SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 31


__ADS_3

Aida menatap Husein saat Husein memintanya untuk menukar pakaiannya serta membuka hijabnya di depan laki-laki itu. Meski ini bukan yang pertama kalinya karena malam nas itu membuat hijab lebar itu terbuka dengan paksa. Menolak Aida juga tidak akan bisa karena, akan mendapatkan dosa lantaran tidak mengikuti permintaan suami.


"Kalau memang itu yang Mas mau maka aku akan menuruti keinginan Mas," jawab Aida dengan tetap tersenyum manis kepada suaminya. "Mas tunggu di sini dulu, aku mau ganti baju," Aida turun dari ranjang menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Bukan pakaian tipis menerawang, melainkan baju tidur lengan singkat dengan celana panjang.


Lima menit kemudian Aida keluar dari dalam kamar mandi dengan baju tidur yang tadi diambilnya. Husein yang melihat itu langsung takjub. Tubuh yang dia lihat dengan pakaiannya yang dia kira kurus kering nyatanya berisi pada bagian tertentu. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan di pikiran Husein.


Rambut hitam yang bergerai hingga batas pinggangnya. Tampak lurus tanpa ada ikal yang mengikuti. Wajah yang biasa tertutup hijab nyatanya lebih cantik saat istrinya itu tanpa menggunakan hijab lebar hingga bawah pantatnya.


Cantik, manis dua kata yang kini berhasil di dalam pikiran Husein. Husein tidak bisa membohongi dirinya jika sang istri sungguhlah cantik. Nyatanya tidak cantik di luar tapi di dalam juga istrinya itu cantik. Betapa bodohnya Husein jika samapi melepaskan istrinya sesempurna Aida.


"Mas, kok bengong?" Aida yang sudah duduk di atas ranjang merasa heran dengan suaminya yang mematung sambil menatap dirinya tanpa kedip.


"Ahh ehhh, kamu ngomong apa? Bisa diulangi?" gagap Husein salah tingkah di ketahui istrinya jika dirinya memandangi wanita itu.


"Kenapa kamu bengong Mas? Apa ada sesuatu yang salah sama penampilan aku?" tanya Aida lagi.


"Emm tidak, kamu cantik kok," jawabnya membuat Aida tersipu. Aida sama dengan wanita lainnya yang akan salah tingkah jika di puji laki-laki, apalagi ini jelas-jelas sudah menjadi suaminya.


"Makasih Mas," ujar Aida.


"Bagaimana mulai dari sekarang kita manggilnya aku-kamu?" tanya Husein karena biasanya dirinya selalu memanggil saya atau kau. Rasanya tidak mungkin Husein mengajak Aida untuk memanggil kata sayang, apalagi kini mereka akan memulai hidup baru dalam rumah tangga yang sempat di ujung tanduk.


Aida mengangguk. "Iya Mas, aku suka dari pada kamu manggil aku dengan sebutan kau sedangkan menyebut diri kamu dengan saya. Berasa kita itu bukan suami istri melainkan orang asing baru saja bertemu," jawab Aida.


"Baiklah sekarang kita tidur karena hari juga sudah malam," ajak Husein di angguki Aida.


"Emmm, kamu masih ingat do'a mau tidur kan Mas?" tanya Aida ragu.


"Tidak, aku sudah lupa. Apa bisa kamu ngajarin aku?" tanyanya malu. Wajah tegas itu bahkan kini sudah tampak memerah karena malu dengan dirinya sendiri. Anak TK saja hafal tapi tidak untuk dirinya sudah sudah dewasa itu.


Aida tersenyum, bukan senyum mengejek melainkan senyum semangat agar suaminya itu tidak berkecil hati karena kelalaiannya dalam hal dunia.

__ADS_1


"Hmm baiklah, aku bacain terus kamu ulang ya Mas," ucap Aida diangguki husein. "Bismillahirrahmanirrahim. Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut.”


"Bismillahirrahmanirrahim. Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut.” ulang Husein tanpa mengulang untuk yang kedua kalinya. Untung saja otak Husein cepat tanggap jadi Aida tidak perlu mengeja bacaannya.


