SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 07


__ADS_3

"Saya akan tetap tidur di rumah kekasih saya besok. Kau tidak ada hak untuk melarang saya untuk tidur di mana yang saya inginkan. Itu hak saya!" Husein menatap istrinya tidak suka.


"Tidak ada hak? Bahkan aku punya hak atas kamu, Mas. Apapun yang ada pada diri kamu itu sudah menjadi hak aku begitupun sebaliknya. Jadi jangan katakan jika aku tak ada hak akan diri kamu."


"Susah ngomong sama kamu. Intinya saya besok akan tetap dengan keputusan saya."


"Astagfirullah Mas, ingat dosa. Ingat apa yang kamu lakukan itu sangat di benci Allah, Mas,"


"Diam kamu!!" Bentak Husein membuat Aida terkesiap.


Husein meninggalkan istrinya seorang diri. Laki-laki itu menghempaskan pintu kamarnya dengan kuat karena, kesal dengan ucapan istrinya. Suaminya seakan terbatas karena istrinya itu. Maka dari itu sebelum menikah dia mati-matian menolak, tapi apa yang bisa dilakukannya jika ke-dua orang-tuanya malah mengancam akan menarik semua fasilitasnya.


***


Pagi ini Aida sudah selesai melaksanakan sholat subuh. Sebelum itu, Aida sudah membangunkan suaminya itu kemarnya, namun laki-laki itu malah marah-marah kepada dirinya. Membuat Aida meninggalkan kamar suaminya sebelum waktu subuh habis.


Memasak sarapan pagi dengan nasi goreng dan telur otak-arik. Dengan penuh cinta gadus tu membuatkan sarapan pagi untuknya dan juga suaminya.


"Mas bangun! sekarang sudah pukul tujuh pagi." Aida berusaha membangunkan suaminya yang masih tampak terlelap.


"Apa sih?!" bentaknya tak suka.


"Ayo bangun Mas, kamu mandi dulu setelahnya kita batu sarapan." Aida masih berusaha membangun suaminya yang masih mengelung selimut ke tubuhnya.


"Kau mengganggu waktu tidur saya saja!!" bentaknya menyibak selimut dengan kasar.


'Astagfirullah. Ya Allah kuatkanlah hamba dalam menghadapi sikap suami hamba,' Do'a Aida dalam hati.

__ADS_1


Aida membereskan ranjang suaminya hingga rapi. Tak lupa memilihkan baju santai untuk suaminya itu. Karena saat ini Husein masih dalam Mas cuti menikah mereka. Selesai di kamar Husein, Aida kembali ke dapur. Menyelesaikan apa yang belum dia selesaikan tadi.


"Selamat sarapan pagi Mas," Aida memberikan sarapan pagi untuk suaminya.


Tak ada jawaban, masih sama seperti kemarin. Laki-laki itu akan tetap tutup mulut tanpa mau mengucapkan sepatah katapun. Aida yang sudah mengerti dengan sifat suaminya hanya mengurut dada saja. Berharap suatu saat suaminya itu mau berubah untuk dirinya.


***


"Mas, kamu mau kemana?" Aida menghampiri suaminya yang tampak tapi dengan kemeja maron yang lengannya di gulung ke atas.


"Bukankah saya sudah katakan kemarin? Saya malam ini akan menginap di rumah kekasih saya." Laki-laki itu melangkah meninggalkan istrinya.


"Aku tidak mengizinkan kamu, Mas. Aku tidak rela kamu mengali dosa dengan tinggal di rumah wanita yang bukan mahram kamu, Mas." Langkah Husein behenti saat mendengar ucapan istrinya.


"Saya tidak meminta izin kamu. Jadi tak usah melarang saya!" Langsung saja laki-laki itu membalikan tubuhnya.


Husein mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di kediaman kekasihnya. Kekasih yang sudah menemaninya selama 3 tahun ini. Kekasih yang sangat di cintai Husein.


