
"Huek!!! Huek!!!!"
Aida yang kembali tidur setelah sholat subuh berjamaah bersama suaminya terbangun karena suara berisik dari dalam kamar mandi. Gegas wanita yang berstatus seorang istri itu menuju kamar mandi dimana Aida yakin itu saudara yang di hasilkan suaminya.
"Zaujan, kamu kenapa?" Aida memijit tengkuk suaminya yang menunduk di wastafel sambil memuntahkan isi didalam perutnya.
"Huek!!! Huek!!!" Kembali Husein memuntahkan isi perutnya yang sudah sangat kosong. Bahkan makanan yang semalam di makannya sudah keluar semua.
"Zaujah mendingan kita ke rumah sakit ya? Wajah kamu sudah sangat pucat Zaujan," Aida khawatir dengan kondisi suaminya yang sungguh tidak baik-baik saja. Wajah pucat serta bibir yang tak terlihat ada darah sedikitpun. Persis seperti mayat hidup.
"Tidak apa-apa Zaujati, mungkin Zaujan hanya masuk angin saja. Apalagi kemaren Zaujan juga agak malam mandinya," jawabnya dengan suara lemah.
"Tapi aku khawatir Zaujan akan semakin parah nantinya. Kita ke rumah sakit saja ya Zaujan?"
Husein menggelengkan kepalanya tak setuju dengan usulan Aida. "Tidak udah Zaujati, Zaujan baik-baik saja kok. Percaya sama Zaujan ya?" Kini Husein berjalan menuju ranjang di papah Aida dengan hati-hati. Tubuhnya terasa sangat lemah dan ingin beristirahat sesegera mungkin.
"Ya sudah Zaujati buatin teh hangat dulu ya Zaujan?" Aida meninggalkan suaminya setelah menyelimuti Husein untuk membuatkan teh panas untuk suaminya agar rasa mulanya berkurang.
Tak berselang lama Aida kembali masuk ke dalam kamar. Medekati ranjang yang mana suaminya tengah memejamkan matanya.
"Zaujah minum dulu yuk tehnya,"
"Terima kasih Zaujati," Dengan perlahan Husein bangun dan mengambil teh yang sudah di buatkan istrinya.
*****
Hari-hari berikutnya Husein masih saja mengalami muntah pada waktu tertentu. Bahkan selama itu pula Husein tidak datang ke kantornya. Bawaan yang di rasakan Husein juga ingin selalu berada di sisi istrinya. Bau tubuh istrinya membuat Husein sangat tenang.
"Zaujan kita ke rumah sakit saja ya? Sudah beberapa hari ini aku lihat Zaujan terus saja muntah-muntah. Biar kita tahu saat ini Zaujan sakit apa, takutnya malah semakin parah dan aku tidak mau itu terjadi Zaujan," bujuk Aida yang entah sudah yang keberapa kali semenjak beberapa hari lalu. Namun, suaminya terus saja menolak dan mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Zaujan baik-baik saja kok Zaujati, Zaujati tidak usah khawatir ya?" Lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Husein.
"Tapi--"
"Huek!! Huek!!" Ucapan Aida terpotong lantaran suaminya yang kembali menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Setelah ini kita akan pergi ke rumah sakit Zaujan, aku nggak mau Zaujan lagi-lagi harus menolak. Lihatlah baru saja aku mengatakan tapi Zaujan sudah kembali muntah." Aida mengurut tengkuk suaminya yang masih muntah-muntah.
Dengan paksaan yang dilakukan Aida akhirnya kini dia dan Husein sudah berada di rumah sakit.
"Apa yang anda rasakan Pak?" tanya dokter yang bernametag Filia Putri.
__ADS_1
"Beberapa hari ini setiap pagi saya mengalami mual, tapi dalam waktu tertentu juga menginginkan hal-hal yang aneh-aneh bahkan terkesan yang tak pernah saya makan Dok," jawab Husein jujur.
"Apa ada lagi keluhan yang lain Pak?"
"Eemmm, itu saja Dok. Oh ya, setiap saya berdekatan dengan istri saja, saya merasa sangat tenang bahkan rasanya nyaman sekali."
