SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
IMM 21


__ADS_3

Aida membantu Aisyah memasak untuk makan malam mereka. Sesuai kesepakatan antara Husein dan Aida, mereka memutuskan menginap di rumah itu selama dua hari. Untung saja Husein memiliki masa cuti selama satu minggu namun, Husein hanya memberi Aida waktu bersama orang-tuanya hanya dua hari saja. Sedangkan hari selebihnya dia akan memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan Sinta, kekasihnya. Jujur saja Aida cukup kecewa dengan keputusan yang di buat Husein. Padahal dirinya istri Husein yang otomatis harus di utamakan dari pada orang lain.


Tak apa, Aida bersyukur karena Husein mau memberinya waktu bersama orang-tuanya selama dua hari. Waktu yang sangat berharga bagi Aida. Rasa rindu yang sangat menggebu lantaran sudah sangat lama tidak bertatap muka.


"Bagaiamana hubungan kamu dengan Husein, Ai?" Aisyah menatap putrinya yang tengah memotong bawang merah.


"Alhmadulillah baik Ummi," jawab Aida memaksakan senyum tipis di bibirnya. Rasanya tak sanggup membohongi wanita yang sudah melahirkan dirinya itu, namun Aida tidak punya pilihan lain. Ini semua hanya semata-mata untuk menjaga kehormatan suaminya.


"Alhamdulillah Ai, Ummi hanya berharap kamu bahagia di dalam pernikahan kamu. Ummi tidak mau kamu merasakan kesedihan di dalam rumah tangga yang kamu jalani Nak," Aisyah itu tersenyum membalas ucapan putrinya.


Jika putrinya bahagia Aisyah pasti akan ikut bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Aisyah jika putrinya lancar dalam hubungan rumah tangga.


"Husein memperlakukan kamu dengan baik kan Ai? Dia tidak penah sedikitpun nyakitin kamu kan Nak?"


"Alhamdulillah Mas Husein baik Ummi, bahkan Mas Husein sangat perhatian sama aku. Ummi tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Rumah tangga aku juga sangat baik kok Ummi," Lagi-lagi Aida melontarkan kebohongan untuk menutupi kesalahan suaminya. Ingin rasakan Aida jujur, namun dia ingat lagi dengan ajaran yang di tanamkan Aisyah maupun Hasan. Aib suami adalah aib istri juga, jadi apapun masalah yang terjadi jangan pernah sampai yang lain tahu. Cukup kedua belah pihak yang bersangkutan mengetahui hak tersebut.

__ADS_1


"Alhamdulillah jika Husein memperlakukan kamu sebagi ratu di rumah tangga kamu, Nak. Ummi hanya cemas jika kamu tidak diperlakukan dengan baik lantaran kalian di jodohkan. Apalagis watang banyak pasangan yang di jodohkan tapi istrinya di telantarkan karena memilih wanita pujaan hatinya. Ummi hanya takut itu juga terjadi sama kamu, Nak,"


Aida menghentikan gerakan tangannya yang tengah memotong bawang. Ucapan Umminya sangat benar. Dirinya di telantarkan suaminya sendiri. Dirinya tidak pernah dianggap istri oleh suaminya. Dirinya hanya sebuah panjangan yang diletakkan di rumah tanpa di sentuh sedikitpun. Rasanya Aida ingin menjerit dan mengatakan apa yang tengah terjadi di rumah tangganya. Rumah tangga yang tidak bisa di katakan baik-baik saja, rumah tangga yang bak di ambang kehancuran. Kadang ada keinginan untuk berpisah yang terbesit di dalam diri Aida atas perlakuan suaminya.


Setengah tahun menikah namun tak sekalipun dirinya disentuh suaminya. Bahkan untuk sekedar menyapa saja suaminya tidak pernah. Memulai pembicaraan pun Aida yang lebih dulu jika tidak suaminya itu akan tetap diam bak patung.


"Ai kok malah berhenti? Apa yang sedang kamu pikirkan Nak?" Aisyah menghampiri putrinya. Memegang bahu kecil itu dengan telapak tangannya yang lembut.


"Ahhh tidak apa-apa Ummi, aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan kucing yang berada di rumah," jawab Aida berkilah.


"Kirain Ummi kamu memikirkan ucapan Ummi, Ai."


