SUAMI PILIHAN ABI

SUAMI PILIHAN ABI
SPA 14


__ADS_3

"Maafkan aku, Ayah."


"Jangan sama Ayah minta maaf Sein, tapi mintalah maaf kepada istri kamu,"


Husein menggeleng. "Tidak Yah, maafkan aku yang tidak bisa menerima kehadirannya di hati aku. Berat rasanya Yah, aku tidak bisa,"


Hamzah menatap putranya sedih. "Apakah segitu susahnya kamu membuka hati untuk wanita pilihan Ayah, Sein? Tak bisakah kamu melihat betapa tulusnya dia menerima kamu di saat hatinya juga tidak menginginkan hal itu? Tidak bisakah kamu menilainya selama kamu tinggal bersama dengan dirinya Sein?"


"Maafkan aku, Ayah. Aida memang wanita yang baik, tapi jujur saja hati aku tidak tersentuh sedikitpun untuknya. Aku hanya mencintai Sinta, Ayah. Tak ada wanita lain yang bisa membuat aku secinta ini," ungkap Husein jujur.


"Apa kamu yakin jika dia juga mencintai kamu seperti kamu mencintai wanita itu Sein? Tak pernah kah kamu mencurigai wanita itu yang datang ke club malam bersama dengan teman lelakinya?"


"Aku yakin 100 persen jika Sinta juga mencintai aku sepenuhnya Yah. Aku percaya Sinta bukan gadis seperti itu. Gadis yang sudah masuk ke club malam. Karena aku selalu bersamanya Yah." ucap Husein kemih keyakinan.


Hamzah menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Ayah tidak akan memaksa kamu Sein. Tapi ingat, Bunda belum tahu jika kamu masih dekat dengan wanita itu, jika suatu saat Bunda tahu maafkan Ayah yang tidak akan membantu kamu Sein,"


"Iya Ayah tidak apa."


"Satu lagi, kamu tahu apa konsekuensi jika kamu masih bersama wanita itu bukan? Kamu tahu apa yang akan terjadi kepada kamu kan Sein?" Hamzah menatap putranya yang kini tengah mematung.


"Ta-tapi Yah---"


"Untuk sekarang mungkin masih kamu yang mengelola perusahaan tapi, jika berita ini sampai ke telinga Bunda, siap-siap kamu akan di tentang dari harta warisan. Ayah angkat tangan Sein untuk tidak membantu kamu, Nak,"


"Apa tidak bisa aku memilih masa depanku sendiri Yah? Aku ingin bahagia dengan pilihan aku, Yah," Husein menatap Hamzah memohon.


"Tidak bisa Sein. Ayah dan Bunda sudah memilihkan yang terbaik untuk kamu. Yakinlah Nak, suatu saat kamu akan berterima kasih pada kami karena telah memilihkan Aida sebagai istri untuk kamu, Nak. Itupun jika kamu tidak menyia-nyiakan istri sebaik Aida,"


Hamzah meninggalkan Husein tanpa mau mendengar ucapan anaknya. Hamzah marah, ya dia sangat marah saat mengetahui jika putranya itu masih saja berhubungan dengan wanita yang tidak dia sukai. Wanita yang silau akan harta. Wanita yang sering memasuki tempat haram dan wanita yang sering keluar malam bersama laki-laki yang berbeda. Bahkan paling parahnya lagi wanita itu sering memasuki hotel bersama teman prianya.


Dari mana Hamzah tahu itu, karena Hamzah pernah memergoki kelakukan Kakashi putranya itu berkali-kali termasuk dengan istrinya. Jika saja mereka tidak tahu kelakuan wanita itu, mungkin saja mereka sudah merestui Husein menikah dengannya.


"Aaaaarrrrggggg!!!!!" Husein menendang angin dengan kuat. Melampiaskan rasa marahnya pada benda yang tak bisa dia gapai.

__ADS_1


******


"Kau tidur di sofa!!" bentak Husein saat melihat Aida yang hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


Tak banyak bicara Aida mengikuti apa yang diinginkan suaminya. Meraih salah satu bantal milik Husein dan membawanya ke sofa.


Setelah itu mengambil selimut di dalam lemari untuk menghangatkan tubuhnya.


Aida terbangun pada sepertiga malam tepatnya pada pukul tiga dini hari. Kebetulan masa bulanannya sudah selesai tadi sore maka dari itu Aida melaksanakan sholat tahajjud yang biasa gadis itu lakukan. Mengelar sajadah pada lantai marmer dingin.


