
Husein menarik koper milik Aida menuju kamar di lantai dua. Kamar yang tampak sangat luas. Disana terdapat satu kemari besar serta satu buah sofa dan meja kecil di depannya. Cukup untuk diduduki dua orang.
"Apa kita akan tidur di kamar ini Mas?" Aida menatap suaminya yang kini tengah meletakkan koper milik dirinya samping ranjang.
"Tidak, kau tidur di kamar ini dan saya akan tidur di kamar sebelah." Husein tak mengalihkan penglihatannya kepada Aida. Laki-laki itu membuka jendela kamar yang langsung memperlihatkan kolam renang yang terdapat dibelakang rumahnya.
Aida terkejut mendengar ucapan suaminya. Apalah dirinya yang salah dengar atau memang apa yang dikatakan suaminya itu nyata. "Apa kita pisah kamar Mas?"
"Iya." Singkat dan padat, itulah jawaban yang diberikan Husein untuk istrinya.
"Kenapa kita tidak tidur satu kamar Mas? Bukankah kita ini suami istri? Yang mana kita tidak boleh tidur pisah kamar. Apalagi pernikahan kita baru berjalan dua hari?" Aida mendekati suaminya yang tak bergeming.
"Kau tahu bukan, jika pernikahan kita itu bukan dilandaskan dengan cinta? Kita menikah hanya karena sebuah perjodohan konyol yang dilakukan antara orang-tuaku dan orang-tuamu," Husein mengalihkan penglihatan kepada sang istri yang kini berada dua langkah darinya.
"Astagfirullah Mas. Meskipun pernikahan kita karena perjodohan bukan berarti hubungan suci ini dianggap mainan."
"Saya tahu jika pernikahan ini suci. Bahkan saya sangat tahu jika kau menikah dengan saya pun karena terpaksa bukan? Sama halnya dengan saya yang juga terpaksa menikah dengan kamu,"
"Tapi kita tidak harus berpisah kamar seperti ini Mas. Kita masih bisa berbagi tanjang,"
"No! Saya tidak bisa tidur dengan orang asing seperti kamu. Apalagi kita tidak saling mengenal dan bertemu pun baru beberapa kali saja." tolak Laki-laki itu yang masih setia dengan pendiriannya.
'Ya Allah apakah harus seperti ini pernikahan yang harus hamba jalani? Baru dua hari hamba menikah tapi, sudah seperti ini. Bagaimana kedepannya ya Allah.' monolog Aida dalam hatinya. 'Astagfirullahalazim kamu tidak boleh souzon sama Allah Aida," lanjut Aida menyadari kesalahannya.
"Astagfirullah Mas, Aku bukan orang asing tapi, aku istri kamu, Mas. Istri yang satu hari yang lalu kamu ikat dengan ucapan janji suci pernikahan." Mata Aida tampak berkaca-kaca mendengar ucapan suaminya. Meskipun belum ada rasa cinta untuk laki-laki itu, hatinya tetaplah sakit. Apalagi laki-laki itu seseorang yang harus dia hormati dan patuhi.
"Maafkan saya, saya belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu. Hati saya masih terikat dengan perempuan yang sangat saya cintai. Jadi tolong hargai keputusan saya." Husein menatap gadis yang berada di depannya. Gadis yang tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maka dari itu jadilah suami yang baik dari sekarang Mas. Bukan malah mengulur waktu. Bukankah semakin cepat kamu berusaha, maka kamu akan mendapatkan bahagia dari sebuah ikatan suci ini Mas. Bukan malah mengali lobang dalam ikatan yang haram." Jatuh sudah air mata gadis itu. Sungguh hatinya teramat sakit mendengar ucapan suaminya. Suami yang harus dia hormati dan rubah sifatnya.
Husein menggeleng. "Maafkan saya. Sungguh saya sangat mencintai gadis itu dan saya tidak bisa melepaskannya hanya demi kamu,"
"Kenapa tidak bisa Mas? Bukankah aku halal bagimu? Bukankah aku pantas untuk kamu cintai. Cinta halal yang didalamnya begitu banyak pahala?" Aida menatap wajah tampan suaminya dengan mata yang berair.
Lagi-lagi Husein menggeleng. "Maafkan saya. Tempatmu belum ada sedikitpun di dalam hati saya." Setelah mengatakan itu, Husein langsung meninggalkan kamar istrinya.
Aida menatap nanar punggung Husein yang menjauh dari kamarnya. Air mata gadis itu mengucur deras dari pelupuk mata indah itu. Aida beralih menuju ranjang besar yang terdapat di dalam kamar itu. Mendudukkan tubuhnya di atas ranjang nan empuk tersebut.
"Ya Allah kenapa begitu sakit? Apakah aku bisa mengajaknya menuju jalanmu ya Allah. Terasa sangat sulit dengan dia yang mengatakan sangat mencintai wanita lain. Tanpa mau berjuang dengan cinta halal yang engkau suguhkan kepadanya ya Allah," Aida meremat dadanya yang terasa sakit.