"Tidak apa-apa Nak, gih lanjutin motong bawangnya,"


****

__ADS_1


Husein dan Hasan tengah duduk di taman belakang. Dengan di temani secangkir teh panas. Pembahasan mereka tak luput dari yang namanya bisnis. Bahkan Husein tampak antusias mendengar penjelasan ayah mertuanya itu untuk memenangkan suatu proyek. Tapi jangan pernah dengan cara yang tidak di bolehkah atau uang yang didapat malah uang yang tak halal karena melakukan kecurangan.


"Sekarang bagaimana hubungan kamu dengan Aida, Sein? Baik-baik saja bukan?" Husein terdiam mendengar ucapan ayah mertuanya. Lidahnya terasa kelu karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Gimana Sein? Baik-baik saja bukan?" Ulang hasan saat melihat menantunya yang hanya terdiam dengan mulut bungkam.


"Emm, iya Abi hubungan kami baik-baik saja kok," Husein menampilkan senyum canggung kepada Ayah mertuanya. Tak mungin jika dirinya akan jujur bagaimana perlakuannya kepada Aida. Tak mungkin Husein mengatakan jika Aida hanya patung bagi dirinya. Yang ada nanti malah panjang masalahnya belum lagi jika sampai kepada orang-tuanya. Bisa-bisa dirinya akan dikeluarkan dari harus warisan dan juga satu kantor. Untuk membayangkan hidup jadi gelandangan saja Husein tidak pernah mau. Apalagi jika itu jadi kenyataan, bisa-bisa Husein mati di tengah jalan karena kelaparan.


"Alhamdulillah Sein, Abi senang mendengar ucapan kamu. Abi tidak akan pernah mau jika saja putri Abi di sakiti sama orang lain, bahkan itu suaminya sendiri. Abi tidak rela jika seseorang melukai hati putri yang dengan susah payah Abi besarkan dengan penuh kasih sayang dan cinta. Abi tidak akan pernah rela jika air mata turun begitu saja karena sebuah kesalahan yang kamu lakukan kepada Aida, Sein. Abi tidak akan pernah reka jika itu memang terjadi. Aida itu ibaratkan bungan bagi ummi dan Abi. Bahkan Abi dan Ummi sangat menjaga Aida sedari kecil. Aida merupakan kebahagiaan terbesar dalam rumah tangga Abi dan Ummi. Aida anugerah terbesar yang Allah titipkan setelah 5 tahun pernikahan Ummi dan Abi. Aida simbol kebahagiaan yang Abi rasakan. Aida gadis kecil yang sangat Abi dan Ummi sayangi," ungkap Hasan membuat Husein hanya terdiam.


Pikiran Husein malah berkelana, bagaimana jika Hasan tahu perlakuan dirinya kepada Aida. Akankah ada kata maaf untuk dirinya? Apakah Hasan akan membawa Aida jauh dari sisinya?


"Abi tidak mau jika kamu menyakiti putri Abi, jika memang suatu saat kamu tidak menginginkan dirinya lagu Abi berharap kamu mengembalikan Aida kepada Abi dengan cara yang baik-baik sama seperti Abi memberikan dirinya dengan baik-baik pula Sein." Ntah kenapa kata-kata itu keluar begitu mulus dari mulut Hasan. Seakan apa yang dia katakan itu suatu kebenaran yang terjadi di dalam rumah tangga sang putri meski sebenarnya dia juga tidak tahu.


"Hmm, Abi jangan khawatir pernikahan aku dengan Aida berjalan lancar. Selama menikah rumah tangga kami juga baik-baik saja Bi. Aku tidak akan mungkin berani melukai Aida, Bi apalagi mendengar dia putri kesayangan Abi," Bohong!!! Husein mengatakan kebohongan untuk menjaga dirinya sendiri. Husein tidak akan mungkin menceritakan perilaku dirinya yang tak layak di sebut seorang suami.

__ADS_1


Meski sudah menikah selama setengah tahun tidak membuat Husein jatuh cinta kepada istrinya itu. Tapi rasanya masih tetap seperti awal. Asing. Wanita itu masih begitu asing untuk dirinya. Meski tinggal di atap yang sama tak membuat Husein melirik sang istri. Apalagi matanya terkadang malas menatap istrinya, lantaran pakaiannya yang kebesaran tak menampakkan lekukan pada tubuh yang entah seperti apa. Seluruh tubuh di tutup yang hanya menyisakan tangan serta wajah. Tak ada satupun yang dapat Husein lihat selain itu.


TBC


__ADS_2