SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 45


__ADS_3

Husein menemani sang istri di dalam ruang persalinan. Dari salam istrinya itu sudah merasakan sakit pada bagian pinggangnya tapi dengan durasi yang sangat lama. Tapi, tadi pagi rasa sakitnya semakin menjadi dalam durasi singkat, makanya Husein bergegas menuju rumah sakit karena, takut terjadi sesuatu pada sang istri. Tidak hanya Husein, tapi juga mertua serta ke-dua orang-tuanya.


"Zaujah sakit banget," lirih Aida kala merasakan pinggangnya yang nyeri.


"Sabar Zaujati, Zaujan yakin bayi kita sebentar lagi akan lahir. Tadi dokter sudah mengatakan sudah bukaan 8 yang artinya 2 pembukaan lagi maka dia akan lahir," Husein mengusap peluh yang membanjiri dahi istrinya. Jika saja bisa berbagi, ingin sekali Husein merasakan apa yang dirasakan sang istri. Jujur saja rasanya Husein tak sanggup melihat istrinya yang tiap sebentar meringis menahan rasa sakit.


"Emmm arrggghhh!!" Aida menahan ejanan yang akan dia lakukan. Karena saran dokter Aida memang belum boleh untuk mengejan takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Air mata Husein mengalir kala melihat betapa perjuangan Aida untuk melahirkan buah hatinya. Berapa lama lagi Aida akan merasakan sakit ini? Sungguh Husein sudah tak sanggup melihat keadaan istrinya yang berjuang demi buah hati mereka. Peluh semakin membanjiri wajah Aida kala rasa sakit itu kembali.


"Zaujati, Zaujan yakin Zaujati pasti kuat. Kuat demi Zaujan dan juga buah hati kita." Lagi-lagi Husein memberi semangat serta mengusap keringat di dahi istrinya yang sebesar biji jagung.


Aida mengangguk. "Itu pasti Zaujan, aku pasti akan melakukan apapun yang terbaik buat bayi kita. Aku pasti kuat demi dia Zaujan," Dengan suara lemah Aida menjawab ucapan suaminya. Tak mungkin Aida akan menyerah dengan melahirkan secara caesar. Aida tak mau perjuangannya selama ini berakhir di meja dingin operasi. Normal adalah pilihan Aida untuk melahirkan buah hatinya bersama Husein. Aida ingin memiliki banyak anak, apapun akan dilakukan Aida hanya demi anaknya yang lahir normal.


"Pembukaannya sudah 10 ya Bu. Kini ibu sudah bisa mengejan sesuai instruksi saya," ujar Dokter setelah melihat jalan lahir bayi Aida.


"Baik Dok," jawab Aida mengangguk patuh.


"Saatnya Ibu mulai mengejan ya Bu," perimtah Dokter.


"Aaaaraggghhhhttttttt!!!" Aida mengejan sekuat tenaga agar bayi mungilnya cepat keluar dan bertemu dengan dirinya.


Namun usahanya gagal, Bayu itu tak keluar hanya menampakkan sedikit kepalanya aja.


"Ayo sayang semangat," Husein mengenggam tangan istrinya memberikan kekuatan pada ibu dari anaknya.

__ADS_1


"Aararggghhtt!!!"


"Oek oek oek..."


"Alhamdulillah Zaujati, bayi kita sudah lahir," Husein tampak bahagia kala mendengar suara tangis bayinya yang memenuhi ruangan persalinan.


"Iya Zaujan, alhamdulillah," jawab Aida lemah. Tenanganya terkuras banyak, bahkan seluruh tubuhnya yang serasa di patahkan kini sudah terbayar sudah kala anaknya lahir dengan cepat.


"Sstttt!!!" Aida kembali mendesis kala merasakan sakit pada perutnya.


"Zaujati kamu kenapa?" tanya Husein cemas. "Dokter istrinya saya kenapa?" Kini Husein menatap pada dokter yang berada di sana.


"Wahhh, masih ada bayinya Pak."


"Bayi?" tanya Husein terkejut. Padahal perut Aida tidak besar seperti hamil kembar tapi kenapa malah ada 2 bayi di dalam perut sang istri. Ahh, rasanya Husein sangat bahagia mendengar ucapan sang dokter.


Bahkan Aida tak menyangka Allah mengambulkan do'anya yang menginginkan kelahiran bayi kembar. Kembali Aida bersemangat demi bayi keduanya, meski rasanya sangat lelah, namun Aida harus tetap semangat untuk melahirkan bayinya dengan selamat.


