SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 22


__ADS_3

"Alhamdulillah Sein, Abi hanya minta sama kamu jangan pernah kecewakan Abi. Jangan pernah membuat Abi memandang kamu tak layak untuk menjadi suami untuk putri, Abi. Abi tahu jika pernikahan antara kamu dan Aida terpaksa namun, yang harus kamu tahu pernikahan itu terjadi karena memang kalian berdua ditakdirkan untuk berjodoh. Kamu terpaksa menikahi putri, Abi sama halnya dengan Aida yang juga terpaksa menerima pernikahan ini. Intinya kalian berdua sama-sama terpaksa. Tapi yakinlah lah Nak, jika di balik itu semua banyak hikmah yang suatu saat bisa kalian petik."


Husein kembali diam mendengar ucapan Ayah mertuanya. Apa yang dikatakan Hasan memang benar, mereka sama-sama terpaksa menikah. Namun, dirinya yang tidak menganggap Aida istrinya bahkan tidak memperlakukan Aida sebagai layaknya seorang istri. Berbeda dengan gadis itu yang menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik.




Waktu makan malam akhirnya sudah usai. Kini mereka berempat berada di ruang tamu sambil menikmati waktu malam dengan menonton acara televisi.



Sesekali Aisyah menatap bergantian kepada anak gadisnya serta kepada sang menantu yang duduk tidak berdekatan. Seakan ada jarak diantara keduanya. Aisyah yang seorang ibu memiliki firasat jika pernikahan antara putrinya dan Husein tidaklah baik-baik saja. Apalagi melihat wajah sedih anaknya setiap kali mereka membahas Husein. Meski wajah itu tersenyum Aisyah dapat melihat mana senyum bahagia dan mana senyum hanya hanya sekedar terpaksa.



Ingin sekali rasanya Aisyah berbicara dengan Husein tapi, kini bukanlah waktu yang tepat. Apalagi disini ada Aida dan juga suaminya.



\*\*\*\*



"Sein, bisa kita bicara sebentar?" Asiyah menghampiri menantunya yang tengah duduk seorang diri di ruang tamu.



"Baiklah Ummi, mau bicara dimana Mi? Disini atau tempat lain?" Husein menatap ibu mertuanya itu dengan sedikit kebingungan.



"Di taman belakang saja Sein. Biar kita ngobrolnya juga enak,"



Kini Aisyah dan Husein sudah duduk di bangku terpisah yang berada di taman belakang. "Apa pernikahan kamu baik-baik saja dengan Aida, Sein? Bukan Ummi mau ikut campur urusan rumah tangga kalinya, tidak!! Hanya saja Ummi bisa melihat tidak adanya kebahagiaan yang terpancar dari wajah Aida, Nak," ungkap Aisyah thu the poin.



Deg....!!!!

__ADS_1



Jantung Husein langsung menggila kala mendengar ucapan ibu mertuanya. Tak jika Aisyah akan menanyakan hal itu kepada dirinya.



"Ummi hanya ingin putri Ummi bahagia menikah sama kamu, Nak. Tidak akan ada seorang ibu yang rela anaknya sengsara di dalam pernikahannya, Nak. Jadi tolong buat putri Ummi bahagia di dalam pernikahan kalian. Tapi, jika kamu memang tidak sanggup membahagiakannya kembalikan Aida kepada Ummi dan Abi, Nak. Kami tidak akan marah jika kamu mengembalikan Aida kesini, kami paham jika kalian hanya di nikahkan secara paksa." Air mata Aisyah keluar tanpa dapat di cegahnya. Tak sanggup jika apa yang kini di pikirkan terjadi di dalam rumah tangga sang putri. Ada rasa sesal di dalam diri Aisyah jika saja hal buruk terjadi pernikahan paksa putrinya.



"Maaf Ummi, alhamdulillah pernikahan aku dan Aida baik-baik saja Ummi. Kami tidak memiliki masalah di dalam pernikahan kami," Bohong Husein dengan paksa menampilkan senyum manisnya.



