SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 35


__ADS_3

Sepeninggal Sinta, Husein memijit kepalanya yang terasa pusing. Rasa semangat yang tadi dia rasakan seakan hilang seketika. Pikirannya tengah kacau dengan kehadiran wanita yang beberapa hari laku sudah menjadi mantan kekasihnya. Wanita yang menorehkan luka terdalam di dalam hatinya. Husein meraup wajahnya dengan kasar, meraih jasnya yang terlampir di sandaran kursi kebesarannya.


("Ai, nggak usah bawa makan siang ke kantor, sekarang aku lagi jalan pulang. Aku makan di rumah saja!") Husein mengirim chat wassap kepada sang istri. Centang dua abu-abu tanda istrinya itu tengah online.


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Husein memasukkan gawainya ke dalam saku celana bahan yang dipakainya.


"Bapak mau kemana?" tanya Fiki yang kebetulan bertemu dengan Husein saat berada di depan lift.


"Saya mau pulang. Batalkan semua rapat yang ada hari ini."


"Tapi, Bapak ada rapat dengan klien penting siang nanti, " ucap Fiki memperingati bosnya.


"Undur besok," jawab Husein seenak jidatnya.


"Tidak bisa Pak, kemaren juga sudah di undur." Protes Fiki.


"Kalau begitu kamu saja yang menghadiri. Hari ini saya mau pulang!" Husein langsung saja masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan ucapan Fiki. Bahkan mulut laki-laki itu sudah beberapa kali mengumpat dirinya yang seenak jidat saja melakukan segala sesuatu dan malah melimpahkan kepada Fiki.


"Aaraggghhhh," Fiki menendang angin dengan sekuat tenaga. Dirinya sangat kesal dengan bosnya lantaran kembali melimpahkan pekerjaan kepadanya. Belum selesai tugas yang lain kini sudah datang tugas yang baru.




Sampai di rumah Husein langsung saja memasuki kediamannya. Mata tajam itu menangkap sang istri yang tak pernah bosan duduk di sofa ruang tamu dengan mulut komat kamit dan al-quran yang berada di pangkuannya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata Husein.



"Mas," Langkah kaki Husein membuat Aida membuka matanya. Aida meletakkan al-quran dipangkuannya ke atas meja lalu, mendekati suaminya untuk menyalami tangan kekar itu dengan lembut. "kenapa cepat pulang Mas? Katanya tadi mau di bawain makan siang ke kantor?" tambah Aida saat setalah menyalami tangan Husein dengan takzim.



"Nggak apa-apa Ai, aku hanya mau cepat pulang dan bertemu dengan istriku ini," Husein mengelus pipi mulus istrinya dengan ibu jarinya.



"Benaran Mas? Kamu nggak ada masalah kan di kantor?" Aida menatap wajah tegas suaminya yang juga tengah menatap dirinya.



Husein menampilkan senyum manisnya kepada Aida. Raut wajah Aida membuat Husein gemas. Dengan spontan tangan besar itu mencubit pipi chubby Aida yang tampak mengemaskan. "Iya aku jujur kok Ai, di kantor nggak ada masalah kok. Kamu nggak perlu khawatir ya?"



"Ya habisnya wajah kamu itu tampak kurang bersemangat tidak sama seperti tadi pagi Mas. Kalau memang kamu ada masalah kamu bisa cerita sama aku, Mas. Kita itu suami istri dan hendaklah kita saling berbagi keluh kesah. Jika bukan kepadaku kepada siapa lagi kamu akan ngomong Mas? Kepada Ayah, Bunda? Itu jelas bukan solusi yang bagus Mas, kecuali memang kita tidak bisa memecahkannya berdua baru kita bisa meminta solusi sama yang lain. Baik itu Ayah, Bunda, Abu dan Ummi," ujar Aida dengan lembut.


__ADS_1


"Iya Ai terima kasih ya. Kamu tenang saja aku memang tidak ada masalah kok di kantor. Jadi kamu tidak perlu risau," ucap Husein kepada istrinya.



"Baiklah Mas, kalau memang kamu tidak ada masalah alhamdulillah. Kamu mau apa Mas? Kopi, teh atau jus?"



"Teh aja Ai, aku memang sudah lumayan haus habisnya tadi saat di kantor aku nggak minum sama sekali." jujurnya.



"Baiklah Mas, aku ambilin dulu," Aida beranjak dari dekat suaminya menuju dapur untuk mengambilkan teh untuk suaminya itu.



"Makasih Ai," Husein menerima teh yang di berikan istrinya.



"Sama-sama Mas," Aida duduk tepat di samping suaminya.



