SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 16


__ADS_3

Taksi yang di naiki Aida akhirnya sampai di perkarangan rumah. Langsung saja Aida turun dari taksi tersebut setelah membayar ongkos kepada Pak supir.


"Assalamu'alaikum," Aida membuka pintu rumah serta mengucapkan salam. Baik ada atau tidaknya orang di dalam rumah, Aida akan membaca salam saat masuk.


"Wa'alaikumsalam, loh mata kamu kenapa Ai?" Fatimah yang kebetulan berada di ruang tamu menjawab salam menantunya dan tak sengaja netra tua itu menatap netra sang menantu.


"Tidak apa-apa kon Bun ini tadi di perjalanan kemasukan debu," jawab Anda bohong. Aida tidak mau Ibu mertuanya itu tahu apa yang tengah terjadi di kantor suaminya tadi. Cukup saja dirinya yang tahu apa sesungguhnya terjadi.


"Kamu nggak lagi bohongin Bunda kan Ai?" Fatimah menghampiri menantunya. Menyentuh bahu sang menantu dengan lembut.


Aida menggeleng. "Tidak Bun, aku nggak lagi bohongin Bunda kok. Aku ke kamar dulu ya Bun mau sholat zuhur," pamit Aida yang di angguki Fatimah.


Sedangkan Hamzah yang melihat sang menantu hanya diam tanpa ikut berkomentar. Laki-laki paruh baya itu tahu jika sudah terjadi sesuatu di kantor putranya. Jika saja menantunya hanya kelilipan tidak akan mungkin netra terang itu akan merah bahkan sampai sembab seperti itu.


Aida, menantu impian yang dimiliki Hamzah. Menantu yang sangat sulit di dapatkan pada zaman modern seperti sekarang. Mungkin saja dari 100 persen perempuan hanya terdapat 5 persen yang memiliki sifat sama dengan Aida. sudah lembut tutur katanya, memiliki hati yang tulus serta tak mengumbar aib suaminya kepada sang mertua. Sungguh Hamzah sangat bersyukur memiliki menantu seperti Aida. Tapi, hanya satu yang kini membuat Hamzah marah. Anaknya, hanya anaknya yang tidak bersyukur memiliki istri seperti Aida. Ntah seperti apa rumah tangga mereka suatu saat nanti jika putranya itu tak kunjung sadar.


Hamzah menarik nafasnya dalam. Mengenyahkan pikiran buruk yang bersarang di kepalanya. Memijit pangkal hidungnya lantaran kepalanya sedikit berdenyut memikirkan putranya yang bisa dikatakan tidak tahu di untung. Sudah dapat istri yang sholeh tapi malah di sia-siakan.



Aida mengelar sajadah di lantai marmer kamar milik Husein karena, untuk beberapa hari ke depan Aida masih akan menginap di kamar itu selama mertuanya belum kembali ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka disana.



"Ya Allah, engkau yang maha melihat lagi maha mendengar. Hati ini teramat sakit melihat suami yang sudah mulai hamba cintai malah berbuat hal zina dengan kekasiknnya di depan mata hamba sendiri ya Allah. Sakit, amat sakit ya Allah. Rasanya hati ini sungguh tidak bisa menerima hal seperti itu. Bisakah, bisakah Engkau kabulkan do'a hamba ya Allah. Bukalah pintu hatinya, ketuklah pintu hatinya agar hamba bisa masuk ke dalam sana meski sangat susah. Ya Allah kuatlah hamba, kuatkanlah hati hamba seperti baja yang tak mudah patah. Permudahlah segala sesuatu yang hamba lakukan ya Allah," Aida menutup do'anya dengan mengusapkan telapak tangan lembut itu ke seluruh wajahnya.



Aida melipat mukenah serta sajadah seperti semula. Meletakkannya di atas meja tempat tadi Aida mengambilnya. Setelahnya Aida langsung saja turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Kebetulan Aida belum makan siang membuat perut itu terus berontak minta disini. Cacing-cacing di dalam perutnya sudah menari dengan lihainya.



"Bunda sudah makan siang?" Aida yang tengah mengambil nasi di dalam megicom melihat Ibu mertuanya tengah mengambil air putih.


__ADS_1


"Sudah Ai, tadi Bunda sama Ayah sudah makan ketika kamu berangkat ke kantor," jawab Fatimah.



"Hmm, ya sudah Bunda. Aku makan dulu ya Bun, apa Bunda mau makan lagi?" tanya Aida menatap Ibu mertuanya.



