SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 28


__ADS_3

Pagi sudah menyambut, matahari sudah menampakkan wujudnya dengan malu-malu. Husein masih setia bergelung dibawah selimut dengan damainya hingga dirinya terusik dengan cahaya panas matahari yang langsung mengenai wajahnya melalui ventilasi.


Husein membuka kelopak matanya dengan perlahan. Menyesuaikan cahaya yang berada di dikamarnya. Terasa agak perih memang namun, Husein tetap berusaha membuka netra itu dengan sempurna. Husein menyingkirkan selimutnya untuk memudahkan dirinya duduk.


"Astaga!!! Apa yang terjadi? Kemana pakaianku?" Husein terkejut saat melihat dirinya tanpa memakai sehelai benangpun.


Husein kembali mengingat-ngingat kejadian kemaren. Tapi tak satupun yang bisa Husein ingat selain pergi ke club setelah memergoki aksi bejat kekasihnya. Sekuat apapun Husein mengingatnya tetap saja Husein tidak bisa. Ahhh, ya Husein lupa jika dia mengingat sekretaris serta sahabatnya saat di club dan menghentikan aksi minumnya.


Segera Husein mengambil benda pipih yang ada di samping bantalnya. ("Hallo Sein, ada apa?") suara di sebrang sana terdengar di indra pendengar Husein.


("Siapa yang nganter gue pulang?") tanya Husein to the poin.


("Gue. Ada apa? Apa terjadi sesuatu sama lo?") tanyanya cemas.


Husein terdiam sebentar. Jika sahabat sekaligus sekretarisnya berkata seperti itu berarti tidak terjadi sesuatu diluar rumah. ("Tidak apa-apa, gue hanya nanya saja. Thanks untuk yang kemaren karena lo sudah nganter gue pulang.") Husein langsung mematikan gawainya. Meletakkan kembali benda pipih itu di atas ranjang.


Husein menatap ranjangnya dan mata itu menagkap bercak merah yang tercetak jelas di sprey putih serta selimut yang baru saja menutupi tubuhnya. Tak bisa di pungkiri Husein jika itu memanglah darah. Husein melanjutkan menatap sekeliling kamarnya dan lagi-lagi mata itu menangkap selembar kain yang bisa di taksir Husein adakah hijab yang biasa di pakai Aida. Ya Husein tidak mungkin salah melihat jika itu memang milik istri.


"Astaga!!! Apa aku sudah melakukan itu sama dia?" Husein meraup wajahnya dengan kasar.


Segera Husein mengenyahkan pikirannya untuk sesaat. Dirinya saat ini butuh mandi untuk menyegarkan pikiran serta tubuhnya. Sebagian tubuhnya juga merasakan lelah.




Husein menuruni anak tangga menuju dapur. Disana sudah terdapat istrinya yang tengah menghidangkan sarapan pagi seperti biasanya. Wanita itu memang pantas di acungi jempol karena, tidak pernah lalai dalam tugasnya sebagian seorang istri.Tampak wajah wanita itu sedikit pucat dengan mata sembab, mungkin habis menangis itu pikir Husein.



"Apa terjadi sesuatu semalam?" tanya Husein setelah istrinya itu mengambilkan dirinya sarapan pagi.



"Maksud Mas?" Kaning Aida berkerut menatap suaminya.



"Apa terjadi sesuatu antaran kita semalam?" tanya Husein lagi.

__ADS_1



"Menurut Mas?"



"Jawab saja, antara iya dan tidak!" Tekan Husein menatap nyalang istrinya yang terasa mempermainkan pertanyaan.



"Jikapun terjadi sesuatu semalam apa yang akan kamu lakukan Mas?" tanya Aida menggeser piring yang berisi nasinya sedikit kedepannya.



"Lupakan!" ujar Husein dengan suara tegas.



Mata Aida membola mendengar ucapan suaminya. Lupakan? Bisakah Aida melupakan kejadian yang bahkan sangat membekas dalam dirinya. "Lupakan Mas?" ulang Aida yang mendapat anggukkan dari Husein. "Kenapa?" lanjut Aida dengan mata yang mulai mengembun.




"Anggap apa yang terjadi semalam itu tidak pernah terjadi. Anggap saja semalam itu hanya mimpi buruk untuk kita berdua. Bersikaplah seperti semula seperti tidak terjadi sesuatu antara kita," pinta Husein dengan lembut namun menusun ke relung hati Aida.