"Hai, Sayang," Husein memeluk erat kekasihnya yang menunggu dirinya di teras rumah.


"Aku rindu Sayang," manja wanita itu yang tak lain adalah Sinta.


"Kamu nggak ngajakin aku masuk nih Sayang?" tanya Husein mendaratkan ciuman pada pipi kekasihnya.


"Ahh iya Sayang, aku sampai lupa," ujarnya membawa Husein masuk dengan tangan saling bertautan.


Sinta membawa Husein menuju ruang tamu. Disana sudah terdapat satu gelas jus jeruk yang biasa di minum kekasihnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa baru kesini Sayang? Kamu tahu aku sangat merindukan kamu," Sinta bergelayut manja di lengan kekasihnya dan menyandarkan kepala itu pada bahu kokoh Husein.


"Dua hari yang lalu aku sudah menjelaskannya Sayang. Apa kamu lupa?" Lagi-lagi Husein mendaratkan ciuman pada pipi mulus kekasihnya.


"Aku tidak akan mungkin lupa Sayang. Tapi aku cemburu," rajuknya sambil memanyunkan bibir merah merona itu.


"Cemburu kenapa Sayang? Bukankah sudah aku jelaskan jika aku tak mencintai gadis itu. Bahkan aku saja tidur terpisah dengannya. Kamu tahu sendiri jika aku hanya mencintai kamu saja. Cinta yang begitu dalam untukmu, Sayang," Rayu Husein dengan mengedipkan sebelah matanya.


Wanita itu langsung saja tersenyum cerah mendengar ucapan kekasihnya. Hatinya amat bahagia mendapatkan seorang kekasih seperti Husein. Sudah baik, royal penyayang lagi. Siapa yang tidak akan mau mendapatkan kekasih seperti Husein. Hanya orang bodoh yang menolak itu semua.


"Baiklah Sayang, aku percaya padamu," Sinta mencium lembut pipi kekasihnya.


Sedangkan di tempat lain, Aida mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya sunggub tidak tenang karena ulah suaminya. Suami yang dia hormati yang rela menginap di rumah wanita yang bukan mahramnya. Meninggal wanita yang halal baginya seorang diri di rumah besar itu. Tak ada yang menemani Aida disana. Sunyi itulah yang terjadi di ruang itu.


Aida memilih untuk mengambil wuduk, melaksanakan sholat isha'a yang belum dia kerjakan.


"Ya Allah, Engkau tempat hamba memohon. Tempat hamba meminta segala macam pertolongan. Engkau tempat hamba mencurahkan segala yang terjadi kepada hamba. Hamba mohon, bukakanlah pintu hati suami hamba. Tunjukkkan jika apa yang dia lakukan itu salah ya Allah. Hanya kepada Engkau hamba memohon dan meminta ya Allah," Aida menutup do'anya malam itu.


Selanjutnya gadis itu memilih untuk membaca beberapa ayat Al-Quran untuk menenangkan hatinya yang sedikit kacau karena ulah suaminya.


Mata cantik gadis itu tak kunjung tertutup. Menatap langit-langit kamar dengan membayangkan suaminya. Sedang apa dia sekarang? Sudah makan malam atau belum? Makan dengan apa suaminya itu tadi? Masih banyak lagi yang dibayangkan Aida tentang suaminya. Bahkan tak menutup kemungkinan Aida tak memikirkan hal negatif kepada suaminya. Apalagi suaminya itu berada di rumah wanita yang haram baginya.


"Astagfirullah, kamu tidak boleh berfikiran buruk sama suami sendiri Ai. Ingat kata Ummi," Aida mengusap kepalanya beberapa kali. Agar pikiran buruknya segera hilang.


'yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba'ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba'ḍukum ba'ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm *al-Hujurat/12*. (Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang).' itulah nasehat Asyah saat dirinya pernah berfikiran buruk kepada temannya waktu mm dirinya masih sekolah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2