku nggak suka ya dengan istri kamu itu yang kelewat cerewetnya. Bahkan suka sok nasehatin segala. Seperti dirinya sudah baik saja." jujur Sinta kepada Husein.


Husein masih terdiam. Terpaku dengan ucapan istrinya yang amat sangat mengena ke hatinya.


"Sayang kok kamu diam saja sih? Aku ngomong loh sama kamu?" protes Sinta yang tidak mendapat respon dari sang kekasih.


"Ah iya Sayang, apa kata kamu tadi?" Husein tersadar saat Sinta berbicara tepat di depan wajahnya.


"Aku nggak suka sama istri kamu yang sok nasehatin kita itu. Aku mau kamu marahin dia Sayang," rajuknya.


Memarahi Aida? Apakah Husein sanggup memarahi segala ucapan istrinya yang nyatanya suatu kebenaran. Sanggupkah Husein memberi peringatan kepada istrinya agar tidak lagi berceramah panjang lebaran? Padahal itu semua suatu kebenaran.


"Sayang kok kamu malah diam sih? Kamu dengar aku ngomong nggak?!" Sinta tampak kesal dengan kekasihnya itu. Bukannya menjawab ucapannya, Husein malah terdiam ntah memikirkan apa.


"Ahh iya Sayang, nanti aku akan menasehati dia ya," bujuk Husein membuat Sinta tersenyum manis.


"Terima kasih Sayang, aku percaya sama kamu Sayang," Sinta mendaratkan bibir merah merona itu diatas bibir Husein. Menikmati sensasi yang tercipta dari benda kenyal itu.


Sedangkan di tempat lain, Aida sudah di perjalan menuju rumah. Menaiki taksi yang dia hentikan saat di jalan raya. Pikiran Aida kembali lagi saat melihat dengan mata kepalanya apa yang dilakukan suami serta kekasih suaminya itu.


Sakit, rasanya amat sakit di rasakan Aida. Tak bisakah suaminya itu berfikir sebelum bertindak? Tak bisakah suaminya itu berfikir sakit atau tidak jika dia melakukan itu tepat dimana strinya berada. Tidak bisakah Husein memikirkan bagaimana hati dan perasaannya?


Seberat itukan Husein menerima dirinya? Sesulit itukah Husein menerima takdir Allah atas pernikahan suci yang sudah mereka lakukan? Sesak, amat sangat sesak dirasakan Aida. Tidak akan ada seorang istri yang rela jika suaminya melakukan hal hina itu di depan matanya sendiri. Bahkan di belakangnya pun tidak akan pernah ada seorang istri yang rela dengan tingkah bejat suami. Air mata Aida memeluk melalui pipi mulusnha. Dadanya terasa begitu sesak, sakit bahkan amat sangat sakit. Kini mata serta hidung Aida tampak sangat merah lantaran menangisi suaminya yang mungkin saja tengah berbahagia dengan kekasihnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2