"Ya Allah, engkau zat yang membolak-balikkan hati, hamba mohon bukalah pintu hati suami hamba untuk menerima kehadiran hamba dan juga pernikahan kami, ya Allah. Sama halnya dengan hamba yang sudah menerima dengan ikhlas takdir yang engkau gariskan. Bukalah pintu hatinya untuk segera bertaubat kepada-Mu ya Allah. Jauhkanlah suami hamba dari tumpukan dosa yang saat ini masih di gelutinya. Hamba mohon ya Allah, hanya engkau tempat hamba meminta dan memohon pertolongan." Aida menutup do'anya dengan mengusapkan kedua telapak tangannya ke seluruh wajahnya.


Selanjutnya Aida mengambil kitab suci Al-Quran yang Aida letakkanlah di atas meja kecil. Membuka lembaran Al-Quran yang sudah Aida tandai. Suara merdu itu memenuhi kamar Husein membuat laki-laki itu terusik dengan suara yang keluar dari mulut Aida.


Husein membuka matanya perlahan. Menatap wanita yang menggunakan mukenah putih itu dengan pandangan yang masih agak buram. Mulut itu terkunci saat ingin menyuruhnya untuk berhenti karena, menurut Husein berisik dan menganggu waktu istirahatnya.


Husein terus memperhatikan dan mendengar suara istrinya yang kian merdu di telinga Husein, bahkan rasa marah yang tadi menyelimutinya berganti rasa damai, aman dan tenteram. Hingga Aida menyudahi membaca ayat suci itu.


'Astaga mau apa dia?" pertanyaan itu muncul di hati Husein.


Tangan mulus Aida dirasakan Husein di pipinya. tangan itu mengelus wajahnya dengan begitu lembut. "Surean ma waqae zawji fi hubiy , laqad badat 'uhibuk bisabab Allah," ucap Aida tepat di telinga Husein.


Hembusan nafas Aida terasa begitu hangat di telinga Husein membuat Husein yang tidak tidur itu merinding. Setelahnya Husein mendapatkan ciuman dari istrinya tepat pada dahinya. Cukup lama Aida mendaratkan bibirnya pada dahi Husein.


Husein menatap istrinya yang kembali ke sofa tempat di mana dirinya semalam mengistirahatkan tubuh lelahnya. Husein tak melihat Aida kembali tertidur melainkam menghafal ayat-ayat Al-Qur'an yang jelas terlihat dari gerakan bibirnya serta Al-Qur'an yang berada di pangkuan istrinya itu.


"Mas bangun dulu yuk, sholat subuh." Aida berusaha membangunkan Husein yang kembali terlelap tepat jam setengah empat.


"Mas, yuk kita sholat berjamaah,"


"Berisik!!! Pergi sana!!" bentak Husein membuat Aida cukup terkejut.


Aida memilih tak lagi menganggu waktu tidur suaminya. Aida lebih memilih untuk sholat sebelum waktu subuh habis. Belum lagi Aida akan memasak sarap pagi.

__ADS_1




"Masak apa nih Ai?" Fatimah menghampiri menantunya yang tengah sibuk memasak di dapur.



"Nasi goreng sama telur ceplok Bun. Maaf ya Bun, aku belum kepasar jadi persediaan bahan masakan hanya tinggal telur saja." ucap Aida tidak enak. Rencananya memang hari ini Aida akan pergi ke pasar.



"Tidak apa-apa Ai, ini saja rasanya sudah alhamdulillah banget. Yang terpenting itu masih ada yang bisa kita makan," Fatimah tersenyum menatap menantunya itu. Tak terlihat sedikitpun jika menantunya itu gila akan harta. Bahkan dari tutur katanya yang lembut serta sikapnya yang seperti ini membuat Fatimah sangat menyayangi menantunya.



"Alhamdulillah kalau gitu Bun, rencana nanti siang aku akan ke pasar untuk membeli persediaan." Aida meletakkan nasi goreng itu diatas meja makan.



"Ya sudah nanti Bunda akan ikut kamu kepasar Ai, sudah lama Bunda tidak pergi ke pasar."



"Apa Bunda tidak apa-apa kalau hanya kepasar? Kalau Bunda tidak merasa nyaman kita bisa belanja di supermarket,"



"Tidak apa-apa kok Ai, lagian dulu Bunda juga sering belanja di pasar karena, dari bahan-bahan yang di jual disana sudah pasti baru. Contohnya saja ikan, ikan di tangkap pada hari yang sama berbeda dengan di supermarket yang jelas bahan-bahannya sudah beberapa hari di dalam tempat pendingin. Dan juga di pasar harganya juga lebih terjangkau dari pada di supermarket yang kebanyakan mahal." jelas Fatimah yang di angguki Aida.



TBC

__ADS_1


__ADS_2