Dokter Filia tersenyum menatap kedua pasangan suami istri itu. "Apakah istrinya sudah di periksa Pak? Barang kali saat ini istri Bapak tengah hamil dan yang mengalami ngidamnya diri anda Pak?"
"Hamil?" Beo Aida dan Husein barengan.
Dokter Filia mengangguk. "Benar Pak, kapan terakhir ini Ibu datang bulan? Seperti yang di rasakan Bapak itu meruapakan gejala-gejala yang dialami ibu hamil, tapi tidak terlalu banyak dari sebagian pasangan yang mengalami ngidamnya adalah seorang suami,"
Aida berfikir kapan terakhir dia datang bulan, namun memang Aida sudah tak mengalami masa haidnya beberapa minggu ini. "Emm, rasanya sudah 1 bulan saya tidak datang bulan Dok, tapi saya juga agak ragu?" jawab Aida bingung.
Aida dan Husein hanya mengangguk patuh juga merasa sedikit bingung. Bahkan tak ada reaksi dari pasangan itu. Ada rasa tak percaya, tak mungkin intinya bercampur menjadi satu. Serasa nano-nano.
"Silahkan duduk Pak, Bu," ujar dokter muda kepada Husein dan Aida.
"Terima kasih Dok," ujar Aida.
"Ada keluhan apa Bu?" tanya dokter muda itu dengan tersenyum ramah.
"Saya tidak merasakan apa-apa Dok, tapi suami saya setiap pagi merasakan mual bahkan dalam waktu tertentu juga menginginkan hal-hal yang aneh."
__ADS_1
"Baiklah supaya lebih jelasnya Ibu silahkan untuk berbaring di sana dan kita akan melihat hasilnya." Aida mengikuti ucapan Dokter muda itu. Membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Maaf ya Bu bajunya saya angkat," Izinnya mendapat anggukan dari Aida.
Dokter yang bernama Siska itu mengoleskan gel pada perut Aida yang tampak masih rata. Menggerakkan benda yang dipegangnya pada permukaan perut Aida dan menatap pada layar monitor yang menerangkan apa yang ada di dalam rahim Aida.
"Bapak dan Ibu bisa melihat pada layar ini dan bagian kecil pada tengah gambar itu merubah sebuah janin yang mulai tumbuh. Yang artinya saat ini Ibu benar-benar tengah berbadan dua." ujar Dokter Siska yang membuat sepasang suami istri itu terharu bahagia.
"Alhamdulillah Zaujati, alhamdulillah do'a-do'a kita selama ini diijabah Allah SWT," Husein memeluk erat tubuh istrinya yang sudah memberikannya suatu kabar yang membuatnya berkali-kali bahagia.
"Iya alhmadulillah ya Allah, alhamdulillah Zaujan akhirnya kita akan menjadi orang-tua." Aida menangis haru dengan kabar yang saat ini dia dengar. Tak menyangka penantian selama ini akhirnya berbuah manis.
\*\*\*\*\*
Aida dan Husein kini sudah di perjalanan pulang ke rumah. Sebelum itu mereka sudah menebus obat untuk kandungan Aida.
"Zaujati apa ada yang mau dibeli? Atau ada yang diinginkan? Selagi kita masih di perjalanan pulang kita masih bisa membeli beberapa yang kamu butuhkan?" ujar Husein mengenggam erat tangan istrinya. Sesekali Husein juga mencium lembut tangan putih istrinya.
"Tidak ada Zaujan, aku hanya ingin cepat sampai di rumah dan tidur. Rasanya sangat mengantuk dan sedikit lelah," jawab Aida jujur. Beberapa kali juga Aida menguap dan mengusap matanya yang berair.
"Baiklah Zaujati,"
Sampai di rumah nyatanya Aida memang langsung membaringkan tubuhnya pada kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Sedangkan Husein memberitahukan kepada kedua orang-tuanya serta sang mertua jika saat ini istrinya sedang hamil cucu mereka. Cucu pertama di keluarga Husein maupun Aida.
__ADS_1
Tampak raut bahagia dari mereka semua mendengar kabar bahagia yang di berikan Husein. Dua tahun memang bukanlah waktu yang sebentar untuk mereka menantikan kehadiran seorang cucu di dalam keluarga mereka.
TBC