"Tidak Ai, Bunda masih kenyang. Kamu makanlah Bunda mau ke ruang tamu temenin Ayah nonton," pamit Fatimah di angguki Aida.



Aida membaca do'a sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya agar apa yang dia makan menjadi berkah di dalam dirinya. Tak ada yang di fikirkan Aida saat tengah menyantap makan siangnya agar moodnga tidak berantakan.



\*\*\*\*




"Sayang kita makan di luar yuk? Aku nggak mau makan, makanan ini," ajak Sinta dengan bergelayut manja di lengan kekasihnya.



"Kenapa Sayang? Ini makannya enak loh? Bahkan air liur ku saja sudah mau netes," jawab Husein jujur. Sungguh makanan yang dibawa istrinya sangat mengundang lidahnya untuk segera mencicipinya.



"Pokoknya aku nggak mau makan makanan ini Yang. Aku mau makan di restoran sama kamu. Titik!!" Sinta tetap kekeuh dengan pendiriannya. Dia sungguh tak mau makan masakan istri kekasihnya yang membuat dirinya amat kesal dengan ceramah yang memuakkan keluar dari mulut sok suci itu.



"Tapi ini enak loh Yang? Kita makan ini saja ya,"

__ADS_1



"Aku nggak mau Yang, pokoknya aku mau makan di luar bareng kamu."



"Tapi Yang--"



"Berarti kamu lebih memilih masakan wanita itu dari pada ajakan aku. Ya sudah kalau itu mau kamu mendingan aku pergi dari sini dan makan dimanapun yang aku suka," rajuknya membuat Husein menghela nafas kasar.



"Baiklah Sayang, kita makan di luar. Tunggu sebentar biar aku tutup dulu makanan ini seperti semula." Kembali Husein menyusun rantang itu dengan tapi.



Husein membawa rantang yang tadi dibawa Aida ke kantornya dengan isi yang tetap utuh. Bahkan tidak tersentuh sama sekali. Husein meletakkan tantang itu di dapur yang kebetulan Aida tengah berada disana. Langsung saja istrinya itu menyalami tangannya seperti biasa. Tak lupa senyum manis membingkai wajah cantik sang istri.


"Kamu sudah pulang Mas? Apa makanannya sudah kamu habiskan Mas?" Aida tampak antusias menanyakan itu pada suaminya. Namun Husein tak menjawab pertanyaan istrinya, melainkan langsung meninggal dapur menuju kamarnya. Meninggalkan istrinya yang hanya mematung menatap kepergiannya.


"Kamu jangan sedih Ai, bukankah suami kamu memang bersifat seperti itu? Lantas apa yang hendak kamu tangisi?" monolog Aida pada dirinya sendiri. Dia harus kuat, nggak boleh patah semangat hanya karena suaminya yang terkesan dingin.


Dengan senyum mengembang Aida menarik rantang yang dibawa suaminya. Berat? Satu kata yang kini menghiasi kepala Aida. Berbagai macam pikiran buruk bersarang di kepala Aida. Satu-persatu rantang itu di buka Aida, mata cantik Aida membola saat melihat isi rantang itu tak berkurang meski hanya sedikitpun alias utuh.


"Kenapa kamu lakukan ini sama aku, Mas? Apa segitunya kamu benci sama aku sehingga makan siang yang aku bawakan saja tidak kamu sentuh?" Jatuh sudah air mata yang tadi Aida tahan. Tak menyangka suaminya tak menghargai masakan yang sudah dia buat bahkan, dengan senang hati dia pergi mengantar makanan itu untuk suaminya.


Kini aka yang dia dapatkan? Sebuah kekecewaan yang di torehkan suaminya untuk dirinya. Sudah tidak dianggap istri dan sekarang hanya makanan namun tak di sentuh laki-laki itu sama sekali. Kejam, tak menghargai itu kata-kata yang pantas untuk Husein.


"Tah tahukah kamu, Mas jika makanan itu tidak baik di sia-siakan. Apalagi ini sudah tidak bisa lagi dimakan. Bahkan meski dipanaskan rasanya sudah tidak akan enak atau terkesan sudah basi. Kamu jahat Mas, kamu tidak menghargai aku. Apa segitunya kamu mencintai wanita itu hingga kamu tega membuat aku sakit hati serta kecewa?" Aida menghapus kasar air mata yang meleleh di pipinya sebelum membuang makanan itu ke tong sampah.


“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan,” (QS. Al Isro': 26-27).


TBC

__ADS_1


__ADS_2