"Bisakah kamu kembalikan hal berharga dalam diriku, Mas? Agar bisa dengan mudah aku melupakan sesuai dengan ucapan kamu. Bisa kamu kembalikan Mas? Biar aku juga bisa menganggap ini hanya sebuah mimpi buruk yang singgah hanya sesaat?" Aida menatap suaminya itu sambil menahan tangis yang hampir saja keluar.



"Maksudnya?" tanya Husein tak mengerti.



"Bisakah kamu kembali sesuatu yang semalam kamu ambil dari aku, Mas? Bisa kah kamu kembalikan keperawanan aku seperti semula Mas?"


__ADS_1


Husein terdiam, tak mampu menjawab ucapan istrinya. Bagaimana bisa dirinya mengembalikan keperawanan istrinya jika sudah dia ambil. "Siapa suruh kau masuk ke kamar saya?" Husein tak kehabisan kata, langsung saja kata itu keluar dari mulutnya yang memang pintar.



"Jadi kamu menyalahkan aku yang masuk membantu kamu, Mas? Lalu apakah aku tetap salah jika aku yang hendak keluar kamu tarik dan kamu peluk dengan begitu eratnya Mas? Apakah aku tetap salah dengan segala usaha yang aku lakukan untuk terbebas dari kamu tapi nyatanya tidak berhasil? Apakah aku tetap salah jika aku sudah memperingati kamu jika aku bukan kekasih kamu, aku bukan wanita yang kamu cintai? Diman letak salah aku, Mas?" Rasa lapar yang tadi dirasakan Aida menguap seketika. Yang tertinggal hanya rasa sakit yang meremas dadanya begitu kuat.



Husein kembali terdiam mendengar ucapan istrinya. Lidah itu sangat susah untuk berkelit mencari alasan yang bisa membuat wanita itu bungkam. Namun tak ada satupun yang bisa di keluarkan otaknya. Otaknya sudah sangat buntu.



"Intinya kau harus melupakan apa yang terjadi semalam. Jangan pernah menganggap itu suatu yang benar terjadi!" ucapan Husein membuat senyum Aida mengembang dengan sempurna. Bukan senyum bahagia namun, senyum penuh dengan sayatan.



Aida beberapa kali menganggukkan kepalanya. "Kalau itu yang kamu mau, baik aku akan melakukannya Mas," jawab Aida yang masih dengan senyum di bibirnya.



"Bagus!! Memang itu yang saya inginkan." Husein ikut tersenyum mendengar ucapan Aida. Sungguh ucapannya berbuah dengan manisnya.



"Tapi pulangkan aku ke rumah orang-tuaku, dan mari kita cari kebahagiaan masing-masing. Mari kita buka lembaran baru dengan cara masing-masing pula, Mas," Senyum yang terbit di bibir Husein hilang dalam seketika. Wajah itu berubah dalam seketika saat mendengar ucapan istrinya membuat dirinya tak bisa berkata.



"Apa kamu bisa Mas? Maka apa yang kamu inginkan akan terwujud Mas," Aida memperhatikan raut suaminya yang berubah dalam seketika.



Jujur saja Aida sungguh tidak mau berkata seperti itu kepada seseorang yang merupakan surga bagi dirinya. Aida takut akan dosa, namun apa yang bisa Aida lakukan jika suaminya meminta sesuatu yang bahkan Aida sendiri tidak bisa mewujudkannya. Bagaimana bisa Aida melupakan kehormatannya yang sudah hilang diambil suaminya yang meski sah untuk laki-laki itu. Bagaimana bisa Aida menganggap kejadian semalam hanya mimpi buruk yang dia alami?



Aida sama dengan kebanyakan wanita yang akan merasakan luka jika suaminya sendiri tak menganggap kehormatan sesuatu yang berarti. Bagaimana bisa Aida ikhlas jika mulut suaminya berkata begitu pedasnya? Luka yang sebelumnya saja belum mengering namun, kini sudah diberikan luka baru yang semakin menganga namun di tambah lagi dengan perasan lemon, seperti itulah kira-kira hati Aida saat ini. Remuk, hancur tak bersisa ulah suaminya. Namun, kembali kagi Aida harus mengingat sang kuasa, Allah maha pemaaf tapi apakah dirinya bisa memaafkan ucapan suaminya yang menusuk bak belati?


__ADS_1


TBC


__ADS_2