Aisyah menampilakn senyum manisnya. Dirinya sangat tahu jika Husein tengah berbohong karena jelas dari raut wajah laki-laki itu yang berubah. Namun, Aisyah memilih untuk tidak memperpanjang masalah rumah tangga anaknya yang jelas tidak ada ranahnya di dalam sana. "Baiklah Nak, jika memang itu yang terjadi di dalam rumah tangga kamu dan Aida. Ummi ikut bahagia Nak, tapi Ummi berharap kalian bahagia selalu dan tidak ada kekecewaan yang kalian berikan kepada Ummi, Abi dan juga ke-dua orang-tua kamu kelak Nak,"



Lagi-lagi Husein terdiam karena ucapan ibu mertuanya. Saat ini pikiran Husein tengah berperang memikirkan jika saja Bundanya tahu bagaimana rumah tangga dirinya dan Aida apa yang akan di lakukan bundanya? Ahhh, mungkin saja bundanya akan paham jika mereka menikah karena paksaan. Namun pikiran itu sirna karena terbayang hubungannya dengan Sinta. Jika Fatimah tahu sudah pasti dirinya akan menjadi gelandangan untuk selamanya. Apa Husein sanggup? Jawabannya tidak. Apakah Sinta akan tetap bertahan dengan dirinya yang sudah miskin? Jawabkan juga tidak. Karena gaya hidup wanita itu yang glamour dan tidak akan pernah mau hidup miskin dengan dirinya.



"Iya Ummi, aku dan Aida tidak akan membuat kalian semua kecewa," balas Husein singkat. Tak tahu apa yang harus dia katakan kepada ibu mertuanya itu.




"Ya susah Ummi masuk dulu." pamit Aisyah yang meninggalkan Husein seorang diri dengan pikiran yang ntah apa isinya.



Sekian lama akhirnya Husein sadar jika dirinya hanya seorang diri di sana. Tak ada lagi ibu mertuanya yang tadi duduk di depannya menatap dirinya dengan pandangan yang Husein tidak bisa menebaknya.



"Aarggghhht!!" Husein menguyar rambutnya sampai berantakan.



Kini ada rasa takut dirasakan Husein, takut jika Bundanya tahu dirinya sudah menghianati suatu hubungan sakral yang sudah dia jalani selama 6 bulan ini. Apalagi beberapa bulan lagi orang tuanya akan kembali lagi ke tanah air untuk selamanya. Membuat Husein semakin frustasi dan pusing.

__ADS_1



Ntah dibawa kemana nanti hubungannya dengan Sinta, dirinya sungguh tidak bisa berfikir jernih untuk saat ini. Husein memilih untuk masuk ke dalam kamarnya bersama Aida selama dirinya tinggal di rumah mertuanya.



Disisi lain Aida tengah duduk bersama dengan tetangganya di teras rumah. Menikmati segelas jus jeruk serta kue kering yang di suguhkan Aida.



"Mbak apa kabar? Sudah kama sekali kita tidak berjumpa dan berkomunikasi. Kira-kira semenjak 3 bulan yang lalu tepat dimana hp aku hilang ya Mbak?" Nia, tetangga yang sering mengobrol dengan Aida tentang masalah agama yang utamanya. Karena selama ini mereka tidak pernah mengarah kearah dosa jika berbicara, paling banyaknya ya tentang agama.



"Seperti yang kamu lihat Nia, alhamdulillah Mbak sehat." jawab Aida dengan tersenyum kecil. "Iya kamu benar Nia, kira-kira 3 bulan yang lalu kita terhakhir berkomunikasi setelah itu tidak ada lagi. Bahkan ini pembicaraan kita setelah 3 bulan berlalu." jawab Aida dengan kekehan kecil di mulutnya.



"Hahaha iya Mbak, nggak nyangka juga aku jika kita tahan nggak komunikasi selama 3 bulan. Padahal dulu saat aku masih memiliki HP pasti kita akan sering chattingan."



"Iya Nia, Mbak jadi rindu saat-saat kita chattingan dengan Mbak yang banyak memberikan ilmu yang Mbak punya untuk kamu,"



"Iya Mbak bener banget. Aku juga rindu itu semua itu Mbak." jawabnya menatap Aida sekilas sebelum menyesap jus jeruk di depannya. "Mbak aku mau nanya sesuatu boleh?" Nia meletakkan gelas jusnya masih tinggal setengah.



"Boleh kamu mau nanya apa Nia? Jika Mbak tahu in syaa Allah pasti akan Mbak jawab,"



Nia mengangguk. "Terima kasih Mbak,"



"Iya Nia, sama-sama. Kamu mau nanya apa emang Nia?" Aida menatap penasaran gadis yang 2 tahun dibawahnya itu.


__ADS_1


TBC


__ADS_2