Meskipun tidak ada cinta di hatinya untuk Husein. Namun, Aida sudah bertekat di dalam dirinya untuk mencintai laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Laki-laki yang kini yang membawa surga bagi dirinya. Jika dulu surganya masih di telapak kaki sang ibu, tapi sekarang surga itu sudah berada pada suaminya. Suami yang harus dia hormati dan dia patuhi setiap ucapannya. Jika itu masih dalam tatanan yang benar.
***
Tok... Tok... Tok... "Mas kita makan dulu yuk, aku sudah siap membuatkan sarapan malam untuk kita berdua," Aida mengetuk pintu kamar suaminya yang tampak tertutup rapat.
Ceklek...
"Iya." Husein langsung meninggalkan istrinya di depan pintu kamarnya. Bahkan laki-laki itu tak mengajak istrinya berjalan beriringan dengan dirinya.
Lagi-lagi Aida harus mengurut dadanya dengan mengucapkan istighfar berulang kali. Mengikuti langkah suaminya dari belakang laki-laki itu.
"Mas biar aku ambilkan Mas, kamu cukup diam saja," Aida meraih piring yang diambil suaminya.
"Tidak usah, saya bisa ngambil sendiri." jawabnya.
__ADS_1
"Aku mohon Mas, setidaknya biarkan aku melayani kamu seperti seorang istri pada umumnya. Aku tak apa jika kamu tidak mau tidur satu kamar denganku tapi biarkan aku melakukan tugasku," pinta Aida dengan lembut kepada suaminya.
Husein membiarkan Aida mengambilkan nasi untuk dirinya. Husein ingin tetap menolak namun, dirinya tak tega melihat wajah sendu gadis itu. Gadis cantik yang kini sudah menjadi istrinya.
"Selamat makan malam, Mas," Aida meletakkan piring suaminya di depan laki-laki itu.
Husein tak mengubris ucapan istrinya. Laki-laki itu langsung saja memakan makan malamnya dengan tenang. Bahkan tak ada suara yang dikeluarkan untuk istrinya.
Aida, gadis itu juga langsung mengambil makan malam untuk dirinya. Aida sudah paham dengan suaminya yang tak akan menjawab ucapannya. Laki-laki itu sangat dingin akan dirinya. Sangat irit untuk membalas ucapannya.
"Besok saya tidak akan pulang ke rumah." ucap Husein saat mereka sudah selesi makan malam.
Aida menatap bingung suaminya. "Kenapa Mas? Bukankah kamu masih dalam masa cuti pernikahan?"
"Iya, tapi besok saya akan mengginap di rumah kekasih saya," ujar Husein tanpa memikirkan bagaimana perasaan istrinya.
"Astagfirullah Mas, dia belum halal bagimu Mas. Kenapa kamu harus tidur di rumah wanita yang tak memiliki hubungan dengan diri kamu Mas. Sama saja kamu dengan berzina." Mata gadis itu kembali berkaca-kaca seperti tadi siang. Baru dua hari, namun suaminya sudah hendak meninggalkan dirinya seorang diri. Apalagi di rumah ini belum ada art maupun penjaganya.
Husein langsung menatap istrinya itu, saat gadis itu mengatakan kata zina. "Saya bukan berzina!" jawabnya dengan tegas.
"Lalu apa Mas? Bahkan gadis itu belum halal bagi kamu, Mas? Apa kamu lupa dengan ayat Allah surah Al-Israa ayat 32?" Aida menatap balik laki-laki yang kini juga menatapnya dengan marah. "wa lā taqrabuz-zinā innahụ kāna fāḥisyah, wa sā`a sabīlā. Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."
"Intinya saja tidak berzina seperti kamu ucapkan." Husein menatap nyalang istrinya. Sungguh dia marah mendengar kata-kata yang di keluarkan istrinya itu.
"Tidak berzina? Lalu apa namanya Mas? Seorang laki-laki yang belum halal bagi seorang wanita, namun sudah tidur dalam satu atap? Apakah tak akan ada tatapan damba atara dirimu dan dirinya Mas? Apakah tak adakah sentuhan tangan yang kamu berikan kepadanya Mas? Itu sudah sama dengan zina Mas. Zina tidak hanya dengan melakukan hubungan suami-istri, Mas. Kamu melihatnya saja sudah zina mata, kamu memikirkan dirinya sudah zina fikiran lalu, kamu memegang tangannya juga sudah dimakan zina tangan Mas. Lalu bagian mana yang kamu anggap tidak zina Mas?" Aida menatap suaminya itu dengan intens.
Husein terdiam mendengar ucapan istrinya. Laki-laki itu menatap Aida dengan tatapan yang masih sama, tajam.
__ADS_1
TBC