SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 08


__ADS_3

Aida tidak bisa tertidur dengan nyaman. Rasanya dia tak tenang lantaran, suaminya tak ada di rumah. Pikiran gadis itu hanya tertuju pada suaminya yang jauh di sana. Pikiran gadis itu tak tenang sedikitpun, ingin memberi kabar pun, rasanya tak akan mungkin karena, nomor HP Husein tak ada pada dirinya.


Akhirnya larut malam baru bisa Aida menutup mata karena memang sudah sangat mengantuk. Tapi sebelum itu Aida melaksanakan sholat tahajjud terlebih dahulu karena, takut jika dirinya tak bangun lagi setelah ini. Apalagi kini sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


***


Husein membelai wajah cantik kekasihnya dengan lembut. Menikmati setiap inci wajah cantik kekasihnya yang tampak terpejam dengan bibir merah merona yang biasa di gunakan gadis itu.


"Sayang apa kamu rindu denganku?" Sinta membuka matanya, melihat netra terang kekasihnya yang juga tengah menatap dirinya.


"Aku sangat rindu Sayang. Makanya aku datang ke sini untuk menemui kamu." Husein mendaratkan ciumannya kada dahi Sinta dengan lembut.


"Sama Sayang, aku juga sangat merindukan kamu. Jika saja tadi kamu tidak datang kesini aku akan nyusul kamu ke rumah kamu," Sinta memeluk erat tubuh kekasihnya. Mencium harum maskulin yang dikeluarkan tubuh laki-laki itu. Sangat menenangkan, bahkan Sinta tak bosan mencium bau harum pada tubuh kekasihnya.


"Hehehe kan aku sudah di sini Sayang," Husein balas memeluk tubuh kekasihnya dengan erat.


"Ya kan aku ngomongnya jika kamu tak datang, Sayang," rajuknya memanyunkan bibir merahnya membuat Husein gemas. Langsung saja bibir laki-laki itu mengecup pelan bibir merah kekasihnya. Bibir yang tak pernah hilang dari lapisan lipstik.


"Apa kamu sudah ngantuk, Sayang?" Husein melepaskan tautan bibir mereka. Menatap intens wajah cantik kekasihnya.


"Belum, kenapa Sayang?" tanya Sinta lembut.


"Aku lapar, apa bisa kamu masakin sesuatu untukku?" pinta Husein.


"Baiklah, kamu tunggu disini ya. Biar aku buatin makanan yang tak akan memakai waktu lama." Sinta meninggalkan kekasihnya seorang diri di dalam kamarnya. Memenuhi apa yang di inginkan kekasihnya dengan senang hati.


Sepeninggal Sinta, Husein mengutak-atik benda pipih yang selalu dibawanya.


("Hallo, Assalamualaikum Nak,") Husein menjawab telepon dari Bundanya, Fatimah.


("Wa'alaikumsalam Bunda,") jawab Husein.


("Apa kamu sibuk Nak? Gimana kabar kamu dan mantu Bunda?") Kembali terdengar suara di sebrang sana.


("Aku sehat Bun, begitu pula dengan istriku,") jawab Husein.


("Alhamdulillah Nak, kamu sekarang di rumah 'kan Nak?") Jantung Husein sudah di pompa dengan kencang saat mendengar ucapan Fatimah.

__ADS_1


("I-iya Bun, ada apa?") tanya Husein dengan grogi. Laki-laki itu takut jika Bundanya ingin berbicara dengan istrinya yang jelas tak ada di dekatnya. Apalagi saat ini dirinya malah tidur di rumah kekasihnya.


("Apa boleh Bunda ngomong sama mantu Bunda, Nak?")


Apa yang dipikirkan Husein nyatanya jadi kenyataan. Lidahnya kelu mau ngomong apa sama Bundanya. ("Emm, it-itu istriku sedang di kamar mandi Bun, mungkin akan lama keluarnya katanya mau bab,") Tiba-tiba saja pikiran itu terlintas dari pikiran Husein.


("Kamu tidak bohong kan, Sayang?") selidik Fatimah di sebrang sana. Apalagi saat mendengar ucapan putranya yang tampak grogi. Seperti ada sesuatu yang terjadi.


("Tidak Bun, aku tidak bohong,") sanggah Husein dengan cepat. Dia takut jika Bundanya akan membahas masalah kekasihnya seperti beberapa hari lalu.


("Baiklah Nak, karena hari sudah malam Bunda tutup dulu ya. Jangan lupa sampaikan salam Bunda buat mantu Bunda. Assalamualaikum Nak,")


("Iya Bun, wa'alaikumsalam,") Husein mengehla nafasnya dengan kasar. Untung saja Bundanya sudah mengakhiri teleponnya, jika saja tidak bisa berbahaya untuk dirinya. Dia sangat takut jika sang bunda akan membahas masalah kekasih yang sudah di suruh putuskan oleh Fatimah.


