
Hubungan pernikahan Aida dan Husein kini sudah semakin membaik. Bahkan tak ada lagi konflik yang terjadi antara dikedua pasangan itu.
"Ya Zauji, hari ini mau dibawain apa sama Zaujati ke kantor?" tanya Aida mendekati suaminya.
"Emmm, sepertinya pergedel jagung enak ya Zaujati?" jawab Husein diangguki Aida.
"Baiklah ya Zaujan. Apa hanya itu atau ada tambahan yang lainnya Zaujan?" tanya Aida lagi sambil merapikan dasi suaminya yang kurang rapi.
"Hmm, ayam kecap sama tumis kangkungnya jangan lupa ya Zaujati. Soalnya masakan Zaujati yang itu sangat enak. Zaujan pasti akan menghabiskannya nanti," Husein tersenyum sambil mencubit pipi istrinya lembut.
"Baiklah Zaujan, Zaujati pasti akan memasakkan sesuai request dari Zaujan,"
"Zaujan hati-hati ya berangkatnya. Jangan terlalu ngebut bawa mobilnya ingat keselamatan Zaujan itu sangat penting. Ada Zaujati yang selalu menunggu kepulangan Zaujan dengan selamat," Dengan masih memegang erat tangan suaminya, Aida menatap manik mata suami yang kini sudah mengisi hatinya. Waktu 2 tahun dalam pernikahan mereka bukanlah waktu yang sedikit. Banyak lika-liku yang sudah mereka lewati bersama.
Husein menyentuh pipi mulus istrinya sambil mengelusnya lembut. "Iya Zaujati. Terima kasih sudah mengingatkan Zaujan,"
"Itu sudah tugas Zaujati sebagai seorang istri Zaujan. Zaujati hanya tidak ingin Zaujan mengalami hal buruk yang pastinya akan membuat Zaujati sedih. Zaujati hanya ingin Zaujan tetap baik-baik saja"
Husein menipiskan bibirnya sambil membentuk huruf U. Senyum manis yang membuat Aida semakin meleleh setiap melihatnya. "Baiklah Zaujati. Terima kasih. Ana uhibbuka fillah Zaujati," Husein mendaratkan bibirnya pada kening istrinya cukup lama.
Aida menampilkan senyum cerahnya kepada suaminya. "Syukron Zaujan, ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu Zuajan,"( Terima kasih suamiku, semoga Allah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintaiku karena-Nya.
"Zaujan berangkat dulu Zaujati. Zaujati baik-baik di rumah ya," Aida menganggukkan kepalanya. Melihat suaminya hingga hilang dari pandangan matanya, barulah Aida kembali masuk ke dalam rumah.
Pukul 10 pagi Aida duduk di teras rumahnya. Jangan lupakan dengan kebiasaan wanita itu yang selalu membawa Al-Qur'an ditangannya untuk mengulang-ulang ayat-ayat Al-Qur'an yang dirinya hapal agar tidak hilang satu-persatu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Mbak Aida,"
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarakatuh Ji. Silahkan duduk," ujar Aida melihat kedatangan tetangganya sejak 1 tahun yang lalu. Tetangga yang selalu mampir kerumahnya pada jam segini. Bukan untuk merumpikan hal-hal yang berhubungan dengan dosa melainkan agama. Karena Jihan baru dua tahun ini memeluk agama Islam yang artinya dia seorang mualaf.
Aida melipat Al-Qur'annya dan meletakkan diatas meja yang berada di depannya.
"Mbak aku mau nanya boleh?" Jihan menatap Aida yang juga tengah menatapnya.
"Boleh Ji, in syaa Allah kalau Mbak bisa pasti akan Mbak jawab. ngomong-ngomong kamu mau nanyain apa?" tanya Aida serius.
"Gini Mbak, aku pernah dengar kalau ayat kursi itu ada kisahnya. Nah yang mau aku tanyain itu, Mbak tahu nggak gimana kisah dari turunnya ayat kursi itu? Soalnya sampai sekarang aku masih penasaran Mbak. Sebelumnya juga mau nanyain sama Mbak tapi, malah lupa terus dan malah nayain yang lain." ucap Jihan di certai sedikti tawa di akhir kalimatnya.
Aida mengangguk-anggukkan kepalanya. "Emm, jadi kamu nanyain itu Ji. Baiklah karena Mbak sedikit tahu kisahnya maka Mbak akan jawab pertanyaan kamu," jawab Aida.