"Aarggghhhtttt!!!" kembali Aida mengejan sekuat tenaga. Tidak seperti bayinya yang pertama yang terasa sangat sakit. Bayi keduanya lahir dengan lancar tanpa merasakan sakit seperti anak pertamanya.


"Oek oek oek...,"


"Alhamdulillah Zaujati, bayi kedua kita akhirnya lahir juga," Husein beberapa kali mendaratkan ciuman pada dahi sang istri.


Tak dapat Husein rangkai dengan kata-kata bertapa bahagianya dirinya saat ini. Mendapatkan dua bayi dalam hari yang bersamaan. Tangisan bahagia keluar dari mata Husein, tak menyangka jika kini statusnya sudah berubah menjadi seorang ayah begitupun dengan Aida.

__ADS_1


"Selamat Pak, Bu bayi pertamanya perempuan dan yang kedua laki-laki," Dua orang suster memberikan bayi merah itu kepada Aida dan Husein untuk segera diazankan.


Tangan Husein bergetar dan menghangat dengan mata memanas kala menatap bayi perempuan ditangannya. Bayi merah yang setia memejamkan matanya dengan rapat.


Husein mengazani bayi perempuannya dan setelah itu baru beralih kepada bayi laki-laki yang tadi berada di atas dada Aida.


"Terima kasih Zaujati, terima kasih sudah memberikan Zaujan 2 orang malaikat untuk pelengkap rumah tangga kita. Terima kasih untuk semua yang telah Zaujati berikan kepada Zaujan," Tanpa bisa di cegah, air mata Husein mengalir. Bukan air mata sedih melainkan air mata bahagia. Bahagia atas karunia yang di berikan Allah kepada keluarga kecilnya.


"Maafkan kesalahan Zaujan yang dulu sempat menyakiti fisik bahkan batin Zaujati. Maafkan kesalahan yang pernah Zaujan lakukan Zaujati. Zaujan janji tidak akan pernah menyakiti Zaujati sampai kapanpun. Zaujan janji akan membuat Zaujati bahagia begitupun untuk anak-anak kita nanti,"


Aida menghapus air mata yang mengalir di pipi suaminya. "Aku sudah memaafkan setiap kesalahan yang pernah Zaujan lakukan dulu. Tak perlu lagi Zaujan mengingat masalalu itu, cukup sekarang keluarga kecil kita yang Zaujan ingat. Yang berlalu biarlah berlalu, yang penting masa depan kita dan juga anak-anak kita untuk sekarang,"


"Terima kasih Zaujati, terima kasih sudah mau memaafkan laki-laki yang dulunya sangat bodoh dalam memilih mana yang emas dan perak,"


"Zaujan nggak usah ngomong gitu, karena apapun yang terjadi dulu itu sudah takdir yang harus kita lalui. Allah sudah menyusum sedemikian rupa skenario setiap hamba-Nya. Jadi, Zaujan harus bisa ikhlas dan menerima masa lalu Zaujan agar tidak membuat hati Zaujan sakit dan pikiran yang terus gelisah,"


Husein menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Aida. Buat apalagi diriya mengingat masa lalu yang jelas tidak akan bisa dia rubah seperti semula. Yang sekarang Husein harus bisa untuk merubah dirinya menjadi lebih baik dari masa lalu. Kehidupan keluarga kecilnya saat ini yang paling utama dari yang lainnya.


Kini Husein menatap bayi laki-laki di tangannya. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh putranya Baba. Nak, nama kamu Abidzar Al-Ghifari. Nama yang dipilihkam Umma untuk kamu, Nak," Husein mengusap lembut pipi merah sang putra. "Dan Baba sama Umma akan memanggil kamu dengan sebutan Abidzar," lanjut Husain.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh putri cantiknya Umma. Akhirnya kita berjumpa juga Nak setelah 9 bulan. Alesha Humaira Zaida, itu nama yang diberikan Baba untuk kamu, Sayang. Bagus bukan? Ales atau Lesha itu adalah panggilan untuk kamu, Nak Semoga saja kamu maupun Adek akan bersifat dan bertingkah laku layaknya arti dari nama kalian masing-masing Nak,"


"Aamiin,"


TAMAT

__ADS_1


assalamu'alaikum semuanya kisah Aida dan Husein sudah iya. jangan lupa kepoin cerita author yang lainnya dan yang pasti juga tak kalah serunya loh.


see you😘


__ADS_2