"Kamu kenapa Sayang? Kok wajahnya pucat gitu?" Sinta membawa satu piring nasi goreng ke dalam kamarnya.


"Itu tadi Bunda nelpon aku,"


"Terus kenapa wajah kamu malah pucat gitu Sayang?" Sinta mengernyitkan dahinya.


Sinta menganggukkan kepalanya paham. Lagian hubungannya dengan Husein tak di restui Fatimah. Maka dari itu Husein dengan cepat di nikahkan denagn istrinya sekarang, Aida. Berharap Laki-laki itu bisa mencintai istrinya. Tapi usaha itu kini masih dalam sia-sia.


"Ya sudah kamu makan dulu Sayang, katanya tadi lapar," Sinta menyodorkan sepiring nasi goreng untuk kekasihnya.


"Terima kasih Sayang," Husein langsung menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya. "Kamu juga harus makan Sayang," Husein menyodorkan sesendok nasi di depan mulut Sinta. Dengan senang hati gadis itu memakannya.


****


Aida membereskan sajadah yang baru saja dia gunakan untuk melaksakan sholat subuh. Mata gadis itu terlihat sedikit menghitam karana kurang tidur.


"Masak apa ya pagi ini?" Aida membuka kulkas. Disana terdapat banyak bahan masakan.


"Tumis kangkung sama ikan goreng sepertinya enak," Langsung saja Aida mengambil apa yang dia katakan tadi.


Dalam waktu setengah jam akhirnya makanan Aida sudah tertata tapi di atas meja makan. Selanjutnya gadis itu menuju kamar untuk membersihkan diri sebelum suaminya pulang. Dia akan sarapan pagi bersama suaminya. Tapi suaminya itu ntah pulang atau tidak pagi ini, yang jelas Aida tetap memasakkan saran untuk suaminya.


Ting!!

__ADS_1


Ting!!


Aida dengan segera melangkah menuju pintu rumah, karena memang belum di buka gadis itu.


"Mas, kamu sudah pulang?" Aida menyalami tangan suaminya tanpa di minta. Gadis itu tampak senang karena suaminya sudah tiba di rumah. Dan pastinya meraka akan sarapan pagi bersama.


"Apa kamu sudah lapar Mas?" Aida mengiring langkah suaminya memasuki rumah.


"Bagaimana tidur kamu semalam Mas? Apa nyenyak?" Lagi-lagi Aida melontarkan pernyataan kepada Husein. Membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya.


"Kau kenapa semakin hari malah selain berisik?! Bikin sakit telinga saja!"bentak Husein membuat Aida terlonjak.


"Maafkan aku Mas, maafkan aku yang sudah banyak bertanya sama kamu. Aku hanya khawatir dengan kamu, Mas," Aida menundukkan kepalanya takut.


"Apa yang harus kau khawatirkan dengan saya? Saya pasti akan baik-baik saja meski tak ada kamu. Lagian kekasih saya ada yang menemani saya."


"Aku khawatir karena kamu melakukan dosa Mas. Aku khawatir kamu akan terjerumus terlalu dalam karena hubungan haram yang kamu ciptakan. Aku khawatir kamu tidak bisa berpegangan saat beriringan di akhirat nanti Mas. Aku takut akan hal itu."


Husein jengkel mendengar ucapan Aida, karena istrimu itu pasti akan selalu menyangkut pautkan tentang agama dalam hal yang dia lakukan.


"Kenapa kau selalu saja mengatakan tentang agama pada saya? Heran deh!"


"Karena segala sesuatu itu harus berhubungan dengan agama, Mas. Kalau saja tidak ada agama yang akan menuntun seorang hamba mungkin saja dunia sudah kacau." jawab Aida.


"Alah, kau seperti seorang hamba yang suci saja!"


"Aku tidak bilang jika diriku suci Mas. Aku juga seorang pendosa yang berusaha untuk memperbaiki diriku agar menjadi lebih baik lagi dari yang lalu. Aku hanya mengingatkan kamu agar tidak terlalu jauh mengali lobang dosa dalam kemaksiatan."


"Kau bisa diam tidak!! Dari tadi ngoceh mulu seperti burung!!" Husein kembali membentak Aida.


"Astagfirullah Mas, lagian aku nasehatin kamu juga untuk kebaikan kamu, Mas,"


"Kamu terlalu banyak omong!! Saya sudah laper jadi saya harap kau tak lagi mengoceh yang akan membuat mood makan saya hilang."


"Baiklah Mas, maafkan aku," pinta Aida lembut.


TBC

__ADS_1


__ADS_2