SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 09


__ADS_3

"Mas, nanti malam kamu tidur di sini kan?" tanya Aida kepada suaminya. Berharap laki-laki itu mengiyakan ucapannya.


"Tidak!!" jawaban yang menbuat Aida menghela nafasnya kasar.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu malah memilih untuk tidur di rumah wanita itu di bandingkan tidur di rumah ini, Mas?"


"Karena saya lebih suka tidur dengan kekasih saya dari pada di sini."


"Astagfirullah Mas, kamu sadar nggak sih dengan apa yang kamu katakan?" Aida sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Sadar. Kalau saya tidak sadar tidak mungkin saya akan menjawab pertanyaan kamu."


"Tapi, tak bisakah kamu tidur di sini Mas? Bukankah tidak ada dosa jika kamu tidur di rumah ini Mas. Bukan malah tidur satu atap dengan yang bukan mahram kamu."


"Jangan ikut campur urusan saya. Mau dosa atau tidak itu bukan urusan kamu!"


"Astagfirullah Mas. Istigfar. Sadar dengan apa yang kamu katakan."


"Kau itu kenapa sih? Kanapa selalu ikut campur dengan urusan saya?!"


"Karena aku istri kamu Mas, kalau kamu lupa." Ingatnya.


"Istri? Ya benar kau memang istri saya. Tapi apa kau lupa jika kita sama-sama terpaksa menikah?" Husein memandang sinis istrinya.


"Aku tahu kita sama-sama terpaksa Mas tapi, tak kah kamu berfikir jika itu sudah takdir kita. Tak kah kamu berfikir jika kita itu memang ditakdirkan berjodoh."


"Tidak!! Pernikahan ini hanya sementara. Kita tidak akan hidup dalam satu atap untuk selamanya. Akan ada masanya saya akan mempersunting kekasihku, Sinta." tekan Husein yang memang yakin jika jodohnya adalah Sinta, sang kekasih.


Aida menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan apa yang di ucapkan suaminya. Tak tahukan suaminya itu jika jodohnya kini tengah berada di depannya dan tengah berbicara dengan dirinya. Jodoh apalagi yang di maksud suaminya itu, jika dirinya saja sudah di persunting laki-laki itu.


"Ada saatnya kita harus menerima sesuatu yang sudah Allah takdirkan untuk kita, Mas. Karena, setiap takdir itu pasti ada hikmah yang tersirat di dalamnya dan itu harus kita syukuri," Aida menatap manik mata suaminya yang menatap dirinya tajam. "Dan tak ada namanya pernikahan sementara Mas. Kamu tahu bukan jika perceraian itu sangat di benci sama Allah? Dan apa kamu tahu jika setan akan berpesta ria akan kegagalan pernikahan yang kamu jalani Mas," tambah Aida dengan suara lembut.


"Tahu apa kau tentang takdir heh?! Kita itu bukan ditakdirkan untuk bersama. Hanya saja sekarang saya sedang tersesat dengan kamu. Anggap saja seperti itu!"


"Astaghfirullah Mas, kamu itu ngomong apa? Kalau kita tidak di takdirkan, maka kita tidak akan menikah Mas, kita tidak akan pernah bertemu sekali pun Mas," Sungguh kata-kata Husein membuat Aida tak percaya. Dari mana suaminya itu belajar tentang itu semua. "Dan juga tidak akan ada kata tersesat dalam sebuah pernikahan Mas, jika kamu tak di takdirkan menjadi suamiku maka sekarang kita bukanlah suami-istri, Mas,"

__ADS_1


"Ahhh, ternyata susah kalau ngomong sama kamu. Yang ada membuat saya sakit kepala dan mulut saya bisa berbusa jika meladeni kamu terus," Husein sangat kesal dengan istrinya itu.


"Astagfirullah Mas, ka--"


"DIAM!! KAU TERLALU BANYAK BICARA. BIKIN SAYA PUSING!!" bentak Husein. Laki-laki langsung saja meninggalkan istrinya yang terkejut karena ucapannya.


"Astagfirullah Mas, semoga saja suatu saat kamu mau membuka hati kamu untukku. Semoga suatu saat hati batu kamu itu akan mencari seiring waktu Mas. Aku tahu kita tidak saling mencintai, tapi aku akan berusaha membuka hati ini untuk kamu Mas. Begitupun dengan kamu." Aida menatap punggung suaminya yang sudah beranjak menuju kamarnya.


