
Husein membelah jalan raya yang tampak sangat ramai. Untung saja tidak ada yang macet. Husein menghilangkan masalah yang baru saja terjadi didalam rumah tangganya. Rumah tangga yang hampir di ujung tanduk.
Pikiran Husein hanya satu, rumah kekasihnya. Dia sudah sangat merindukan wanita itu setelah dua hari tidak bertemu. Bahkan untuk saling memberi kabar saja dirinya dan juga Sinta selama dua hari ini juga tidak. Takut dirinya akan ketahuan mertuanya.
Husein turun dari mobil setelah sampai dihalam rumah Sinta. Laki-laki itu langsung saja masuk kedalam rumah sang kekasih karena pintu rumah itu kebetulan tidak terkunci.
Dengan langkah pasti, Husein mencari kekasihnya di dapur karena tidak bertemu di ruang tamu. Namun, di dapur pun kekasihnya tidak ada. Tempat terkahir yang akan di kunjungi Husein adalah kamar. Kamar yang biasa dia dan Sinta gunakan untuk tidur malam hari tanpa melakukan hal yang lebih.
Husein membuka pintu kamar itu dengan pelan, ingin memberikan kejutan kepada sang kekasih karena selama dua hari tidak bertemu. Namun, dirinya malah mematung menyaksikan dua orang yang tengah memadu kasih dengan suara-suara yang sangat memuakkan serta memekakkan gendang telingannya. Tangan Husein terkepal dengan eratnya menyaksikan kedua orang itu.
Cintanya dikhianati? Perasaan tulus yang selama ini dia punya malah di berikan kenyataan yang amat menyakitkan seperti saat ini.
"Sayang, aku mencintaimu," Langkah Husein yang hendak berbalik terhenti saat mendengar suara wanita yang dicintainya. Kembali Husein menatap sepasang kekasih yang tengah memadu kasih dengan nikmatnya.
"Aku juga mencintaimu Sayang, tapi kenapa kamu tidak mau putus sama pacar kamu yang sok jual mahal itu?" Laki-laki itu mendengus menatap kekasihnya yang susah berkeringat.
"Aku juga mencintainya , Sayang. Aku mencintai kalian berdua," ungkapnya jujur.
"Kamu jangan serakah Sayang, jika dia tahu hubungan kita tamat sudah kisahmu dengannya. Mendingan pilih aku yang jelas orang pertama yang merenggut mahkota kamu." Bangganya dengan tetap melakukan aksinya.
"Ya jangan sampai tahu lah Sayang, kecuali kamu yang membocorkannya, sudah pasti hal itu akan terjadi." jawabnya manja.
Husein yang menyaksikan kedua orang itu langsung saja menendang pintu dengan kuat membuat kedua orang itu terkejut.
"Sayang," Sinta menatap Husein dengan takut. Kini kedoknya sudah terbuka di hadapan kekasihnya sendiri. "Ini tidak seperti yang kamu lihat Sayang," Dengan segera Sinta memakai bajunya yang berserakan dilantai. Sedangkan laki-laki yang bersamanya hanya duduk diatas ranjang tanpa melakukan apa-apa. Dari awal dirinya berhubungan dengan Sinta sudah dia jelaskan pilih salah satu dari mereka namun, wanita itu terlalu keras kepala dan serakah. Kini lihatlah buah dari hasil perbuatannya.
"Stop!!!!" Husein mengangkat tangannya membuat Sinta langsung berhenti di tempat.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu lihat,"
Husein menatap Sinta dengan tajam, urat-urat lehernya jelas terlihat karena rasa marah yang berusaha dia tahan. "Apakah yang saya lihat itu hanya halusinasi saja atau saya tengah sedang bermimpi?" tanya Husein tajam.
"Sayang percaya sama aku, kamu salah lihat Sayang," Bujuknya berusaha mengambil tangan Husein,namun dengan segera Husein menjauhkan tangannya dari Sinta. Rasanya sangat jijik bersentuhan dengan wanita itu.
__ADS_1
"Jika saya salah dengar lalu, apakah saya juga salah dengar dengan ucapan yang saya dengar? Kau sangat serakah, kau wanita terserahlah yang pernah saya miliki!!" Marahnya dengan mata nyalang.
"Sayang percaya sama aku," Bujuknya.
"Percaya? Jangan harap saya akan percaya sama anda lagi!!" jawabnya lalu melirik tajam laki-laki yang kini tengah menyaksikan perdebatan antara dirinya dan Sinta dengan santai. "Kalian berdua dengar apa yang akan saya katakan baik-baik. Mulai detik ini hubungan kita kandas, jangan pernah sekali pun kau injak kan kaki kotor itu di kantor maupun rumah saya!!!"