"Iya Ji. Ayat kursi itu di turunkan pada suatu malam setelah Rasulullah hijrah dari kota Makkah ke Madinah melalui perantara malaikat jibaril dan 70.000 malaikat yang menyertainya. Malam itu seluruh alam semesta berserta isinya tunduk penuh hormat menyambut kedatangannya."
"Saat itu bumi bergetar dengan sangat dashyat. Terjadi gempa di beberapa pelosok dunia. Getaran tersebut mampu melepaskan mahkota dari kepala para raja. Bahkan golongan syaiton pun berlari ketakutan menuju raja mereka yaitu iblis," Aida menghentikan ceritanya menatap raut wajah Jihan yang tampak masih penasaran dengan kelanjutan cerita Aida.
"Terus apa lagi Mbak?" tanya Jihan yang memang masih sangat penasaran.
Aida menganggukkan kepalanya. Melihat Jihan yang tidak bisa mendengar ceritanya membuat Aida tersenyum dengan manisnya.
"Iblis memerintahkan mereka untuk menyelidik asal getaran tersebut. Lalu syaiton menyelidiki dan mengetahui dari mana asal getaran itu, dan ternyata berasal dari ribuan malaikat yang membawa ayat kursi kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat itu merupakan ayat yang paling agung di dalam Al-Quran. Sehingga puluhan ribu malaikat di perintahkan Allah untuk mengantarnya kepada Rasulullah."
__ADS_1
"Keagunggan ayat kursi itu membuat para iblis dan syaiton gemetar karena, ayat itu merupakan penghalang usaha mereka untuk menggoda dan menyesatkan umat manusia." Aida menatap Jihan yang tanpa tersenyum puas atas ceritanya. "Nah itulah kisahnya Ji. Apa ada lagi yang mau kamu tanyaian Ji?" Aida mengakhiri ceritanya. Menatap Jihan jika memang masih ada yang mau di tanyaian gadis itu.
"Iya Mbak masih ada tapi ini masih tentang ayat kursi. Apa ada manfaatnya jika kita membaca ayat kursi setiap hari, Mbak?"
Aida menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Tentu saja ada Ji. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda. Barang siapa yang membaca ayat kursi setelah sholat, maka tidak ada yang menghalanginya masuk ke dalam surga kecuali kematian." (HR. An Nasa'i)
"Ma syaa Allah, Mbak. Aku nggak nyangka jika hanya dengan ayat kursi bisa membawa kita ke surganya Allah," Jihan kagum dengan penjelasan Aida. Membuat gadis itu semakin ingin memperdalam ilmu agamanya yang masih sedikit.
"Iya kamu bener banget Ji. Tapi masih banyak kok amalan-amalan lainnya yang bisa membawa kita ke surganya Allah. Jangan hanya berpatokan pada ayat kursi, tapi juga carilah ilmu yang lainnya. meski di nilai kecil namun pahalanya begitu besar. Contohnya saja dengan kita membaca laa ilaha illallah. Sungguh Allah mengharamkan neraka bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah. Tiada sesembahan yang benar selain menyembah kepada Allah SWT. (HR. Bukhori dan Muslim.
"Apa ada selain itu Mbak?" tanya Jihan lagi.
"Ada Ji, ada dua kalimat yang ringan di lisan namun berat ditimbangan. Dan keduanya di cintai oleh Allah. Subhanallah wabihamdihi subhanallahi'adziim. (HR. Bukhori dan Muslim.
"Terima kasih ya Mbak sudah menjawab semua pernyataan aku. Aku bersyukur memiliki tetangga seperti Mbak. Besok-besok aku mau nanya lagi boleh kan Mbak?" tanya Jihan menatap penuh harap ke arah Aida.
"Boleh kok Ji, selagi Mbak bisa Mbak tidak akan pelit dalam ilmu agama. Karena kita sesama muslim itu harus saling menasehati, saling membagi hal-hal yang baik tentunya." jawab Aida menipiskan bibirnya.
"Baiklah Mbak. Sebenarnya aku masih mau nanya sama Mbak tapi, aku harus pergi ke pasar bareng Ibu. Jadi besok lagi ya Mbak. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Jihan yang diangguki Aida.
"Iya Ji, wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarakatuh." Aida melihat Jihan yang sudah keluar dari gerbang rumahnya dengan sedikit buru-buru.
__ADS_1
TBC