***


Husein tengah mengusap rambutnya dengan handuk kecil. Sedangkan tubuhnya masih di balut handuk, karena laki-laki itu belum memakai bajunya. Setiap selesai mandi, laki-laki itu tak akan langsung memakai baju di dalam kamar mandi, melainkan di luasr alias kamarnya.


Dirasa rambutnya sudah agak kering, Husein menghampiri lemarinya untuk mengambil baju yang akan dia pakai.


("Halo Sayang,") sapa seseorang di sebrang sana. Siapa lagi kalau bukan Sinta kekasihnya.


("Iya Sayang,")


("Kamu lagi apa sekarang Sayang? Nanti malam kamu jadi kan tidur di rumahku lagi?") Gadis itu memastikan jika kekasihnya akan menepati janjinya.


("Jadi kok Sayang, tapi aku nanti datangnya habis maghrib,")


("Tidak bisa Sayang. Lagian sebentar lagi sudah mau mahgrib. Nggak baik kalau jalan pas magrib, jadi nanti saja ya Sayang. Aku janji pasti akan datang kok Sayang,")


("Baiklah Sayang,")


Telepon itu dimatikan Husein setelah sedikit berbicara dengan kekasihnya. Senyum manis terbit di wajah laki-laki itu. Rasanya sangat senang saat di hubungi kekasihnya seperti itu. Apalagi suaranya terdengar khawatir, membuat Husein semakin bahagia. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menghinggapi relung hatinya.



Aida mengambilkan makan malam untuk suaminya. Tadinya Aida mengira jika suaminya akan berangkat ke rumah kekasihnya setelah sholat asar seperti kemaren.



"Selamat makan malam Mas," ujar Aida dengan senyum manis di bibirnya.

__ADS_1



Meski tak ada respon dari suaminya, Aida tak mempermasalahkan itu. Karena begitulah sifat suaminya. Terlalu dingin memang.



"Kamu mau pergi sekarang Mas? Padahal kamu baru selesai makan loh Mas," Aida menatap suaminya yang langsung berdiri dari duduknya. Padahal laki-laki itu baru saja melap bibirnya setelah mencuci tangan hingga bersih.



"Mas," Husein tak menghiraukan ucapan istrinya membuat Aida kembali memanggil nama suaminya itu.



"Berisik!!" bentak Husein yang langsung saja menuju garasi.



Aida menatap suaminya yang sudah menjalani kendaraannya. Lagi-lagi dirinya ditinggal dirumah seorang diri. Tak bisalah suaminya itu menginap di rumah mereka.



Aida menghela nafasnya dengan kasar. Percuma rasanya dia koar-koar jika suaminya tak mengindahkan ucapannya. Harapan Aida hanya satu, semoga saja suaminya itu cepat sadar dari dosa yang kini tengah dia pupuk.



Husein dan Sinta tengah menonton film romantis di ruang tamu. Mata sepasang kekasih itu sangat menikmati film yang tengah tayang. Bahkan sesekali mereka mengikuti adegan yang tengah tayang. Mencium bibir dan saling memberikan kenikmatan pada benda kenyal itu. Selama mereka berpacaran tak pernah sekalipun Husein melampaui batasan meski dirinya sangat ingin. Bagkan sejauh itu mereka hanya berani berciuman tak lebih dari itu.


Husain tak mau melakukan itu ketika hubungannya belum halal. Dia tak mau di usir bahkan di benci kedua orang tuanya karena melakukan itu di luar pernikahan. Apalagi jika gadis itu sampai hamil karena dirinya. Bukan hanya di usir, bahkan dirinya akan mendapat amukan Ayahnya. Sama saja halnya dengan tersayat luka di tambah dengan perasan jeruk. Amat sakit.


"Sayang," Sinta menatap wajah kekasihnya dengan sayu.


"Apa Sayang?" balas Husein yang juga tengah menatap dirinya.


"Kamu nggak ingin lebih dari sekedar ciuman saja, apa?"

__ADS_1


Husein menggeleng. "Nggak Sayang, aku tidak akan pernah ngerusak harta beharga kamu sebelum kita menikah. Cukup sekedar ciuman saja. Meski aku ingin tapi, aku akan menahannya sampai kita halal," Husein kembali mengecup lembut pipi kekasihnya. Menampilkan senyum manis kepada wanita yang sangat di cintanya itu.


TBC


__ADS_2