Husein menyesap teh yang di berikan istrinya. Rasa yang tetap sama dengan tangan yang sama untuk membuatnya.




"Kenapa kamu ngomong gitu Mas?" tanya Aida bingung menatap suaminya. Tak biasanya Husein mau menanyakan itu kepada dirinya.



"Mas merasa nggak pantas saja untuk kamu, Ai. Kamu itu sudah baik, sabar, sholehah, nggak pernah berkata kasar sama aku, intinya semuanya yang terbaik ada sama diri kamu. Beda sama aku yang bahkan untuk mengajari kamu tentang agama saja aku nggak bisa." Husein menundukkan kepalanya. Dia sungguh malu jika mengingat kesalahan yang selama ini dia lakukan terhadap istrinya itu. "bahkan aku dengan kejamnya membawa wanita lain ke rumah ini. Memperlihatkan bagaimana bejatnya aku sama kamu, Ai," lanjutnya.



"Mas," Aida meraih tangan suaminya dan mengusapnya dengan lembut. "meskipun kamu pernah melakukan suatu kesalahan sebelumnya sama aku maka, tidak akan ada yang namanya pintu untuk berubah itu sudah di tutup untuk kamu, Mas. Bahkan jika kamu masih bernafas seperti sekarang kamu masih punya kesempatan untuk merubah diri kamu sendiri. Sejahat-jahatnya kamu di masa lu pasti kamu juga punya keinginan untuk berubah. Contohnya saja saat ini, kamu sudah mau berubah untuk pernikahan kita. Kamu sudah mau memperbaiki hubungan pernikahan kita layaknya pada umumnya. Ingat Mas, apapun yang di takdir kan Allah sama kamu itu sudah pasti yang terbaik Mas. Bahkan aku yang menjadi istri kamu pun sudah menjadi penentu jika aku memanglah wanita yang di tulisan-Nya di lauhul mahfudz," jelas Aida.



"Tapi aku tetap saja merasa tidak pantas untuk kamu, Ai. Bahkan ilmu agama yang aku miliki saja tidak sepantaran dengan kamu,"



"Mas, kenapa kamu harus berkecil hati jika mulai sekarang kamu masih punya kesempatan untuk belajar, belajar dan belajar. Kamu tidak perlu berkecil hati sperti itu Mas karena, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bisa saja ilmu agama kamu lebih banyak dibandingkan aku yang meski sudah sering belajar bukan? Karena kita sungguh tidak tahu bagaimana Allah memberikan kita takdir-Nya, Mas,"

__ADS_1



"Emmm, semoga saja Ai. Kamu do'ain Mas ya Ai biar Mas bisa membimbing kamu bukan kamu lagi yang membimbing Mas dalam perkara agama," ucap Husein yang diangguki Aida.



"Pasti Mas, aku pasti akan selalu mendo'akan kamu," balas Aida dengan tersenyum manis.



\*\*\*\*\*



"Ai tadi aku buka sosmed dan lihat-lihat panggilan yang bagus untuk suami-istri," ucap Husein kepada Aida yang duduk selonjoran di sampingnya. Menyenderkan kepalanya


pada dada bidang Husein atas permintaan laki-laki itu.



"Apa Mas?" tanya Aida mendongak.



"Emmm kalau aku manggil kamu Zaujati dan kamu manggil aku Zaujan, gimana Ai? Bagus nggak sih?" tanya Husein manatap lekat wajah cantik istrinya yang tanpa hijab itu. "Emm, atau kamu kamu, aku panggil Humaira seperti Nabi Muhammad memanggil Siti Aisyah, istrinya? Atau juga boleh kita manggilnya Mas-Adek?" lanjut Husein yang masih ragu akan semua pilihannya.



"Emm, kita manggilnya Zauji dan Zaujati saja Mas. Menurutku itu yang paling bagus,"



"Emmmm, baiklah. Sekarang aku manggilnya bukan lagi kamu-kamu atau Ai tapi aku akan manggilnya ya Zaujati," Senyum mengembang terbit di bibir Husein dengan mekarnya.



"Iya, Zaujan," jawab Aida dengan senyum manis.



"Baiklah, karena ini sudah malam alangkah baiknya kita tidur ya Zaujati dan jangan lupa baca do'a sebelum tidur ya Zaujati," ucal Husein menatap istrinya yang masih tetap dengan senyum manis di bibirnya. Sungguh kini hatinya tengah berbunga-bunga dengan panggilan baru mereka.



"Baiklah ya Zaujan," balas Aida.


__ADS_1


TBC


__ADS_2