"Tidak!!! Aku tidak mau putus Sayang, aku sangat mencintaimu kamu,"
"Cih!!!! Jangan pernah panggil saya dengan mulut kotor kau itu." Setelah mengatakan itu Husein langsung meninggal rumah Sinta dengan hati yang terluka dan amarah yang sangat besar.
"Sayang dengarkan aku dulu. Kamu harus percaya sama aku, Sayang," Sinta mengejar Husein yang tidak menghiraukan ucapan. Bahkan mobil laki-laki itu sudah keluar dari gerbang rumahnya.
Sinta mendudukkan tubuhnya dengan mata yang penuh air mata. Apa yang selama ini dia simpan nayata terbongkar juga.
"Sayang," Laki-laki yang tadi bersama Sinta mengelus lembut lengannya. "Kamu tidak usah sedih Sayang, aku akan selalu ada untuk kamu," ujarnya memeluk erat tubuh wanita itu.
"Aku cinta sama dia, Sayang tapi, aku juga cinta sama kamu. Aku ingin kalian berdua aku, hanya ingin kalian yang berada di sisiku." ungkapnya dengan jujur.
"Tidak!!! Aku tidak akan melepaskan Husein, aku juga mau dia dan kamu. Aku akan terus berjuang hingga kita bertiga bisa menikah." Sinta menghapus air matanya dengan kasar. Kini dia sudah bertekad akan meluluhkan hati kekasihnya itu kembali .
Laki-laki itu hanya memijit kepalanya pusing. Wanita dihadapan itu sangat sulit untuk ditaklukkan dan juga keras kepala.
Husein mengendarai mobilnya menuju clab untuk menghilang segala rasa yang tengah dialaminya. Sudah lama Husein tidak menginjakkan kakinya kada tempat haram itu. Kira-kira sejak setahun sebelum menikah dengan Aida dirinya tak lagi ke sana. Karena terkahir dia kesana mendapat amukan dari sang ayah dan acuhan dari sang ibu yang membuat Husein tak berani lagi kesana.
Tapi, kini dia kembali masuk ketempat itu. Pikirannya tengah kacau, hatinya dipatahkan oleh wanita yang dicintainya. Wanita yang dia yakini tidak memiliki kecacatan sama sekaki. Bahkan dengan bangganya dirinya membantah ucapan sang ibu dan ayah. Namun, kini kenyataan yang dia terima membuat dirinya sakit hati, kecewa dan marah sekaligus.
__ADS_1
Mungkin bagi kebanyakan orang akan melayangkan bogeman mentah untuk selingkuhan kekasihnya tapi, Husein tidak akan pernah hal melakukan itu. Percuma saja diirnya membuang-buang tenaga yang tidak akan ada hasilnya. Dia lelah tapi yang dia dapat hanya nol besar.
Husein memesan satu botol alkohol pada bartender. Meneguk habis minuman keras itu tanpa jeda. Kembali Husein memesan satu botol lagi untuk di teguknya. Baru saja setengahnya diminum Husein seorang laki-laki yang bertugas sebagai sekretarisnya datang menghampiri dirinya.
"Lo ngapain sampain mabuk gini sih?" Fiki meraih botol alkohol yang masih tinggal setengah itu di tangan Husein. Laki-laki itu sudah mulai mabuk dan menyerocos tidak jelas.
"Kenapa kamu selingkuh Yang? Apa kurang aku sehingga kamu tidak setia sama aku tanpa mau tergoda sama laki-laki lain? Padahal aku berusaha meyakinkan Ayah kalau kamu itu wanita baik-baik," bulir bening keluar dari mata Husein. Saat ini dirinya sudah berada di dalam mobil di bantu Fiki sertakan beberapa pengawal yang setia menemaninya.
Sepanjang jalan Husein terus meracau dan menyebut-nyebut nama mantan kekasihnya. Bahkan banyak lontaran kata-kata kotor yang keluar dari mulut itu.
Fiki mengantar Husein sampai kediamannya. Disana seorang wanita berhijab lebar langsung menyambut kedatang suaminya.
"Terima kasih Mas, sudah membawa suami saya pulang. Tapi ini suami saya kenapa bisa pingsan Mas?"
"Suami Ibu tadi habis dari club, mungkin saja dirinya tengah tidak baik-baik saja. Makanya datang kesana." jawab Fiki.
TBC
__ADS_1