" Alhamdulillah Mas, kamu bisa bacanya dengan lancar. Emm, ya Mas arti dari do'a itu jangan kamu lupakan juga ya Mas. Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati. Itu artinya Mas," ucap Aida menatap suaminya yang juga tengah menatap dirinya dengan binar bahagia.


*****


Aida terbangun dalam pelukan suaminya. Ntah kapan Husein memeluk dirinya karena seingat Aida dirinya tidur tidak dekat dengan Husein melainkan ada beberapa jarak antara mereka.


Tanpa memikirkan hal yang membuatnya pusing, Aida memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan mengambil wuduk untuk sholat subuh. Kebetulan dirinya tidak terbangun sehingga tidak melaksanakan sholat tahajjud seperti biasanya. Mungkin karena dekapan hangat Husein membuatnya nyaman.


"Mas, bagun yuk kita sholat subuh dulu," Aida menggoyangkan tubuh suaminya yang memeluk guling dengan erat.


"Emmm, sebentar lagi," gumamnya nyaris tak terdengar.


"Nanti waktunya keburu habis Mas, mendingan kamu bangun sekarang dan ambil waduk," Dengan sabar Aida membangunkan suaminya.


Husein membuka netra itu dengan perlahan. Tadinya dirinya ingin sekali memarahi wanita yang dengan beraninya membangunkan dirinya dari tidur nyenyaknya. Namun, pikirannya yang akan memperbaiki pernikahan mereka muncul begitu saja. Sehingga Husein tak jadi memarahi istrinya.


Aida mengelar sajadah di lantai yang dialasi karpet bulu bewarna merah terang. "Mas," Aida menyodorkan sarung serta peci kepada suaminya. Jika ditanya dari mana Aida mendapatkan peci jawabannya dari dalam lemari karena, peci itu di pakai Husein saat acara pernikahan mereka waktu itu.


"Apa bisa kita sholat sendiri-sendiri saja?" pinya Husein ragu.


"Kenapa Mas?" tanya Aida bingung.


"Emm, aku takut jika nanti bacaannya ada yang salah, jadi sebelum itu aku harus lebih dulu banyak belajar agar jika aku mengimami kamu tidak ada lagi salah dalam pengucapan ayatnya," jelas Husein.


"Baiklah Mas, nanti kita belajar sama-sama ya Mas," Aida menampilkan senyumnya kepada sang suaminya. Aida maklum dengan suaminya, karena Aida tahu jika selama ini suaminya itu hanya memikirkan hal dunia tanpa ingat akan alam akhirat tempat yang nyata.


__ADS_1



Selepas sholat subuh dan membaca beberapa lembar ayat Al-Quran Aida langsung menuju dapur untuk memasak sarapan pagi untuk dirinya dan juga suaminya, Husein. Sedangkan Husein kembali memasuki alam mimpi yang katanya masih ngantuk. Dan Aida hanya membiarkan suaminya untuk kembali meneguk manisnya alam mimpi.



"Kamu nggak kerja Mas?" tanya Aida saat melihat suaminya masih menggunakan pakaian rumah. Padahal bisanya Husein sudah rapi dengan kemeja serta jas yang menghiasi tubuh kekar itu.



"Iya, nanti kira-kira jam 9 aku ke kantor," jawab Husein kepada istrinya yang telah mengambilkan dirinya sarapan pagi. "Terima kasih," lanjut Husein setelah menerima piring dari istrinya.



"Iya Mas, sama-sama,"



Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang membuka suara. Menikmati sarapan pagi yang terasa lezat seperti biasanya karena masih tangan yang sama yang membuatnya.



"Mas nanti mau aku bawain makan siang ke kantor atau gimana?" tanya Aida saat mereka telah sekai makan pagi.



"Emm nggak usah, nanti biar aku bawa saja sekalian. Lagian aku juga berangkatnya jam 9man jadi masih sedikit hangat jika aku makan siang nanti,"



"Hmm baiklah Mas," jawab Aida.

__ADS_1



TBC


__ADS_2